indonews

indonews.id

SEBELUM DUNIA KEHILANGAN JIWANYA

SEBELUM DUNIA KEHILANGAN JIWANYA

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol 86

Dunia berubah.

Langit berubah.

Bahasa berubah.

Bendera berganti.

Peta digambar ulang.

Kerajaan tumbuh,lalu hilang.

Kota dibangun,lalu dilupakan.

Mesin menjadi lebih cerdas.

Gedung menjadi lebih tinggi.

Jarak menjadi semakin dekat.

Namun ada sesuatu yang diam-diam tidak banyak berubah.

Manusia.

Bukan wajahnya.

Bukan pakaiannya.

Bukan teknologinya.

Tetapi ruang sunyi yang hidup di dalam dirinya.

Ribuan tahun lalu manusia berebut tanah.

Hari inimanusia berebut pengaruh.

Dulu pedang diangkat.

Hari ini kata-kata dilempar.

Dulu tembok dibangun dari batu.

Kinitembok dibangun di dalam hati.

Dan anehnya—

setiap generasi selalu merasa ia generasi paling maju.

Padahal matahari yang menyinari mereka masih matahari yang sama.

Air matamasih terasa asin.

Kehilangan masih terasa kehilangan.

Dan cinta—

tetap meminta keberanian.

Kita menulis ribuan aturan.

Membangun ribuan lembaga.

Menyusun ribuan perjanjian.

Namun sejarah berulang mengingatkan:

aturan dapat dibuat.

Tetapi hati tidak otomatis menjadi bijaksana.

Sebab masalah terbesar manusia bukan karena ia tidak tahu.

Tetapi karena ia sering tidak mau berhenti untuk mendengar.

Mungkin itu sebabnya—

perang tidak pernah benar-benar mati.

Ia hanyaberganti pakaian.

Kadang memakai namakehormatan.

Kadang memakai namakemajuan.

Kadang memakai nama kebenaran.

Dan sering kali—

yang dikalahkan tetap manusia.

Aku sering bertanya—

mengapa manusiayang mengetahui terang masih memilih gelap?

Mengapa manusia yang memahami kasih masih menanam permusuhan?

Mengapa manusia yang mengerti sejarah masih mengulang lukayang sama?

Bukankah kitab telah ditulis?

Bukankah hukum telah dibuat?

Bukankah sekolah dibangun?

Bukankah peradaban telah begitu jauh berjalan?

Lalu mengapa—

yang tua masih inginmenguasai.

Yang muda masih ingin membuktikan.

Yang kuat masih ingin mendominasi.

Yang lemah kadang inginmenjadi kuatagar dapat melakukan hal yang sama.

Aku lalu menyadari:

mungkin masalah manusia bukan kekurangan pengetahuan.

Tetapi kelangkaan kebijaksanaan.

Karena ilmu mengajarkan cara membuat sesuatu.

Namun kebijaksanaan mengajarkan kapan berhenti.

Dan di situlah banyak manusia kalah.

Ia mampu menaklukkan laut—

namun tidak mampu menaklukkan amarah.

Ia mampu membaca jutaan kata—

namun gagal membacadirinya sendiri.

Ia mampu berbicara tentang perdamaian—

namun sulit meminta maaf.

Ia mampu mengubah dunia—

namun takut mengubah hati.

Lalu aku teringat pada pelajaran tua yang mungkin telah lama ditinggalkan.

Bahwa manusia bukan dilahirkan untuk menjadi pusat.

Ia dilahirkan untuk menjadi penjaga.

Penjaga sesama.

Penjaga kehidupan.

Penjaga makna.

Tetapi setiap zaman selalu membawa godaan.

Godaan untuk merasa lebih tahu.

Lebih benar.

Lebih layak.

Dan dari sanalah sering lahir sesuatu yang tuanamun tak pernah tua:

kesombongan.

Kesombongan yang membuat telinga lebih cepat daripada hati.

Yang membuat kemenangan lebih penting daripada kebenaran.

Yang membuat manusia lupa—

bahwa ketika semuanya selesai,

tanah tetap menerima raja dan rakyat dalam ukuran yang sama.

Maka mungkin—

yang harus dibangun bukan hanya kota.

Bukan hanya ekonomi.

Bukan hanya teknologi.

Tetapi manusia yang ketika memiliki kuasa—

tetap mampu membungkuk kepada nurani.

 Lalu aku kembali bertanya—

apakah peradaban benar-benar sedang maju?

Ataukah yang berubah hanya alat-alatnya?

Dahulu manusia berjalan kaki.

Kini manusia melintasi samudra dalam hitungan jam.

Dahulu berita menempuh bulan.

Kini kemarahan menempuh detik.

Dahulu perang menggunakan tombak.

Kini perang kadang dilakukan tanpa suara.

Dahulu manusia menguasai tanah.

Kini manusia ingin menguasai pikiran.

Dan aku melihat—

setiap jaman mempunyai menaranya sendiri.

Ada yang membangun menara batu.

Ada yang membangun menara uang.

Ada yang membangun menara ilmu.

Ada yang membangun menara pengaruh.

Namun setiap menara diam-diam membawa pertanyaan yang sama:

apakah yang dibangun ini membebaskan manusia—

atau membuatnya semakin jauh dari dirinya sendiri?

Aku melihatorang-orang mengejarkecepatan.

Tetapi kehilangan arah.

Mengejar pengakuan.

Tetapi kehilangan kedalaman.

Mengejar kemenangan.

Tetapi lupa untuk bertanya:

setelah menang—

lalu untuk apa?

Sebab sejarah tidak selalu mengingat siapa yang paling kuat.

Sejarah sering mengingat siapa yang paling berguna.

Dan alam—lebih sunyi lagi.

Ia tidak peduli siapa yang terkenal.

Ia hanya bertanya:

apa yang kau tinggalkan setelah namamu selesai?

Apakah manusia menjadi lebih tenang?

Apakah anak-anak lebih berani bermimpi?

Apakah orang tua lebih dihormati?

Apakah yang lemah lebih dilindungi?

Ataukah—

semua kemajuan itu hanya membuat manusia lebih sibuk,lebih gaduh,lebih kesepian?

Aku lalu menyadari—

mungkin masalah terbesarbukan karena manusia terlalu kecil.

Tetapi karena manusia terlalu sering lupa bahwa ia kecil.

Dan ketika manusia lupa bahwa ia kecil—

ia mulai berbicara seolah-olah abadi.

Padahal—

setiap malam langit tetap gelap.

Setiap pagi matahari tetap terbit.

Dan bumil tidak pernah meminta izin kepada siapa pun untuk terus berputar.

Maka mungkin—

kemajuan tertinggi bukan ketika manusia berhasil menaklukkan dunia.

Tetapi ketika manusia berhasil tidak kehilangan jiwanya 
Lalu aku diam cukup lama.

Dan sebuah pertanyaanyang lebih sunyi datang.

Jika manusia tahumana yang baik—

mengapa ia tetapmemilih yang merusak?

Jika manusia tahuperang melahirkan duka—

mengapa perangterus dicari?

Jika manusia tahukeserakahantidak pernah kenyang—

mengapa tangantetap menggenggam?

Jika manusia tahukebencian membakar—

mengapa hatitetap menyimpan api?

Aku mencari jawabannyadi buku.

Di pidato.

Di sejarah.

Di wajah para pemimpin.

Di wajah para pertapa.

Di wajah para pedagang.

Di wajah para pekerja.

Dan perlahanaku mulai mengerti.

Masalah manusiajarang dimulaidari kurangnya pengetahuan.

Ia sering dimulaidari ketakutan.

Takut kehilangan.

Takut tidak dianggap.

Takut kalah.

Takut dilupakan.

Dan dari ketakutan kecil itu—

lahirlahhal-hal besaryang mengubah sejarah.

Seseorang ingin aman—

lalu membangun tembok.

Seseorang ingin dihormati—

lalu menuntut pujian.

Seseorang ingin dikenang—

lalu mengejar kuasa.

Seseorang takut miskin—

lalu lupa cukup.

Dan anehnya—

setelah semuanya didapat—

ketakutan itusering tetap tinggal.

Karena ternyata—

yang kosongbukan dunia.

Yang kosongadalah ruangyang tak pernah diajak bicaradi dalam diri.

Leluhur dahulutidak terlalu sibukbertanya:

apa yang kau miliki?

Mereka bertanya:

apa yang menguasaimu?

Apakah amarah?

Apakah pujian?

Apakah kekuasaan?

Apakah rasa takut?

Karena manusiayang tidak mengenal dirinya—

akan terus mencaridi luarapa yang sebenarnyahilang di dalam.

Dan mungkin—

itulah sebabnyasetiap zamanmengulang pelajaranyang sama.

Nama berubah.

Bendera berubah.

Bahasa berubah.

Namun cerita lama tetap datang:

tentang manusia yang mengira dunia akan cukup untuk mengisi jiwanya.

Padahal—

laut tidak pernah penuh oleh sungai.

Dan hati tidak pernah penuh oleh kepemilikan.

Maka barangkali—

kemenangan terbesar bukan mengalahkan orang lain.

Tetapi pulangkepada diri sendiri—

dan masih menemukan bahwa hati belum kehilangan kemampuannya untuk mengasihi.

Lalu suatu pagi—

aku memandang air.

Air yang sama yang sejak dahulu tidak pernah menolaksiapa yang datang.

Ia menerima daun.

Menerima lumpur.

Menerima cahaya.

Menerima bayangan.

Dan tetap mengalir.

Aku berpikir—

barangkali manusia harus belajar lagi kepada sungai.

Karena sungai tidak pernah meminum airnya sendiri.

Pohon tidak pernah memakan buahnya sendiri.

Matahari tidak pernah meminta bayar atas cahayanya.

Namun manusia—

kadang ingin memiliki bahkan yang tidak dapat dibawanya pulang.

Lalu ingatanku berjalan ke sebuah aliran tua.

Ciliwung.

Ia pernah melihat langit berubah.

Melihat kerajaan datang.

Melihat bangsa berganti.

Melihat manusia berdebat tentang masa depan.

Dan tetap mengalir.

Mungkin sungai diam-diam tersenyum kepada manusia.

Karena manusia sering merasa dirinya sangat penting.

Padahal bagi waktu—

kita hanyalah gelombang kecil yang sebentar muncul,lalu kembali tenang.

Aku membayangkan—

berapa banyak manusia yang dahulu berdiri di tepian sungai ini.

Membuat janji.

Membangun mimpi.

Berbicara tentang kejayaan.

Lalu pergi.

Dan sungai tetap berjalan.

Maka aku bertanya kepada diriku sendiri—

jika suatu hari namaku selesai—

apa yang tertinggal?

Apakah hanya jejak?

Ataukah ada manusia yang menjadi lebih kuat karena pernah berjalanbersamaku?

Apakah ada anak yang lebih berani bermimpi?

Apakah ada hati yang tidak jadi menyerah?

Sebab pada akhirnya—

hidup mungkin bukan tentang berapa lama kita dikenang.

Tetapi—

apakah ketika kita pergi,

ada yang tetap hidup dari kebaikan yang pernah kita tanam.

Dan mungkin—

itulah mengapa leluhur Nusantara tidak terlalu takut kepada kematian.

Karena bagi mereka—

manusia yang baik tidak benar-benar pergi.

Ia mengalir.

Seperti sungai.

Masuk ke laut.

Lalu kembali menjadi hujan.

Dan turun lagi—

di tempat yang membutuhkan harapan.

Dan ketika malam turun—

aku duduk diam.

Bukan untuk mencari jawaban.

Tetapi untuk mendengar.

Karena ada saat ketika dunia terlalu ramai.

Dan manusia hanya dapat mendengar dirinya sendiridi dalam sunyi.

Dari sebuah sudutdi Cijantung, Jakarta—

aku memandang langit.

Langit yang sama yang pernah dilihat oleh anak kecil yang bermimpi.

Oleh seorang ibuyang berdoa.

Oleh seorang pekerjayang pulang kelelahan.

Oleh seorang tua yang mulai menghitung berapa musim yang telah dilewati.

Langit itu tidak berubah.

Yang berubah—

adalah cara manusia memandangnya.

Dulu manusia memandang langituntuk mencari arah.

Hari ini manusia lebih sering menunduk memandang layar.

Dulu manusia bertanya:

bagaimana hidup yang baik?

Hari ini manusia lebih sering bertanya:

bagaimana hidup yang terlihat baik?

Dan perlahan—

kita mulai tertukar.

Antara dikenal dan berguna.

Antara memiliki dan cukup.

Antara ramai dan bahagia.

Aku lalu mengerti—

mungkin kehidupan tidak meminta manusiauntuk menjadi terbesar.

Ia hanya meminta:

jangan kehilangan kemampuan untuk merasa.

Karena ketika manusia tidak lagi mampumerasakan sakit orang lain—

peradaban mulai retak.

Ketika manusi tidak lagi mampu bersyukur—

kemajuan mulai kehilangan arah.

Ketika manusia tidak lagi mampuberhenti—

ia akan terus berlari,hingga lupa untuk apa ia berangkat.

Maka jika suatu hari dunia menjadi terlalu cepat—

berhentilah sebentar.

Dengarkan angin.

Lihat air.

Tatap wajah orang-orang yang mencintaimu.

Karena mungkin—

yang paling kita cari selama ini

bukan kemenangan.

Bukan kemasyhuran.

Bukan tepuk tangan.

Tetapi rumah.

Dan rumah pertama manusia—

bukan tanah.

Bukan bangunan.

Melainkan hati yang masih mampu menjadi tempat pulang.

Dan ketika hari itu tiba—

ketika usia,jabatan,nama,dan segala yang pernah dibanggakan perlahan turun seperti senja—

aku berharap manusia masih menyisakan satu kalimat sederhana:

“Aku pernah hidup.Dan selama hidup itu diberikan,aku berusaha agar dunia tidak menjadi lebih gelap.”

Cijantung, Jakarta 14 Juni 2026

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas