Jakarta, INDONEWS.ID - Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi terbaru kepada warga Palestina di Jalur Gaza tengah, tepatnya di wilayah Deir el-Balah. Langkah ini menandai perluasan operasi militer terhadap kelompok Hamas ke wilayah yang sebelumnya belum pernah dijadikan target operasi langsung.
Peringatan evakuasi diumumkan oleh juru bicara militer Israel untuk media Arab, Avichay Adraee, melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter). Ia meminta seluruh warga sipil dan pengungsi di Deir el-Balah untuk segera mengungsi ke arah selatan, menuju zona aman di al-Mawasi di pesisir Mediterania.
“Israel memperluas aktivitasnya di sekitar Deir el-Balah, termasuk di kawasan yang belum pernah dioperasikan sebelumnya,” tulis Adraee, seraya menekankan bahwa evakuasi ini demi keselamatan warga sipil.
Konflik di Gaza kini memasuki bulan ke-22 sejak meletus pada Oktober 2023. Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), lebih dari 80 persen wilayah di Jalur Gaza hingga Januari 2025 masih berada di bawah perintah evakuasi aktif. Mayoritas dari lebih dua juta penduduk Gaza telah mengalami pengungsian berulang kali akibat serangan dan perintah evakuasi dari militer Israel.
Sementara itu, keluarga dari para sandera Israel yang masih ditahan Hamas menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap keselamatan orang-orang tercinta. Mereka menilai bahwa perluasan operasi militer justru dapat membahayakan nasib para sandera.
Dalam pernyataan melalui kelompok kampanye, keluarga mendesak pemerintah Israel untuk memberikan transparansi mengenai operasi militer tersebut, khususnya bagaimana pemerintah berencana melindungi para sandera.
Dari total 251 orang yang disandera pada serangan Hamas 7 Oktober 2023, tercatat 49 orang masih berada di Gaza. Militer Israel memperkirakan 27 di antaranya telah tewas. Saat ini, perundingan tidak langsung antara delegasi Israel dan Hamas tengah berlangsung, membahas kemungkinan gencatan senjata selama 60 hari dan pembebasan setidaknya 10 sandera.
Di sisi lain, ketegangan terus meningkat. Menurut laporan badan pertahanan sipil Gaza kepada AFP, serangan udara Israel pada Sabtu malam menewaskan sedikitnya tujuh orang di Kota Gaza dan beberapa wilayah selatan.
Militer Israel juga mengklaim peningkatan operasi darat di wilayah Jabalia, Gaza utara. Dalam pernyataan resmi, pasukan Israel melaporkan telah menewaskan puluhan anggota kelompok bersenjata dan menghancurkan berbagai infrastruktur milik Hamas. Salah satu temuan utama adalah terowongan bawah tanah sepanjang 2,7 kilometer dan sedalam sekitar 20 meter, yang kemudian dihancurkan.
Aksi unjuk rasa turut berlangsung di Tel Aviv pada Sabtu. Keluarga korban sandera mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk segera mengambil langkah konkret dalam memulangkan para sandera serta mengupayakan penghentian konflik yang terus menelan korban sipil.