indonews

indonews.id

AS Disebut Sempat Siapkan Mahmoud Ahmadinejad Gantikan Ali Khamenei

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan sempat mempertimbangkan mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sebagai sosok yang akan memimpin Iran menggantikan Ayatollah Ali Khamenei setelah pecahnya perang antara Iran dengan koalisi AS-Israel.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan sempat mempertimbangkan mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sebagai sosok yang akan memimpin Iran menggantikan Ayatollah Ali Khamenei setelah pecahnya perang antara Iran dengan koalisi AS-Israel.

Laporan tersebut diungkap media Amerika Serikat The New York Times yang mengutip sejumlah pejabat Washington. Dalam laporan itu disebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel sempat menyiapkan skenario perubahan rezim di Iran, termasuk mempertimbangkan Ahmadinejad sebagai pemimpin transisi.

Menurut laporan tersebut, rencana itu menjadi bagian dari strategi bertahap Israel untuk menggulingkan pemerintahan teokratis Iran. Trump disebut sejak awal perang menginginkan sosok dari dalam Iran untuk mengambil alih pemerintahan.

Ahmadinejad dianggap sebagai pilihan tidak biasa karena dikenal memiliki pandangan garis keras, anti-Amerika Serikat, dan anti-Israel selama menjabat presiden Iran pada 2005-2013. Ia juga dikenal sebagai pendukung kuat program nuklir Iran.

Meski demikian, sejumlah pejabat AS menilai Ahmadinejad memiliki kemampuan mengelola situasi politik dan militer Iran di tengah kekacauan perang. Seorang rekan Ahmadinejad bahkan menyebut Washington memandang mantan presiden itu sebagai figur yang dapat memimpin Iran dalam masa transisi. 

Gedung Putih tidak memberikan jawaban langsung terkait keterlibatan Ahmadinejad dalam rencana perubahan rezim tersebut. Namun, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan tujuan operasi militer AS di Iran adalah menghancurkan kemampuan militer dan nuklir Teheran.

“Sejak awal, Presiden Trump menjelaskan tujuannya untuk Operasi Epic Fury: menghancurkan rudal balistik Iran, membongkar fasilitas produksinya, menenggelamkan angkatan lautnya, dan melemahkan proksinya,” kata Kelly. 

Menurut laporan New York Times, salah satu tujuan serangan AS-Israel juga untuk membebaskan Ahmadinejad dari tahanan rumah. Namun rencana itu gagal setelah Ahmadinejad terluka akibat serangan Israel pada hari pertama perang. Sejak saat itu, ia tidak lagi terlihat di publik dan keberadaannya tidak diketahui. 

Sejumlah pejabat menyebut kegagalan tersebut membuat Ahmadinejad maupun pihak AS kecewa terhadap rencana perubahan rezim di Iran.

Laporan itu juga menyebut gagasan mengganti pemimpin Iran muncul setelah keberhasilan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari lalu. Washington disebut ingin menghadirkan pemimpin baru yang lebih mudah diajak bekerja sama dan sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas