Intelijen AS: China Diduga Siapkan Pengiriman Senjata ke Iran, Beijing Membantah Keras
Intelijen Amerika Serikat mengungkap indikasi kuat bahwa China tengah bersiap mengirimkan sejumlah sistem persenjataan ke Iran, di tengah berlangsungnya upaya negosiasi antara Teheran dan Washington di Islamabad, Pakistan.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Intelijen Amerika Serikat mengungkap indikasi kuat bahwa China tengah bersiap mengirimkan sejumlah sistem persenjataan ke Iran, di tengah berlangsungnya upaya negosiasi antara Teheran dan Washington di Islamabad, Pakistan.
Seorang sumber intelijen AS yang enggan disebutkan namanya kepada CNN menyebutkan bahwa Beijing kemungkinan akan mengirim rudal pertahanan udara anti-rudal serta jet tempur ke Iran dalam beberapa pekan mendatang.
Langkah tersebut dinilai berpotensi memicu provokasi, terlebih China sebelumnya menyatakan kesediaannya untuk memediasi proses negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Situasi ini juga beririsan dengan agenda diplomatik tingkat tinggi, di mana Presiden AS Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.
Sumber intelijen memperingatkan bahwa Iran berpotensi memanfaatkan momentum gencatan senjata untuk memperkuat kembali sistem persenjataannya dengan bantuan negara sekutu.
Dua sumber lainnya juga mengungkapkan adanya indikasi bahwa China berupaya menyalurkan pengiriman tersebut melalui negara ketiga guna menyamarkan asal usul persenjataan.
Adapun sistem yang disiapkan disebut mencakup rudal anti-pesawat portabel atau Man Portable Air Defence System (MANPAD). Teknologi ini dinilai dapat menimbulkan ancaman asimetris terhadap pesawat militer AS yang beroperasi pada ketinggian rendah, terutama jika konflik kembali memanas setelah gencatan senjata berakhir.
Menanggapi tudingan tersebut, pemerintah China langsung memberikan bantahan tegas. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington menyatakan bahwa informasi yang beredar tidak benar.
“China tidak pernah memberikan senjata kepada pihak mana pun dalam konflik. Informasi yang dimaksud tidak benar,” tegas pernyataan resmi tersebut.
Pihaknya juga menegaskan bahwa China sebagai negara besar bertanggung jawab senantiasa mematuhi kewajiban internasional, serta mendesak Amerika Serikat untuk tidak melontarkan tuduhan tanpa dasar yang dapat memperkeruh situasi.
“ Kami berharap semua pihak dapat berkontribusi dalam meredakan ketegangan, bukan sebaliknya,” lanjut pernyataan tersebut.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah pun berpotensi kembali meningkat jika laporan ini terbukti benar, terlebih di tengah situasi diplomasi yang masih berlangsung dan rentan terhadap eskalasi baru.*