Jakarta, INDONEWS.ID - Media Israel melaporkan bahwa pemerintah Israel mencapai kesepahaman dengan Amerika Serikat untuk memisahkan front konflik Lebanon dan Iran dalam skema gencatan senjata. Kesepahaman ini membuka jalan bagi militer Israel untuk tetap melanjutkan operasi serangan di wilayah Lebanon, khususnya di pinggiran selatan Beirut dan kawasan selatan negara itu.
Laporan media Yedioth Ahronoth menyebutkan adanya kesepakatan antara kepemimpinan politik di Washington dan Tel Aviv guna memisahkan dua front konflik tersebut. Dengan demikian, gencatan senjata yang diumumkan tidak mencakup wilayah Lebanon.
Pada Rabu, Israel melancarkan salah satu serangan terbesar ke Lebanon, bertepatan dengan pengumuman gencatan senjata sementara di Iran oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Berbeda dengan klaim Iran dan Pakistan yang menyebut Lebanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata, Israel secara tegas menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak berlaku untuk Lebanon.
Sumber keamanan Israel yang dikutip media setempat juga menyebutkan bahwa estimasi terbaru menunjukkan kelompok Hizbullah memiliki lebih dari 15.000 anggota.
Sementara itu, Kepala Staf militer Israel Eyal Zamir menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon akan terus berlanjut tanpa henti. Ia menekankan bahwa setiap peluang akan dimanfaatkan untuk memperkuat keamanan wilayah utara Israel dengan tetap menargetkan Hizbullah.
Otoritas Penyiaran Israel juga melaporkan bahwa kabinet keamanan telah menggelar rapat hingga dini hari untuk membahas rincian gencatan senjata dengan Iran, termasuk keputusan mengecualikan Lebanon dari kesepakatan tersebut.
Di sisi lain, Menteri Israel Ze`ev Elkin mengklaim bahwa serangan terbaru telah memberikan pukulan besar terhadap Hizbullah. Ia menyebut ratusan anggota dan pemimpin kelompok itu tewas serta sejumlah gudang senjata berhasil dihancurkan. Elkin juga mengungkapkan bahwa Israel telah membangun sabuk keamanan hingga Sungai Litani di Lebanon selatan.
Di lapangan, serangan Israel terus berlanjut sejak Kamis dini hari dengan menyasar berbagai wilayah di Lebanon selatan dan pinggiran Beirut, termasuk Dahiyeh, Safad al-Batikh, Majdal Selm, Shaqra, Khirbet Selm, Al-Jumaijmah, dan Deir Antar. Serangan udara juga dilaporkan menghantam kawasan Laylaki-Kafaat, dengan dentuman terdengar hingga ke seluruh ibu kota Beirut.
Menurut data Direktorat Pertahanan Sipil Lebanon, jumlah korban akibat serangan Israel pada Rabu mencapai 254 orang tewas dan 1.165 luka-luka. Secara keseluruhan, sejak 2 Maret, korban agresi Israel di Lebanon tercatat mencapai 1.739 orang meninggal dunia dan 5.873 lainnya mengalami luka-luka.
Pemerintah Lebanon menetapkan Kamis sebagai hari berkabung nasional untuk para korban. Sebagai respons, Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Galilea Atas di Israel utara pada Kamis pagi.
Hizbullah menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Mereka menegaskan bahwa aksi perlawanan akan terus berlanjut hingga agresi terhadap Lebanon dihentikan.
Kelompok itu juga mengklaim telah menyerang pasukan Israel menggunakan drone serta menargetkan kendaraan lapis baja Namer dengan rudal di wilayah Taybeh, Lebanon selatan.*