indonews

indonews.id

Di Balik Viral Film Pesta Babi! Kisah Mama Yasinta yang Berubah Arah: Saya Tetap di Pihak Perusahaan

Di Balik Viral Film Pesta Babi! Kisah Mama Yasinta yang Berubah Arah: Saya Tetap di Pihak Perusahaan

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Di sebuah kampung terpencil di Distrik Ilwayab, Merauke, suara Mama Yasinta pernah terdengar lantang. Dalam film dokumenter Pesta Babi, perempuan suku Marind itu tampil sebagai wajah perlawanan masyarakat adat terhadap proyek strategis nasional (PSN) yang disebut merampas hutan dan rawa—ruang hidup yang selama ini menjadi sumber pangan, ekonomi, dan identitas komunitasnya.

Namun, hanya hitungan pekan setelah film itu viral, arah cerita berubah drastis. Mama Yasinta—nama lengkapnya Yasinta Moiwend—kini justru berdiri di sisi berseberangan dari narasi yang pernah ia suarakan sendiri.

Ia melaporkan sutradara film Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, dan Direktur LBH Papua Merauke, John Teddy Wakum ke Polda Metro Jaya dengan dugaan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.

Laporan itu bak membuka “sekuel” baru dari Pesta Babi—kali ini bukan di layar dokumenter, melainkan di ruang hukum, media sosial, hingga perdebatan publik.

Dari layar nobar ke jutaan penonton

Ketika pertama kali diputar secara swadaya melalui jaringan nonton bareng di berbagai kota, Pesta Babi belum ramai diperbincangkan publik luas. Film dokumenter berdurasi 90 menit itu bergerak dari satu komunitas ke komunitas lain, diputar di rumah warga, kampus, dan ruang diskusi kecil.

Namun setelah resmi tayang di kanal YouTube JubiTV pada 22 Mei 2026, gaungnya membesar. Dalam dua pekan, film tersebut ditonton lebih dari 13 juta kali.

Bagi banyak orang, Pesta Babi bukan sekadar dokumenter lingkungan. Film itu menghadirkan wajah-wajah masyarakat adat Papua yang berbicara langsung tentang perubahan lanskap hidup mereka akibat proyek pangan skala besar.

Dan di antara wajah-wajah itu, Mama Yasinta menjadi salah satu figur yang paling membekas. Dengan bahasa sederhana namun tajam, ia digambarkan sebagai petani sayur yang kehilangan ruang hidup akibat pembukaan lahan besar-besaran. Sosok perempuan kampung yang tampak teguh mempertahankan tanah adatnya. Sampai video baru itu muncul.

Video yang membuat publik bertanya

Pada 23 Mei, sehari setelah film resmi dirilis secara daring, rekaman video Mama Yasinta beredar di media sosial. Isi videonya mengejutkan.

Dalam rekaman itu, Yasinta tidak lagi menolak PSN. Ia justru menyatakan dukungan terhadap proyek tersebut dan mengaku tidak pernah memberikan izin dirinya direkam untuk dokumenter.

“Saya kecewa sampai sekarang ini,” ucapnya dalam video tersebut.

Di rekaman lain, ia bahkan meminta maaf dan mengatakan dirinya sebelumnya hanya “dimanfaatkan” oleh orang-orang LBH. Ia berbicara tentang harapan memperoleh pekerjaan di perusahaan, rumah yang ingin direnovasi, serta pekerjaan untuk anaknya.

Perubahan sikap itu sontak memicu gelombang spekulasi. Di media sosial, sebagian publik mempertanyakan: apakah Mama Yasinta benar-benar berubah pikiran, atau ada tekanan yang bekerja di balik layar? Dugaan intimidasi pun bermunculan.

Keluarga kehilangan kontak

Sebelum Mama Yasinta tiba di Jakarta dan melaporkan Pesta Babi ke polisi, keluarganya di Merauke ternyata lebih dulu gelisah. Esau Maguo Kahol, keponakan Yasinta, mengaku keluarganya kehilangan kontak sejak 24 Mei—sehari setelah video perubahan sikap Yasinta mulai viral.

“Kami kaget saat lihat video itu. Mama bisa berbalik arah,” katanya.

Bagi Esau, perubahan itu terasa seperti sesuatu yang tidak masuk akal. Ia mengenal Yasinta sebagai perempuan yang selama bertahun-tahun mempertahankan prinsip dan menolak proyek yang menurutnya mengancam tanah adat.

Dalam video viral yang dibuat keluarga, Esau menyebut Yasinta pergi dari Kampung Wogekel tanpa sepengetahuan keluarga. Ia bahkan mengklaim sang tante sempat berada di pos TNI sebelum dibawa keluar wilayah.

Pernyataan itulah yang kemudian berkembang menjadi rumor paling liar dalam polemik ini: dugaan penggunaan jet pribadi.

Rumor jet pribadi Pak Haji

Nama konglomerat Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam ikut terseret. Sejumlah pihak menduga Yasinta diterbangkan menggunakan jet pribadi milik PT Jhonlin Group, perusahaan yang dikaitkan dengan proyek food estate di Papua.

Dugaan tersebut beredar setelah muncul klaim dari sejumlah pihak di Papua yang menyebut Yasinta dikawal aparat dan pejabat distrik sebelum berangkat ke Merauke hingga Jakarta. Namun, Yasinta membantah keras narasi itu.

“Itu tidak benar. Saya naik pesawat biasa dengan penumpang,” katanya dalam video klarifikasi yang kembali beredar sehari kemudian.

Ia juga membantah adanya intimidasi.

“Saya sendiri yang datang, tidak ada orang yang ajak saya. TNI tidak jemput saya, tidak ada intimidasi.”

Bagi Yasinta, polemik yang membesar justru terasa berlebihan.

“Kenapa kalian yang repot dengan saya?” ujarnya.

“Mama bohong”

Namun keluarga belum menerima penjelasan itu begitu saja.

Esau terang-terangan mengatakan dirinya sulit percaya.

Baginya, ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab: dari mana biaya perjalanan, penginapan di Jakarta, hingga akses cepat terhadap pengacara dan proses pelaporan hukum?

“Mama punya uang dari mana?” tanyanya.

Ia juga mempertanyakan perubahan sikap Yasinta terhadap Pesta Babi. Menurut Esau, proses dokumentasi film berlangsung selama tiga tahun, dan Yasinta bahkan hadir dalam peluncuran film di Jayapura.

“Kalau Mama bilang tidak seizin saya, kenapa Mama ikut peluncuran film?” ujarnya.

Bagi keluarga, semua ini terasa janggal.

Mereka menduga ada tekanan psikologis yang membuat Yasinta mengubah sikapnya secara drastis.

Dari pejuang adat ke ruang hukum: Pesta yang belum selesai

Sebelum kontroversi ini, nama Yasinta dikenal sebagai pejuang hak masyarakat adat Papua. Pada 2025, ia menerima penghargaan S.K. Trimurti Award dari Aliansi Jurnalis Independen karena perjuangannya mempertahankan tanah ulayat dari ekspansi proyek food estate.

Kini, sosok yang dulu dipandang sebagai simbol perlawanan justru menjadi pusat pusaran konflik baru.

Di satu sisi, Yasinta mengaku menjadi korban pemanfaatan. Di sisi lain, keluarga dan sebagian publik menilai ada banyak kejanggalan dalam perubahan sikapnya.

Sementara itu, Dandhy Laksono memilih merespons secara singkat melalui media sosial. Ia meminta publik tidak kehilangan fokus pada persoalan yang lebih besar.

“Yang tampak jelas adalah siasat agar kita pelan-pelan kehilangan fokus pada persoalan kolonialisme di Papua,” tulisnya.

Barangkali benar, Pesta Babi kini telah memasuki babak baru.

Bukan lagi sekadar dokumenter tentang hutan yang hilang atau proyek pangan raksasa di Papua, melainkan kisah tentang perubahan sikap seorang perempuan adat, rumor jet pribadi, dugaan intimidasi, dan pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

Di Merauke, keluarga Yasinta masih menunggu.

Mereka mengaku hanya ingin satu hal sederhana: Mama Yasinta pulang.

“Walaupun kami hidup kurang-kurang, tapi Mama itu abadi bagi kami,” kata Esau, suaranya bergetar.

Dan selama pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab, cerita Pesta Babi tampaknya masih jauh dari adegan penutup.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas