Ibu Hamil di Tapsel Ditandu 6 Jam, Bobby Nasution Percepat Program Puskesmas Rawat Inap
Peristiwa memilukan dialami seorang ibu hamil asal Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tuty Daulay (20) harus ditandu warga selama lebih dari enam jam melewati jalan setapak menuju fasilitas kesehatan karena akses jalan di desanya tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Peristiwa memilukan dialami seorang ibu hamil asal Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tuty Daulay (20) harus ditandu warga selama lebih dari enam jam melewati jalan setapak menuju fasilitas kesehatan karena akses jalan di desanya tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.
Tuty yang hendak melahirkan dirujuk dari Desa Dalihan Natolu menuju rumah sakit dengan jarak sekitar 30 kilometer. Namun buruknya infrastruktur membuat proses evakuasi hanya dapat dilakukan secara manual menggunakan tandu melewati medan perbukitan dan jalan sempit.
Dalam video yang beredar di media sosial, tampak belasan warga bergantian memikul tandu yang membawa Tuty menyusuri jalan setapak menuju fasilitas kesehatan.
Setelah perjalanan panjang selama berjam-jam, Tuty akhirnya tiba di rumah sakit. Namun nahas, bayi yang dikandungnya dinyatakan meninggal dunia. Sementara kondisi Tuty dilaporkan selamat dan kini menjalani perawatan medis.
Menanggapi kejadian tersebut, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyampaikan belasungkawa dan memastikan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara akan mempercepat program peningkatan puskesmas rawat inap di daerah terpencil.
“Kami dari provinsi menyampaikan belasungkawa atas kejadian ini. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah bersama agar pelayanan kesehatan masyarakat dapat lebih mudah dijangkau,” ujar Bobby, Selasa (12/5).
Menurut Bobby, persoalan utama di wilayah terpencil bukan hanya minimnya fasilitas kesehatan, tetapi juga akses infrastruktur menuju layanan kesehatan yang masih sangat terbatas.
Karena itu, Pemprov Sumut mendorong peningkatan status puskesmas menjadi puskesmas rawat inap, khususnya di daerah yang berjarak lebih dari 30 kilometer dari rumah sakit.
“Puskesmas yang jaraknya lebih dari 30 kilometer dari rumah sakit kita dorong menjadi puskesmas rawat inap. Program ini sudah kita siapkan dan dipercepat mulai tahun ini,” katanya.
Bobby menjelaskan, pemerintah provinsi telah meminta pemerintah kabupaten dan kota melakukan pengecekan terhadap standar fasilitas puskesmas di masing-masing wilayah. Jika memenuhi standar pelayanan, Pemprov Sumut siap memberikan dukungan anggaran guna meningkatkan fasilitas dan layanan kesehatan.
“Standarnya sudah ada. Ketika sudah memenuhi standar, pemerintah provinsi akan membantu agar puskesmas tersebut bisa menjadi puskesmas rawat inap,” ujarnya.
Ia mengungkapkan program peningkatan puskesmas rawat inap sebenarnya direncanakan mulai 2027. Namun pelaksanaannya dipercepat tahun ini setelah adanya dukungan bantuan dari pemerintah pusat.
Selain peningkatan layanan kesehatan, Pemprov Sumut juga akan mendorong percepatan pembangunan infrastruktur jalan menuju wilayah terpencil agar akses masyarakat terhadap layanan kesehatan lebih mudah dan cepat.
“Kita bukan hanya mendorong programnya, tetapi juga menyiapkan dukungan keuangannya. Tinggal bagaimana kabupaten dan kota mengajukan sesuai kebutuhan daerahnya,” pungkas Bobby.