Masyarakat Ingin Melihat Karya dan Pengabdian Pendidikan Tinggi yang Berdampak Nyata
AHY menilai semangat pengabdian seperti itu akan menjadi bekal penting ketika para Praja nantinya bertugas di berbagai daerah Indonesia.
Reporter: very
Redaktur: very
Jatinangor, INDONEWS.ID - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada penguasaan ilmu pengetahuan semata.
Perguruan tinggi, kata AHY, harus mampu melahirkan karya, solusi, dan pengabdian yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan AHY saat memberikan Studium Generale di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Kamis (18/6).
Menurutnya, pelaksanaan tridharma perguruan tinggi harus terus diperkuat, tidak hanya melalui pendidikan dan penelitian, tetapi juga melalui pengabdian kepada masyarakat.
“Saat ini masyarakat benar-benar ingin melihat karya sekaligus pengabdian yang langsung berdampak pada mereka,” ujar AHY melalui pernyataan tertulis.
Dalam kesempatan tersebut, AHY secara khusus memberikan apresiasi kepada para Praja IPDN yang terlibat langsung membantu masyarakat di daerah bencana, termasuk saat penanganan bencana di Aceh Tamiang.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kepamongprajaan tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga menumbuhkan semangat pelayanan dan kepedulian terhadap masyarakat.
“Saya mengapresiasi secara khusus adik-adik Praja yang turun langsung berbulan-bulan di daerah bencana,” kata AHY.
Saat bencana melanda, berbagai wilayah mengalami kerusakan infrastruktur, gangguan aktivitas masyarakat, hingga terputusnya akses pelayanan dasar.
Di tengah kondisi tersebut, para Praja hadir untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi masa-masa sulit.
Bagi AHY, pengalaman semacam itu memiliki nilai pendidikan yang sangat tinggi. Sebab di lapangan, seorang calon aparatur negara belajar memahami arti sesungguhnya dari kehadiran pemerintah.
Mereka belajar bahwa pelayanan publik bukan sekadar konsep yang dipelajari di ruang kelas, melainkan tindakan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Mereka berusaha mengurangi beban masyarakat. Saya rasa ini pengalaman yang sangat berharga,” ucap AHY.
AHY menilai semangat pengabdian seperti itu akan menjadi bekal penting ketika para Praja nantinya bertugas di berbagai daerah Indonesia.
Tantangan yang akan mereka hadapi tidak selalu mudah. Mulai dari persoalan pembangunan, pelayanan publik, hingga situasi darurat seperti bencana alam membutuhkan aparatur yang siap hadir dan bekerja bersama masyarakat.
Karena itu, menurut AHY, pendidikan kepemimpinan harus selalu diiringi dengan pengalaman lapangan yang membangun empati dan kepedulian.
Ia menegaskan bahwa masyarakat pada akhirnya tidak hanya membutuhkan aparatur yang cerdas dan kompeten. Masyarakat juga membutuhkan aparatur yang hadir, peduli, dan mampu memberikan manfaat nyata.
“Pengabdian adalah bagian penting dari kepemimpinan. Semakin besar amanah yang kita emban, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk melayani masyarakat,” ungkap AHY.
AHY berharap semangat tersebut terus dipelihara oleh para Praja IPDN sepanjang perjalanan pengabdian mereka.
Menurutnya, salah satu ukuran keberhasilan seorang aparatur negara bukan hanya pada jabatan yang diraih, tetapi pada manfaat yang berhasil diberikan kepada masyarakat.
“Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga mau melayani,” pungkas AHY. *