indonews

indonews.id

Kepercayaan Dan Masa Depan Peradapan: Dari Halal Bihalal Ke Struktur Kendali Dunia

Kepercayaan Dan Masa Depan Peradapan: Dari Halal Bihalal Ke Struktur Kendali Dunia

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol

Ada satu kekuatan yang tidak terlihat, tetapi menentukan arah sejarah.
Ia tidak tercatat dalam laporan ekonomi.

Tidak muncul dalam struktur organisasi.

Tidak dapat diukur secara pasti.

Namun ketika ia melemah, sistem mulai retak, institusi kehilangan daya, dan peradaban perlahan kehilangan arah.

Kekuatan itu adalah kepercayaan.

I. ILUSI KEKUATAN MODERN

Dunia modern dibangun di atas tiga pilar utama: teknologi, kapital, dan organisasi.

Negara memperkuat pertumbuhan ekonomi.

Perusahaan mengejar efisiensi.

Institusi membangun struktur yang semakin kompleks.

Semua tampak kokoh.
Namun sejarah menunjukkan pola yang berulang:
banyak sistem runtuh bukan karena kekurangan sumber daya,
tetapi karena hilangnya kepercayaan di dalamnya.

Krisis keuangan global 2008 bukan sekadar kegagalan pasar, tetapi krisis kepercayaan terhadap sistem keuangan itu sendiri.¹

Keruntuhan Uni Soviet tidak hanya dipicu faktor ekonomi, tetapi erosi legitimasi dan kepercayaan publik.²

Di titik ini terlihat bahwa struktur dapat bertahan selama kepercayaan masih hidup—dan runtuh ketika ia hilang.

II. KEPERCAYAAN SEBAGAI INFRASTRUKTUR TAK TERLIHAT

Jika jalan raya adalah infrastruktur fisik, maka kepercayaan adalah infrastruktur sosial.

Ia menghubungkan individu, organisasi, dan negara dalam satu sistem yang memungkinkan kerja sama.

Tanpa kepercayaan:
biaya transaksi meningkat

konflik membesar

koordinasi melemah

Ekonomi modern menyebutnya sebagai biaya transaksi, yaitu biaya yang muncul karena ketidakpastian dan kecurigaan.³

Semakin rendah kepercayaan, semakin mahal biaya sistem.

Sebaliknya, masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi cenderung lebih stabil, produktif, dan inovatif.⁴

Dengan demikian:
kepercayaan bukan sekadar nilai moral,
tetapi fondasi ekonomi dan politik.

III. HALAL BIHALAL: MEKANISME LOKAL DALAM ARSITEKTUR GLOBAL

Dalam konteks ini, Nusantara memiliki satu praktik yang jarang dibaca secara strategis: halal bihalal.

Sering dipahami sebagai tradisi pasca Idul Fitri,
padahal dalam kedalaman maknanya, ia adalah:
mekanisme sosial untuk memulihkan dan menjaga kepercayaan.

Ia bukan forum formal.

Tidak memiliki struktur kekuasaan.

Tidak menghasilkan keputusan administratif.

Namun ia mampu melakukan sesuatu yang sering gagal dilakukan sistem formal:

memulihkan hubungan.

Dalam sejarah awal kemerdekaan, praktik ini digunakan sebagai ruang rekonsiliasi non-konfrontatif di tengah ketegangan politik.⁵

Tanpa tekanan, tanpa agenda resmi,
namun efektif meredakan konflik dan membuka kembali komunikasi.

Jika dilihat dalam perspektif global, halal bihalal sejajar dengan berbagai praktik rekonsiliasi di dunia:

dialog komunitas dalam masyarakat Afrika

konsensus informal dalam budaya Jepang

rekonsiliasi sosial pasca konflik di berbagai negara

Semuanya menunjukkan satu hal yang sama:

tidak ada sistem yang dapat bertahan tanpa mekanisme pemulihan kepercayaan.

IV. MODERNITAS DAN PARADOKS HUBUNGAN MANUSIA

Kita hidup di era dengan konektivitas tertinggi dalam sejarah manusia.

Komunikasi terjadi setiap saat.

Jaringan sosial meluas tanpa batas.

Namun paradoksnya:
semakin terhubung, manusia tidak selalu semakin percaya.

Fenomena ini dikenal sebagai menurunnya modal sosial,
di mana hubungan menjadi luas tetapi dangkal.⁶
Interaksi meningkat, tetapi kedalaman relasi menurun.

Dalam kondisi ini, sistem menjadi semakin kompleks,
tetapi fondasi sosialnya justru melemah.

V. KEKUASAAN DALAM ERA SISTEM

Hari ini, kekuasaan tidak lagi hanya berada pada negara atau individu.
Ia berada dalam sistem:

jaringan keuangan

infrastruktur digital

aliran energi

Namun semua sistem ini tetap bergantung pada satu hal yang sama:

kepercayaan.

Tanpa kepercayaan:
uang kehilangan nilai

institusi kehilangan legitimasi

teknologi kehilangan arah

Dengan demikian:
kekuasaan modern tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menguasai sumber daya,
tetapi oleh siapa yang mampu menjaga kepercayaan dalam sistem.

VI. INDONESIA DAN PILIHAN PERADABAN

Indonesia memiliki:
sumber daya melimpah

posisi strategis

populasi besar

Namun sejarah menunjukkan bahwa kekayaan tidak otomatis menghasilkan kekuatan.

Yang menentukan adalah:
kemampuan mengelola hubungan, menjaga kepercayaan, dan membangun sistem yang berakar pada keduanya.

Dalam sejarah Nusantara, kekuatan tidak hanya dibangun dari sumber daya,
tetapi dari jaringan kepercayaan yang menghubungkan berbagai komunitas.

Perdagangan berkembang bukan hanya karena komoditas,
tetapi karena reputasi dan kepercayaan.

Ini adalah warisan peradaban yang sering tidak disadari.

VII. MASA DEPAN: ANTARA SISTEM DAN MANUSIA

Peradaban masa depan akan ditentukan oleh dua hal:
kecanggihan sistem
kualitas hubungan manusia

Teknologi akan terus berkembang.

Sistem akan semakin kompleks.

Namun tanpa kepercayaan:
semua itu hanya menjadi struktur tanpa daya hidup.
Sebaliknya, dengan kepercayaan yang kuat,
sistem yang sederhana pun dapat bertahan dan berkembang.

PENUTUP: GARIS TAK TERLIHAT PERADABAN

Dalam setiap peradaban, selalu ada garis tak terlihat yang menentukan arah.
Ia tidak tercatat dalam angka.
Tidak tertulis dalam kebijakan.

Namun ia menentukan apakah sebuah sistem akan bertahan atau runtuh.

Garis itu adalah kepercayaan.

Dan dalam dunia yang semakin kompleks,
tantangan terbesar bukan hanya membangun sistem yang kuat,
tetapi menjaga agar manusia di dalamnya tetap saling percaya.

Karena pada akhirnya:
peradaban tidak runtuh karena kekurangan sumber daya,
tetapi karena kehilangan kepercayaan.

Jakarta,   April 2026

Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol

📚 CATATAN KAKI
Financial Crisis Inquiry Commission, The Financial Crisis Inquiry Report, 2011

Francis Fukuyama, Trust, 1995

Douglass C. North, Institutions and Economic Performance, 1990

World Bank, Social Capital Framework, 1998

Sejarah praktik halal bihalal pada masa awal kemerdekaan RI

Robert D. Putnam, Bowling Alone, 2000

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas