Nasional

Perundingan Iran-AS Gagal, Giliran Donald Trump Blokade Selat Hormuz

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 13/04/2026 08:49 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung maraton di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Kegagalan ini memicu eskalasi baru setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan memblokir seluruh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyebut telah menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk menghalangi kapal yang masuk maupun keluar dari jalur strategis tersebut. Bahkan, ia menegaskan akan mencegat kapal-kapal yang diduga membayar biaya kepada Iran serta menghancurkan ranjau laut yang disebut dipasang di kawasan itu.

“Blokade akan segera dimulai,” tegas Trump. Ia juga memperingatkan bahwa setiap pihak yang menyerang kapal sipil atau militer AS akan mendapatkan respons tegas.

Perundingan yang berlangsung selama 21 jam pada 11–13 April 2026 itu bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari enam pekan, sekaligus membuka jalan bagi gencatan senjata permanen. Namun, kedua pihak gagal mencapai titik temu, terutama terkait isu program nuklir Iran dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Trump dalam unggahannya menyatakan sebagian besar poin telah disepakati, tetapi isu utama terkait nuklir masih menjadi ganjalan. Ia menuding Iran tidak menunjukkan komitmen yang jelas untuk menjamin keamanan pelayaran internasional.

Saling Tuduh AS dan Iran

Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance menyatakan Iran menolak syarat utama, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Sebaliknya, pihak Iran melalui Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menilai AS gagal membangun kepercayaan, meskipun Teheran mengklaim telah menawarkan berbagai inisiatif. Iran juga menyebut tuntutan Washington terlalu berlebihan dan menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan.

Selat Hormuz kembali menjadi fokus utama konflik. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi mengguncang pasar energi global.

Iran menuntut kendali lebih besar atas selat tersebut, termasuk hak memungut biaya transit kapal, serta pencairan asetnya yang dibekukan di luar negeri. Di sisi lain, AS menekankan pentingnya kebebasan pelayaran global di kawasan tersebut.

Meski situasi memanas, data pelayaran menunjukkan beberapa kapal tanker masih berhasil melintasi Selat Hormuz. Namun, ratusan kapal lainnya dilaporkan tertahan di kawasan Teluk, menunggu kepastian keamanan.

Di tengah kebuntuan diplomasi, sekutu AS, Israel, terus melancarkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Iran menuntut agar konflik di wilayah tersebut juga dihentikan sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas.

Kegagalan perundingan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang masih rapuh. Ancaman blokade Selat Hormuz dinilai dapat memicu ketegangan lebih luas, bahkan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.

Meski demikian, Trump menyatakan kesepakatan bukanlah satu-satunya tujuan. Ia menegaskan bahwa AS tetap akan memastikan kebebasan pelayaran dan menekan program nuklir Iran, yang selama ini dibantah Teheran sebagai upaya pengembangan senjata.

Situasi kini memasuki fase krusial, dengan dunia menanti apakah konflik akan mereda atau justru semakin memanas dalam waktu dekat.*

Artikel Lainnya