indonews

indonews.id

MenLH Jumhur Hidayat Mendukung Pembahasan MoU G to G untuk Kerja Sama Hijau Indonesia-Kazakhstan-Tajikistan

MenLH Jumhur Hidayat Mendukung Pembahasan MoU G to G untuk Kerja Sama Hijau Indonesia-Kazakhstan-Tajikistan

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) Republik Indonesia, Jumhur Hidayat, mendukung rencana strategis Duta Besar RI untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan, Fadjroel Rachman, untuk  memulai pembahasan Nota Kesepahaman (MoU) antar pemerintah (Government to Government) yang melibatkan Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan. Rencana strategis ini merupakan tindak lanjut beberapa pertemuan di Kazakhstan dan Tajikistan tentang isu air, hilangnya gletser dan perubahan iklim serta Regional Ecological Summit 2026 di Kazakhstan.

Usai menerima kunjungan kerja Dubes Fadjroel di kantor Kementerian Lingkungan Hidup, MenLH Jumhur Hidayat menegaskan bahwa ketiga negara memiliki kesamaan visi dan misi yang sangat potensial untuk dikolaborasikan. 

“Praktis ketiga negara memiliki kesamaan tertentu dalam visi, misi dan rencana aksi, terkait perubahan iklim, air, pengelolaan sampah, green energy dan green investment yang melibatkan pihak BUMN, swasta, pemerintah pusat dan daerah seperti yang disampaikan Dubes Fadjroel seperti Waste to Energy atau (Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik), dekarbonisasi smelter, potensi PLTA raksasa seperti di Kayan Kalimantan Utara dan Mamberamo di Papua,” ujar MenLH Jumhur Hidayat.

MenLH Jumhur Hidayat menambahkan bahwa kesamaan agenda ini menjadi modal utama untuk membangun kerja sama selatan-selatan (South-South Cooperation on Environment) yang saling menguntungkan. “Kami tidak hanya berbicara di atas kertas. Kami sepakat dengan Pak Dubes untuk  merumuskan ruang lingkup MoU G to G yang akan mencakup transfer pengetahuan, investasi hijau, dan proyek percontohan,” tegasnya.

*Peluang PLTA Raksasa: Kayan dan Mamberamo*
Dubes RI, M. Fadjroel Rachman menambahkan bahwa salah satu poin penting yang disorot dalam pertemuan tersebut adalah potensi kerja sama pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala besar. Dubes Fadjroel mengingatkan bahwa hubungan bilateral di bidang air sebenarnya telah mulai dirintis 2024 oleh Presiden Jokowi.

“Terkait kerjasama PLTA, Presiden Jokowi pernah bertemu Perdana Menteri Tajikistan Kokhir Rasulzoda pada World Water Forum 2024 ke-10 di Bali. Potensi green economy ini dapat juga memanfaatkan Free Trade Agreement Indonesia - Eurasian Economic Union yang ditandatangani 21 Desember 2025 lalu,” tambah Dubes Fadjroel, "Tajikistan memiliki pengalaman teknis dalam pembangunan dan pengoperasian bendungan dan sistem hidroelektrik di kawasan pegunungan, yaitu Bendungan Norak dengan kapasitas terpasang 3.000 MW, dan Bendungan Rogun, bendungan tertinggi di dunia, dengan kapasitas terpasang direncanakan 3.780 MW."

*Langkah Konkret Selanjutnya*
Dubes Fadjroel mengharapkan berbagai pertemuan internasional, khususnya di Kazakhstan dan Tajikistan dapat dihadiri MenteriLH Jumhur Hidayat, termasuk The 2026 UN Water Conference di UAE  dan KTT Iklim PBB (UNFCCC COP31) 2026 di Turkiye. Selain itu, dapat juga dijajaki skema pendanaan inovatif melalui green investment yang melibatkan BUMN ketenagalistrikan dan badan usaha swasta dari ketiga negara.

“Ini bukan sekadar diplomasi biasa. Ini adalah action-oriented partnership. Dunia sedang bergerak cepat menuju energi hijau dan ekonomi sirkular. Indonesia, Kazakhstan, dan Tajikistan dapat bergerak bersama menuju dunia yang lebih baik,” pungkas Dubes Fadjroel.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas