indonews

indonews.id

Serangan Dadakan AS Dinilai Upaya Lemahkan Kendali Iran di Selat Hormuz

Amerika Serikat (AS) dinilai tengah berupaya melemahkan pengaruh Iran atas Selat Hormuz melalui serangan militer terhadap fasilitas strategis Teheran. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi Washington untuk mengurangi dominasi Iran di jalur pelayaran energi paling vital di dunia tersebut.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Amerika Serikat (AS) dinilai tengah berupaya melemahkan pengaruh Iran atas Selat Hormuz melalui serangan militer terhadap fasilitas strategis Teheran. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi Washington untuk mengurangi dominasi Iran di jalur pelayaran energi paling vital di dunia tersebut.

Pengamat dari Departemen Studi Perang King`s College London (KCL), Samir Puri, mengatakan AS ingin menunjukkan bahwa klaim Iran atas kendali Selat Hormuz tidak dapat dipertahankan.

“Ada upaya nyata dari AS untuk mencoba menunjukkan bahwa klaim Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz tidak berlanjut,” kata Puri kepada Al Jazeera, dikutip Kamis (28/5).

Selama ini, Iran diketahui memiliki pengaruh besar terhadap arus pelayaran kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz. Jalur sempit tersebut menjadi pintu utama distribusi energi global, dengan aktivitas kapal tanker yang selama ini berada di bawah pengawasan ketat Teheran.

Menurut Puri, pengaruh di kawasan menjadi faktor penting dalam proses negosiasi antara kedua negara. Washington disebut terus berupaya menekan pengaruh Iran agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat.

“Pengaruh selalu menjadi ‘mata uang’ yang digunakan dalam negosiasi,” ujar Puri. Ia menambahkan, akan penting melihat pihak mana yang mampu menghasilkan tekanan cukup besar untuk memaksa lawan menerima persyaratan yang diajukan.

Namun, upaya diplomasi yang sempat dibuka belum membuahkan hasil signifikan. Ketegangan justru kembali meningkat setelah Iran dan AS terlibat aksi saling serang pada Kamis pagi.

Situasi ini mengguncang keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz sekaligus memicu kenaikan harga minyak dunia. Sebelumnya, harga minyak mentah sempat turun sekitar 5 persen setelah pemerintah AS membuka peluang diplomasi lebih besar dengan Iran.

Puri memperingatkan eskalasi konflik militer justru dapat memperburuk situasi di kawasan.

“Solusinya mungkin lebih buruk daripada pengobatannya. Jika aksi militer saling balas terus berlanjut karena Iran dan AS bersaing untuk mengendalikan Selat Hormuz, maka hal itu sendiri membahayakan tanker yang lewat,” katanya.

Ketegangan terbaru bermula setelah militer AS menyerang fasilitas rudal dan drone Iran. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan dengan menargetkan pangkalan udara AS.

Garda Revolusi Iran menyebut pangkalan udara Amerika menjadi sasaran utama dalam operasi balasan pada Kamis (28/5), sebagaimana dilaporkan stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB.

“Menyusul agresi pagi ini oleh militer AS yang menyerang lokasi di pinggiran Bandara Bandar Abbas menggunakan proyektil udara, pangkalan udara Amerika yang menjadi sumber serangan tersebut ditargetkan pada pukul 04.50 pagi,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas