ADA DIPLOMASI DAMAI PERANG IRAN
ADA DIPLOMASI DAMAI PERANG IRAN
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh: JIMMY H SIAHAAN
Geopolitik minyak adalah studi tentang bagaimana produksi, distribusi, dan konsumsi minyak bumi memengaruhi dan dipengaruhi oleh hubungan kekuasaan global, kebijakan luar negeri, dan konflik internasional.
Minyak tetap menjadi urat nadi ekonomi modern, menjadikannya alat strategis utama bagi negara-negara produsen maupun konsumen.
Titik Cekik Distribusi (Chokepoints)
Sebagian besar pasokan minyak dunia harus melewati jalur air sempit yang sangat rentan terhadap gangguan politik dan militer.
Selat Hormuz. Terletak di Teluk Persia, Terusan Suez & Bab el-Mandeb. Jalur penghubung vital antara Timur Tengah dan Eropa.
Minyak bumi mengubah Perang Dunia I (PD I) menjadi perang mekanis pertama.
Akses terhadap minyak menjadi penentu kemenangan Sekutu.
Minyak memicu inovasi alat tempur seperti tank, pesawat, kapal selam, dan kendaraan bermotor, menjadikan pasokan minyak target strategis global yang menggantikan peran batu bara.
Minyak bumi adalah penentu utama jalannya Perang Dunia II, berfungsi sebagai penggerak utama mesin militer.
Penguasaan dan pasokan bahan bakar menentukan mobilitas kapal perang, tank, dan pesawat tempur. Kekurangan minyak sering kali memicu serangan strategis atau melumpuhkan kemampuan tempur suatu negara.
Amerika Serikat dan sekutunya melakukan embargo minyak terhadap Jepang akibat agresinya.
Kehilangan pasokan memaksa Jepang menyerang wilayah kaya minyak di Asia Tenggara, termasuk kilang-kilang strategis di Hindia Belanda (seperti Plaju di Sumatera dan Balikpapan di Kalimantan).
Kegagalan Blok Poros (Jerman & Jepang) disebabkan Krisis Bahan Bakar.
Buka Peluang Diplomasi dengan Iran
Harga minyak dunia jatuh cukup dalam setelah pemerintah Amerika Serikat menyatakan masih membuka peluang besar bagi penyelesaian konflik dengan Iran melalui jalur diplomasi.
Pada penutupan perdagangan Rabu (27/5/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok lebih dari 5 persen ke level 88,68 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional juga turun lebih dari 5 persen menjadi 94,29 Dolar AS per barel.
Penurunan tajam tersebut dipicu pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang menyebut negosiasi antara Washington dan Teheran menunjukkan perkembangan positif.
Rubio mengatakan pemerintah AS masih memprioritaskan jalur diplomatik dan akan memberikan ruang seluas-luasnya agar pembicaraan dengan Iran dapat mencapai kesepakatan.
“Intinya adalah kami lebih memilih jalur diplomatik melalui negosiasi dan kami akan memberikan setiap kesempatan agar jalur ini berhasil,” ujar Rubio dalam rapat kabinet di Gedung Putih, dikutip dari CNBC International, Kamis (28/5/2026).
Meski begitu, Rubio juga menegaskan Presiden AS Donald Trump tetap memiliki opsi lain jika negosiasi gagal. Pernyataan itu dinilai pasar sebagai sinyal bahwa ancaman aksi militer masih belum sepenuhnya hilang.
Di tengah situasi tersebut, Trump kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka dan tidak boleh dikuasai pihak tertentu.
“Selat itu akan terbuka untuk semua orang. Itu perairan internasional, tidak ada yang akan mengendalikannya,” kata Trump.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Ketegangan di kawasan tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak akibat kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.
Kepala Abu Dhabi National Oil Company, Sultan Ahmed al-Jaber, mengatakan dibutuhkan setidaknya empat bulan untuk memulihkan aliran minyak hingga 80 persen dari kondisi normal meski konflik segera berakhir.
Ia memperkirakan pemulihan penuh pasokan minyak dunia baru dapat tercapai pada kuartal pertama atau kedua tahun 2027.
Harga Minyak Dunia Merosot Tajam ke Level dibawah 100 Dolar AS.
Pernyataan Keras Rusia
Menlu Rusia Sergei Lavrobv menyebut alasan AS melakukan invasi Iran dan Venezuela memang karena minyak.
Rusia memberikan pernyataan keras soal Amerika Serikat , terutama soal tujuan utama invasi AS ke Venezuela dan Iran.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan AS tidak bisa berkilah lagi bahwa intervensi militer ke Venezuela dan Iran semata-mata karena minyak.
"Amerika Serikat secara resmi menyatakan bahwa tidak ada yang dapat mendikte mereka. Mereka hanya peduli pada kesejahteraan mereka sendiri," kata Lavrov kepada Televisi Publik Rusia seperti dilansir dari Aljazeera .
Lavrov menambahkan saat ini AS ingin mempertahankan kesejahteraan mereka namun caranya.Tidak peduli apakah dengan cara pencatatan atau pembunuhan pemimpin negara lain, terutama yang sumber daya alamnya dibutuhkan AS.
Ini Negara yang Dapat Bebas Tarif Selat Hormuz dari Iran.
"Venezuela, Iran, Amerika tidak menyembunyikan bahwa itu adalah minyak. Mereka memiliki doktrin dominasi di pasar energi dunia," kata Lavrov.
Dengan apa yang dilakukan Trump dan AS itu, Lavrov menyatakan bahwa tidak ada lagi hukum internasional yang tersisa. Sebaliknya setiap keputusan dilatarbelakangi konsep bahwa "kekuatan adalah kebenaran".
Baik Venezuela maupun Iran adalah negara dengan cadangan minyak terbesar pertama dan kedua di dunia. Di posisi kedua adalah Arab Saudi yang merupakan sekutu AS.
Trump sebelumnya memang menyinggung soal ingin mengambil minyak Iran dan ingin mengusai Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor minyak Iran.
Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times pada Minggu (30/3), Trump mengungkap kecenderungannya dalam merebut minyak Teheran sambil mempertimbangkan apakah akan merebut pusat ekspor minyak Iran, Pulau Kharg.
Trump juga menyamakan langkah potensial itu dengan ambisi AS untuk menguasai industri minyak Venezuela setelah menculik dan mendongkel Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu.
"Sejujurnya, hal yang paling saya sukai adalah mengambil minyak Iran, tetapi ada beberapa orang bodoh di AS yang berkata, 'mengapa Anda melakukan itu?' Tapi mereka orang bodoh,” kata Trump, 30 Maret 2026 lalu.
Sementara di Venezuela, Trump lebih terang-terangan menyatakan hal ini.
“Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat kami, yang terbesar di manapun di dunia ini, akan masuk (ke Venezuela) untuk mengeluarkan investasi miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” ujar Trumo dalam konferensi pers di kediamannya Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, dikutip dari CNBC Januari lalu.
Peluang Diplomasi Terbuka
Para negosiator Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari yang akan memberi mereka waktu untuk menegosiasikan mengakhiri perang secara penuh. Tapi, Gedung Putih mengatakan kesepakatan tersebut harus disetujui oleh Presiden AS Donald Trump. Pimpinan Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei juga belum menyetujui.
Pengumuman ini muncul ketika gencatan senjata saat ini antara kedua pihak berada di bawah tekanan setelah Amerika melancarkan beberapa serangan ke pelabuhan Bandar Abbas dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait. Kesepakatan baru ini dapat meredakan ketegangan saat kedua pihak bersiap untuk membahas isu-isu yang lebih pelik seperti program nuklir Iran dan pencabutan sanksi.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa Amerika dan Iran masih perlu menyelesaikan beberapa poin penting sebelum kesepakatan tentang perang dapat tercapai.
Vance mengatakan para negosiator "sedang bernegosiasi mengenai beberapa poin bahasa", yang mencakup "masalah pengayaan". "Kita belum sampai di sana, tetapi kita sudah sangat dekat dan kita akan terus berupaya," katanya, seperti dikutip BBC, Jumat (29/5/2026).
AS telah lama menuntut agar Iran menghentikan produksi uranium yang diperkaya tinggi dan membuang persediaan yang ada, yang secara teori dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Vance menyampaikan nada optimistis saat berbicara kepada wartawan di Washington DC, mengatakan AS percaya bahwa Iran bernegosiasi dengan "itikad baik".
Sejak gencatan senjata awal antara AS dan Iran mulai berlaku pada 8 April, Trump telah berulang kali menyatakan bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan dan negosiasi sedang berjalan, tetapi sejauh ini belum ada hasil substantif.
“Yang kita miliki di sini adalah tiket menuju negosiasi surat pernyataan niat jika Anda mau untuk negosiasi tentang semua isu inti,” tulis Aaron David Miller, mantan negosiator Departemen Luar Negeri AS, di X.
“Bersiaplah untuk negosiasi yang menyakitkan yang akan terasa seperti perawatan saluran akar gigi dan sakit kepala migrain setiap hari,” imbuh dia.
Memorandum kesepahaman juga akan mencakup komitmen Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir. Di antara masalah pertama yang akan dibahas adalah bagaimana membuang persediaan uranium yang diperkaya milik Iran. Iran telah berupaya mendapatkan keringanan sanksi dan pencairan dana miliaran dolar yang dibekukan selama perundingan.
Menurut laporan Axios, selama gencatan senjata, AS akan berkomitmen untuk membahas keringanan sanksi dan pencairan dana. Memorandum antara kedua pihak akan mencakup pembahasan tentang "mekanisme" untuk memungkinkan Iran menerima barang dan bantuan kemanusiaan, imbuh laporan Axios.
Perang militer beralih ke perang Hibrida
Kementerian Intelijen Iran mengatakan musuh telah "dikalahkan" di medan perang dan sekarang beralih ke cara perang lain.Taktik tersebut termasuk tekanan ekonomi, serangan siber, penyelundupan senjata, pembunuhan, dan kampanye media yang bermusuhan, demikian tuduhan kementerian tersebut.
"Musuh yang kalah di medan militer kini telah mengalihkan fokusnya ke perang lunak, perang kognitif, dan provokasi sosial," katanya, dilansir Al Jazeera. Dalam komentar yang dimuat oleh kantor berita Fars, kementerian tersebut memperingatkan bahwa pihak berwenang Iran akan "menuntut dengan tegas" setiap kegiatan spionase atau "aktivitas separatis".
Sementara itu, Ali Bagheri Kani, wakil sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, sekali lagi menegaskan posisi Iran bahwa nasib uranium yang diperkaya tinggi tidak dapat dibahas dalam pembicaraan saat ini dengan AS. “Masalah ini tidak ada dalam agenda negosiasi,” kata Bagheri Kani? kepada kantor berita Fars di sela-sela konferensi keamanan internasional di Moskow, Rusia.
Presiden Trump mengatakan AS tidak akan mengizinkan Iran untuk menyimpan persediaan uranium yang diperkaya tinggi sebanyak 440 kg (970 lb). Masa depan uranium yang diperkaya hingga 60 persen tetap menjadi poin utama yang diperdebatkan dalam negosiasi perdamaian antara AS dan Iran.
Meskipun uranium yang diperkaya hingga 60 persen masih jauh dari 90 persen yang dibutuhkan untuk material tingkat senjata nuklir, ini adalah titik di mana proses untuk mencapai tingkat tersebut menjadi jauh lebih cepat.
Sebelumnya, seorang pejabat Korps Garda Revolusi Islam mengatakan perang baru dengan Amerika Serikat tidak mungkin terjadi tetapi memperingatkan Iran siap untuk menangkis serangan apa pun, lapor kantor berita semi-resmi Tasnim. “Kemungkinan perang rendah karena kelemahan musuh, tetapi angkatan bersenjata sedang menunggu kesempatan,” kata Mohammad Akbarzadeh, wakil kepala politik angkatan laut IRGC. “Jangan ragukan kami akan mengubah wilayah dari Chabahar hingga Mahshahr menjadi kuburan bagi para agresor,” katanya, menyebutkan lokasi di setiap ujung pantai selatan Iran yang panjang.
Diplomasi Kapal Perang & Sang Diktator
Selama dua masa jabatannya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tercatat telah mengancam, membuka kemungkinan menyerang, atau benar-benar melakukan aksi militer terhadap 15 negara.
Berdasarkan laporan CNN, jumlah tersebut setara dengan perkiraan 1 dari 13 negara di dunia.
Dampak dari kebijakan luar negeri ini sangat masif. Negara-negara yang pernah diancam atau diserang oleh Trump menampung sekitar 1 dari 11 penduduk di bumi.
Oman menjadi negara ke-15 yang masuk ke dalam daftar tersebut, sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Kamis (28/5/2026).
Pada Rabu (27/5/2026), dalam sebuah rapat Kabinet di Gedung Putih, Trump memperingatkan Oman bisa menghadapi aksi militer AS jika mencoba mengendalikan Selat Hormuz bersama Iran.
"Oman akan berperilaku sama seperti semua orang, atau kita harus meledakkan mereka," ujar Trump dalam rapat tersebut. Sejauh ini pada masa jabatan keduanya, Trump telah meluncurkan serangan militer ke tujuh negara.
Beberapa di antaranya juga sempat menjadi target pada masa jabatan pertamanya. Negara-negara yang telah menjadi target serangan militer AS yakni Iran, Irak, Nigeria, Somalia, Suriah, Venezuela, dan Yaman.
Trump Mengatakan Dirinya Seorang Pembangun ( Builder) Kesepakatan Damai yang Dibuatnya Jauh dari Kokoh. Para pejabat Arab khawatir Trump akan meninggalkan mereka dalam keadaan sulit terkait Iran.
Ia tampaknya kurang siap untuk merancang solusi jangka panjang bagi krisis geopolitik dunia, termasuk krisis yang ia bantu ciptakan tahun ini di Iran.
Trump dan timnya menawarkan visi besar yang terdengar hebat secara teori, tetapi mereka hanya memiliki sedikit bukti nyata selain tindakan setengah-setengah. Tentu, mereka telah mengawal gencatan senjata hingga ke Asia Tenggara dan menawarkan visi untuk Gaza, tetapi konflik struktural yang lebih dalam tetap ada.
Trump masih memiliki waktu bertahun-tahun tersisa di kantornya untuk menghasilkan kesepakatan yang langgeng, dan itu adalah tugas berat bagi presiden mana pun untuk menyelesaikan banyak tantangan dunia yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Tetapi Trump juga cepat mengklaim kemenangan dan melanjutkan "Akhirnya kita memiliki perdamaian di Timur Tengah ," kata Trump Oktober lalu untuk menandai gencatan senjata Gaza.
Dia juga telah melemahkan kemampuan pemerintah AS untuk melakukan pekerjaan pembangunan perdamaian. Itu berarti gelombang ketidakstabilan kemungkinan akan terjadi setelah kesepakatan yang longgar.
“Kerangka kerja dapat mengulur waktu. Kesepakatan nyata mengubah perilaku,” kata seorang diplomat Arab kepada saya. “Di Timur Tengah, banyak yang khawatir bahwa 'kerangka kerja' menjadi cara untuk mengelola krisis.
Trump dan para pembantunya "lebih percaya pada kecepatan dan tekanan daripada ketelitian," kata seorang mantan pejabat AS yang menangani Timur Tengah kepada saya.
Pada saat yang sama, banyak pejabat AS dan luar negeri, baik yang masih menjabat maupun yang sudah pensiun, berpendapat bahwa pemerintahan Trump, bersama dengan Israel, membuat masalah yang sudah sulit yang ditimbulkan Iran menjadi jauh lebih sulit dengan terjerumus ke dalam perang tanpa persiapan yang matang.
Sebagian orang mengatakan bahwa proses pembuatan kebijakan Trump yang tertutup dan terhambat menyebabkan dia memulai perang ketika negosiasi masih menjadi pilihan.
Seandainya lebih banyak spesialis nuklir AS dan Iran dilibatkan dalam percakapan diplomatik dengan Teheran sebelum perang, beberapa analis berpendapat, mereka mungkin dapat membantu utusan Trump memahami bahwa Iran telah mengajukan tawaran yang layak pada bulan Februari.
Memang benar, AS telah memberlakukan blokade ekonomi terhadap Iran, yang seiring waktu dapat melemahkan rezim Islamisnya.Tetapi rezim tersebut sekarang mengendalikan Selat Hormuz, yang sebelumnya tidak dimilikinya sebelum perang dan yang merugikan perekonomian di seluruh dunia. Dunia dalam krisis yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade sebelumnya.
Dilain pihak, Trump mengatakan bahwa penghinaan yang paling dia benci adalah disebut "bodoh". Namun, dia tidak keberatan disebut "Diktator tiran yang brilian".