indonews

indonews.id

Kisah Tangguh Perempuan Binaan PNM: Bertahan Demi Keluarga dan Harapan dari Ojol hingga Sopir Taksi

Air mata Triyulianti kerap tak terbendung setiap kali mengingat empat anaknya yang masih kecil. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia harus menguatkan hati mencari nafkah sebagai pengemudi ojek online, bahkan ketika bayinya baru berusia tiga bulan.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Air mata Triyulianti kerap tak terbendung setiap kali mengingat empat anaknya yang masih kecil. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia harus menguatkan hati mencari nafkah sebagai pengemudi ojek online, bahkan ketika bayinya baru berusia tiga bulan.

“Setiap hari saya harus meninggalkan anak saya yang masih umur tiga bulan,” ujarnya lirih.

Perjuangan serupa juga dijalani Novi, seorang pengemudi taksi yang menyusuri jalanan ibu kota sejak subuh hingga larut malam demi membesarkan anak semata wayangnya. Tekadnya sederhana, namun kuat: memberikan kehidupan yang lebih baik bagi sang anak.

“Apa pun akan saya lakukan untuk anak saya,” kata Novi dengan suara bergetar.

Kisah Triyulianti dan Novi mencerminkan realitas jutaan perempuan Indonesia yang memikul beban ekonomi keluarga. Mereka tak hanya berperan sebagai ibu, tetapi juga menjadi tulang punggung, menopang penghasilan keluarga yang tak menentu, bahkan membantu orang tua dan saudara.

Di tengah perjuangan tersebut, hadir PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang membuka peluang kemandirian bagi perempuan prasejahtera melalui program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera). Program ini tidak sekadar memberikan akses permodalan, tetapi juga membangun kapasitas dan karakter usaha perempuan.

PNM menawarkan tiga pilar utama bagi para nasabahnya, yakni pendampingan usaha secara rutin, pembiayaan tanpa agunan, serta pelatihan literasi keuangan dan keterampilan wirausaha. Pendampingan dilakukan setiap minggu untuk memastikan usaha yang dijalankan berkembang secara berkelanjutan.

Salah satu kekuatan program ini terletak pada sistem kelompok kecil atau tanggung renteng. Setiap kelompok terdiri dari sedikitnya 10 perempuan dalam satu lingkungan yang sama, yang saling mendukung dan bertanggung jawab secara kolektif.

Model ini tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pembiayaan, tetapi juga menjadi ruang solidaritas. Ketika satu anggota menghadapi kesulitan, anggota lain turut membantu, didampingi oleh petugas lapangan PNM.

Selain itu, dalam skema Mekaar Syariah, pembiayaan dijalankan berdasarkan prinsip syariah tanpa bunga, menggunakan akad seperti murabahah, wakalah, dan wadiah sesuai ketentuan Dewan Syariah Nasional MUI. Meski demikian, sistem pendampingan dan pola kelompok tetap menjadi fondasi utama.

Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, menegaskan bahwa selama 26 tahun, PNM telah menjalankan mandat negara untuk menghadirkan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat prasejahtera.

“Selama 26 tahun PNM diberikan mandat oleh negara untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat Indonesia, khususnya prasejahtera,” ujarnya.

Sementara itu, EVP Pengembangan & Jasa Manajemen PNM, Razaq Manan Ahmad, menekankan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan.

“Stronger the women, stronger the nation. Perempuan merupakan motor penggerak utama dalam menciptakan kemajuan ekonomi dan sosial,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa sebagian besar pembiayaan PNM telah berbasis syariah, disertai pendampingan intensif agar para nasabah mampu berkembang secara terarah dan memberikan dampak luas.

Kisah-kisah seperti Triyulianti dan Novi menjadi bukti nyata bahwa di balik kerasnya kehidupan, perempuan Indonesia terus melangkah dengan keteguhan hati—tidak sekadar bertahan, tetapi juga menyalakan harapan bagi masa depan keluarga mereka.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas