Jakarta INDONEWS.ID – Konflik geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tak hanya memanaskan situasi militer, tetapi juga memicu pergeseran besar dalam peta ekonomi global.
Gangguan di Selat Hormuz—yang merupakan jalur vital distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia—menyebabkan lonjakan harga energi global. Namun di tengah tekanan tersebut, Rusia justru menjadi pihak yang diuntungkan.
Berdasarkan perhitungan data Reuters, pendapatan pajak minyak Rusia diperkirakan melonjak hingga 700 miliar rubel atau setara 9 miliar dolar AS pada April 2026, lebih dari dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak dunia setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent bahkan menembus 100 dolar AS per barel, menciptakan krisis energi yang disebut sebagai salah satu yang paling serius dalam beberapa dekade terakhir.
Dalam situasi ini, Rusia sebagai salah satu eksportir energi terbesar dunia tidak perlu terlibat langsung dalam konflik untuk meraih keuntungan strategis. Lonjakan harga minyak secara otomatis meningkatkan penerimaan negara, sekaligus mendorong permintaan global terhadap energi Rusia di tengah terbatasnya pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, dampak negatif justru dirasakan oleh Amerika Serikat. Harga bensin nasional dilaporkan melampaui 4 dolar AS per galon, bahkan mendekati 6 dolar AS per galon di beberapa wilayah seperti California. Kondisi ini berpotensi menjadi tekanan politik bagi Presiden Donald Trump.
Kenaikan harga energi tersebut mencerminkan gangguan serius dalam rantai pasok global. Bahkan setelah adanya pengumuman gencatan senjata sementara, harga bahan bakar belum menunjukkan penurunan signifikan.
Analisis dari Goldman Sachs memperingatkan, jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung selama satu bulan, harga minyak berpotensi bertahan di atas 100 dolar AS per barel sepanjang tahun. Dalam skenario ekstrem, harga bahkan bisa menembus 120 dolar AS per barel, yang berisiko memicu inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Selain itu, lebih dari 180 kapal tanker yang mengangkut sekitar 172 juta barel minyak dilaporkan tertahan di Teluk, menunggu kepastian keamanan. Situasi ini diperparah oleh kebijakan Iran yang mengarahkan jalur pelayaran di bawah pengawasan militernya, membuka kemungkinan pengenaan biaya transit tambahan.
Dalam konteks geopolitik, kondisi ini menunjukkan bahwa kendali atas jalur distribusi energi menjadi instrumen kekuatan yang sangat strategis.
Meski diuntungkan, Rusia juga menghadapi tantangan internal. Defisit anggaran sebesar 4,58 triliun rubel pada kuartal pertama 2026 menunjukkan tekanan ekonomi domestik masih berlangsung. Selain itu, serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia turut menjadi ancaman bagi stabilitas produksi.
Situasi ini menegaskan bahwa konflik modern tidak hanya ditentukan di medan perang, tetapi juga di pasar energi global. Rusia memanfaatkan momentum, Amerika Serikat menghadapi tekanan domestik, sementara Iran memegang kendali atas jalur distribusi energi dunia.