indonews

indonews.id

AS Bombardir Fasilitas Militer Iran Usai Klaim Perang Berakhir

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran, termasuk depot peluncuran rudal dan markas intelijen, meski sebelumnya pemerintah AS menyatakan perang dengan Teheran telah berakhir.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer Iran, termasuk depot peluncuran rudal dan markas intelijen, meski sebelumnya pemerintah AS menyatakan perang dengan Teheran telah berakhir.

Serangan tersebut dilaporkan dilakukan oleh US Central Command pada Kamis (7/5) di sejumlah titik strategis milik Iran.

Dalam pernyataannya di platform X, CENTCOM menyebut operasi itu dilakukan sebagai bentuk “serangan pertahanan diri” setelah kapal perang Amerika Serikat mendapat serangan saat melintas di kawasan Selat Hormuz menuju Teluk Oman.

“Pasukan AS mencegat serangan Iran yang tak beralasan dan membalas dengan serangan pertahanan diri saat kapal perusak rudal berpemandu milik Angkatan Laut AS melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Oman,” tulis CENTCOM.

Menurut mereka, pasukan Iran meluncurkan rudal, drone, dan kapal kecil ke arah tiga kapal perang AS, yakni USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason.

CENTCOM memastikan tidak ada aset militer AS yang mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Seorang pejabat AS mengungkapkan serangan udara itu menyasar sejumlah wilayah di Iran, termasuk Bandar Abbas dan Qeshm.

Sementara itu, juru bicara Angkatan Bersenjata Iran menyebut serangan AS juga terjadi di sepanjang pantai Pulau Qeshm, Bandar Khamir, dan Sirik.

Pihak Iran menuding Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak yang menuju pelabuhan Iran di kawasan Selat Hormuz.

Sebelumnya, AS dan Iran diketahui menyepakati gencatan senjata pada 8–22 April 2026. Kesepakatan tersebut kemudian diperpanjang tanpa batas waktu yang diumumkan ke publik.

Namun pada Selasa lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan operasi militer terhadap Iran yang diberi nama Operasi Epic Furry telah selesai.

“Operasi itu sudah selesai. Epic Furry, sebagaimana diberitahukan presiden ke Kongres, kami sudah menuntaskan tahap tersebut. Kami sudah mencapai tujuan operasi itu,” kata Rubio.

Pernyataan senada juga disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Meski demikian, pemerintah AS belum memberikan penjelasan terkait kemungkinan penarikan pasukan dari kawasan Timur Tengah.

Hingga kini, sekitar 50 ribu personel militer AS dilaporkan masih berada di kawasan tersebut.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas