Hari Lingkungan Hidup 2026, Emil Salim: Alam Harus Jadi Fondasi Pembangunan Indonesia
Tokoh lingkungan hidup nasional, Prof Emil Salim, mengingatkan pentingnya menjadikan alam sebagai fondasi utama pembangunan Indonesia di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Tokoh lingkungan hidup nasional, Prof Emil Salim, mengingatkan pentingnya menjadikan alam sebagai fondasi utama pembangunan Indonesia di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan Emil dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future”. Menurutnya, pendekatan pembangunan yang hanya berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam sudah tidak lagi relevan untuk menjawab tantangan masa depan.
“Cara mengolah alam itu bukan dengan alam itu sebagai objek, tetapi bagaimana manusia tumbuh memanfaatkan alam tanpa merombak fungsi kehidupan alam itu,” kata Emil dalam pernyataannya, Sabtu (6/6/2026).
Pembina Yayasan KEHATI itu menilai hubungan manusia dan alam harus dibangun di atas prinsip saling ketergantungan. Karena itu, setiap sektor pembangunan, mulai dari pertanian hingga industri, perlu memperhitungkan keberlanjutan fungsi ekosistem agar tidak memperparah kerusakan lingkungan.
Menurut Emil, Indonesia sebagai negara tropis memiliki karakteristik ekosistem yang aktif sepanjang tahun, sehingga pola pembangunan harus disesuaikan dengan kondisi alam dan tidak semata mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan untuk membangun cara pandang yang menyeluruh terhadap hubungan manusia dengan alam. Pemahaman tersebut dinilai penting sebagai bekal generasi muda menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.
“Pandangan holistik, pandangan lingkungan hidup adalah inti untuk belajar bagi keberlangsungan hidup tanpa membunuh unsur hidup lainnya. Itulah cara pembangunan berwawasan lingkungan,” ujarnya.
Senada dengan Emil, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos, menyebut keanekaragaman hayati Indonesia merupakan aset strategis yang menopang ketahanan iklim, pangan, air, kesehatan, hingga ekonomi masyarakat.
“Investasi terbaik untuk masa depan adalah investasi pada pelestarian alam dan pemulihan ekosistem,” kata Riki.
Pemerintah juga menyampaikan pesan serupa dalam puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jakarta. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, mengatakan dunia kini menghadapi tiga krisis besar, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan.
“Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung, menyadari kesalahan, dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam,” ujar Jumhur.
Melalui tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, pemerintah mendorong berbagai aksi nyata pelestarian lingkungan, termasuk pemilahan sampah dari sumber sebagai langkah sederhana untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa keberhasilan agenda pembangunan nasional sangat bergantung pada kualitas lingkungan hidup yang tetap terjaga.
“Presiden memiliki program yang sangat konkret terkait swasembada pangan, swasembada air, dan swasembada energi. Semua itu tidak akan dapat dicapai apabila lingkungan hidup tidak terjaga dengan baik,” kata Pambudy.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini memperkuat pesan bahwa perlindungan alam bukan hanya agenda lingkungan, melainkan juga syarat utama pembangunan jangka panjang dan kesejahteraan generasi mendatang.