Kronologi Ribuan Dokumen Kasus Jeffrey Epstein Dirilis, Seret Nama Pesohor Dunia
Publik internasional kembali diguncang setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) merilis ribuan dokumen terkait kasus mendiang Jeffrey Epstein. Epstein merupakan terpidana kejahatan seksual yang kasus serta kematiannya pada 2019 memicu kontroversi luas dan berbagai spekulasi.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Publik internasional kembali diguncang setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) merilis ribuan dokumen terkait kasus mendiang Jeffrey Epstein. Epstein merupakan terpidana kejahatan seksual yang kasus serta kematiannya pada 2019 memicu kontroversi luas dan berbagai spekulasi.
Dokumen yang dirilis mencakup laporan FBI, korespondensi email, catatan internal penyelidikan, hingga ringkasan wawancara para saksi yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Perilisan berkas rahasia tersebut dilakukan sebagai bagian dari komitmen transparansi pemerintah Amerika Serikat dalam membuka arsip salah satu kasus hukum paling disorot dalam sejarah modern negeri itu.
Tak lama setelah dirilis, dokumen yang kerap disebut sebagai Epstein Files langsung menyedot perhatian publik. Sejumlah nama pesohor dunia ikut terseret, mulai dari tokoh politik, pebisnis, hingga figur publik ternama. Nama mantan Presiden AS Donald Trump bahkan disebut berulang kali, terutama dalam konteks pergaulan sosial Epstein dengan kalangan elite politik dan bisnis Amerika pada era 1990-an hingga awal 2000-an.
Awal Terungkapnya Kasus
Kasus Jeffrey Epstein pertama kali dilaporkan pada 1996 oleh seorang perempuan bernama Maria Farmer. Ia mengaku dirinya dan sang adik, Annie, menjadi korban pelecehan seksual Epstein. Saat itu, Farmer dan adiknya yang masing-masing berusia 16 dan 12 tahun bekerja sebagai seniman profesional yang dipekerjakan Epstein untuk proyek seni dan fotografi.
Dalam dokumen investigasi terbaru, tercatat keterangan bahwa Epstein pernah meminta seorang saksi untuk mengambil foto gadis-gadis kecil di kolam renang. Berkas tersebut juga mencatat adanya ancaman dari Epstein agar korban tidak melapor, termasuk ancaman pembakaran rumah. Meski Farmer berulang kali melaporkan kejadian tersebut kepada penyelidik federal, laporan itu tak pernah ditindaklanjuti secara terbuka selama bertahun-tahun.
Kasus Mencuat Kembali pada 2005
Perhatian serius terhadap kasus Epstein baru muncul pada 2005, ketika polisi Palm Beach, Florida, menerima laporan dari keluarga seorang remaja perempuan berusia 14 tahun. Penyelidikan kemudian mengungkap pola serupa pada sejumlah korban lain, di mana para remaja direkrut dengan dalih pijat dan diberi uang setelah pertemuan.
Pada Mei 2006, kepolisian Palm Beach menyiapkan dakwaan terhadap Epstein atas sejumlah tuduhan hubungan seksual ilegal dengan anak di bawah umur. Namun, kasus tersebut diserahkan kepada jaksa negara bagian Florida, Barry Krischer. Pada Juli 2006, Epstein ditangkap dan didakwa meminta layanan prostitusi, dakwaan yang dinilai relatif ringan dan memicu kritik keras karena dianggap sebagai bentuk perlakuan khusus.
Pada Juni 2008, Epstein mengaku bersalah atas dua tuduhan, yakni meminta jasa prostitusi dan meminta jasa prostitusi dari anak di bawah umur. Ia dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, namun sebagian besar masa hukumannya dijalani melalui program pembebasan kerja. Epstein bahkan dibebaskan lebih awal pada Juli 2009.
Pada 2019, Epstein kembali ditangkap oleh jaksa federal New York atas tuduhan perdagangan seks. Namun, sebulan kemudian ia ditemukan tewas di dalam sel penjara. Kematian tersebut dinyatakan sebagai bunuh diri, meski memicu berbagai teori konspirasi dan kecurigaan publik.
Minat publik terhadap kasus ini kembali meningkat pada 2024 setelah pengadilan membuka lebih banyak dokumen gugatan perdata. Situasi semakin memanas ketika pada awal 2025, Jaksa Agung AS Pam Bondi menyebut adanya dugaan “daftar klien” Epstein, meski klaim tersebut kemudian dibantah oleh DOJ.
Pembukaan Arsip dan Nama-Nama Besar
Pada November 2025, Kongres AS mengesahkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein, yang membuka jalan bagi publikasi dokumen tambahan. Sejumlah korespondensi Epstein dengan tokoh-tokoh terkenal pun ikut terungkap.
Dokumen-dokumen tersebut memuat detail mengerikan mengenai cara Epstein beroperasi, termasuk catatan bahwa ia secara sengaja memastikan para korbannya masih di bawah umur. Bahkan, terdapat catatan penyelidik yang mengungkap preferensi diskriminatif Epstein terhadap ciri fisik korban.
Nama mantan Presiden AS Bill Clinton muncul beberapa kali dalam berkas, termasuk dalam foto yang menunjukkan dirinya berada di sebuah hot tub bersama seorang perempuan yang wajahnya disamarkan. Juru bicara Clinton menegaskan bahwa Clinton telah lama memutus hubungan dengan Epstein sebelum kejahatan tersebut terungkap.
Selain Clinton, dokumen juga memuat nama-nama lain seperti Elon Musk, Donald Trump, Bill Gates, hingga Pangeran Andrew. Meski demikian, kemunculan nama-nama tersebut dalam dokumen tidak serta-merta berarti mereka didakwa atau terbukti terlibat dalam kejahatan Epstein, karena sebagian hanya disebut sebagai kontak atau kenalan.
Perilisan ribuan dokumen ini kembali membuka luka lama sekaligus memicu perdebatan global mengenai keadilan, kekuasaan, dan perlindungan terhadap korban kejahatan seksual, khususnya yang melibatkan figur-figur berpengaruh dunia.