Laporan CSIS: AS Habiskan Rp64 Triliun dalam 100 Jam Operasi Militer ke Iran
Perang yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran ternyata menguras biaya luar biasa besar. Dalam 100 jam pertama operasi militer, anggaran yang digelontorkan Washington diperkirakan mencapai 3,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp64,2 triliun.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Perang yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran ternyata menguras biaya luar biasa besar. Dalam 100 jam pertama operasi militer, anggaran yang digelontorkan Washington diperkirakan mencapai 3,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp64,2 triliun.
Perhitungan tersebut disampaikan lembaga riset strategis Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington DC. Lembaga itu memperkirakan biaya perang mencapai sekitar 891,4 juta dolar AS per hari, setara hampir Rp15 triliun.
CSIS juga memperingatkan bahwa biaya tersebut bisa terus membengkak jika konflik berlangsung lebih lama. Apalagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengindikasikan perang terhadap Iran berpotensi berlangsung selama berminggu-minggu.
Dalam laporannya, CSIS menjelaskan bahwa biaya pada tahap awal perang cenderung sangat tinggi karena penggunaan persenjataan canggih dalam serangan udara.
“Biaya amunisi akan menurun seiring Amerika Serikat beralih ke amunisi berbiaya lebih rendah,” tulis laporan tersebut.
Namun lembaga itu menegaskan, meskipun biaya persenjataan bisa berkurang, beban keuangan yang tidak dianggarkan tetap akan sangat besar. Hal ini berpotensi memaksa Departemen Pertahanan AS mencari tambahan dana baru karena memotong anggaran internal untuk membiayai konflik dinilai sulit secara politik maupun operasional.
Serangan militer AS ke Iran sendiri dilakukan karena pemerintahan Trump menilai Teheran menjadi ancaman bagi keamanan Amerika. Namun keputusan tersebut menuai kritik dari berbagai pihak yang menilai Washington hanya mengikuti kepentingan Israel.
Agresi militer tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Di sisi lain, militer Israel memberi sinyal bahwa operasi gabungan terhadap Iran akan terus meningkat. Panglima militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir bahkan menyebut kampanye militer akan memasuki “fase berikutnya” yang bertujuan menghancurkan kemampuan militer Iran.
“Kita memiliki kejutan tambahan di depan yang tidak akan saya ungkapkan,” kata Zamir dalam pernyataan yang disiarkan televisi.
Pernyataan itu muncul ketika gelombang serangan baru dilaporkan mengguncang Teheran pada Jumat dini hari.
Meski serangan udara terus dilakukan, Trump menegaskan Amerika Serikat tidak berencana mengirim pasukan darat ke Iran.
“Itu buang-buang waktu. Mereka telah kehilangan segalanya. Mereka telah kehilangan angkatan laut mereka. Mereka telah kehilangan semua yang bisa mereka hilangkan,” ujar Trump kepada stasiun televisi NBC melalui sambungan telepon.
Trump juga menepis peringatan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menyebut pengerahan pasukan asing ke wilayah Iran akan berakhir dengan bencana bagi pihak penyerbu.
Di tengah konflik yang terus memanas, laporan CNN menyebut para penasihat Trump tengah berupaya membujuknya untuk segera mendeklarasikan kemenangan.
Trump disebut berharap keberhasilan awal operasi militer dapat meningkatkan dukungan publik. Namun para pembantunya khawatir konflik yang berkepanjangan justru bisa menimbulkan risiko politik bagi presiden AS tersebut.
Laporan itu juga menyebut perang melawan Iran bahkan memicu perpecahan di dalam gerakan politik MAGA yang menjadi basis pendukung Trump.
Konflik ini bermula pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei gugur dalam serangan tersebut.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, memperluas potensi eskalasi konflik di kawasan tersebut.