indonews

indonews.id

PERTAHANAN INDONESIA ABAD KE-21

PERTAHANAN INDONESIA ABAD KE-21

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Perang Fondasi, Pertahanan Nir-Materi, dan Evolusi Strategi Pertahanan Nasional

Bagian I

EVOLUSI PERANG: DARI MEDAN TEMPUR MENUJU PEREBUTAN FONDASI

Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol

Jakarta, 26 Juni 2026

MENGAPA MANUSIA BERPERANG?

Tidak ada peradaban besar dalam sejarah manusia yang lahir tanpa kemampuan mempertahankan dirinya. Sebaliknya, tidak ada bangsa yang mampu bertahan apabila gagal memahami perubahan karakter ancaman yang terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman.

Sejarah perang pada hakikatnya bukan sekadar sejarah tentang penggunaan senjata. Sejarah perang adalah sejarah tentang perjuangan manusia mempertahankan kehidupan, melindungi keluarga, menjaga kehormatan, mempertahankan wilayah, menguasai sumber daya, serta memperjuangkan keyakinan dan cita-cita. Karena itu, perang selalu menjadi bagian dari perjalanan peradaban manusia.

Sejak manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil, ancaman telah hadir sebagai kenyataan yang tidak dapat dihindari. Persaingan memperebutkan air, pangan, tanah, jalur perdagangan, dan ruang hidup melahirkan konflik yang kemudian berkembang menjadi peperangan. Pada masa itu, kekuatan diukur dari keberanian, kemampuan bertahan, serta kepemimpinan di medan tempur.

Namun perang tidak pernah berhenti berkembang. Ketika peradaban berubah, perang ikut berubah. Ketika teknologi berkembang, perang juga berevolusi. Bahkan ketika cara manusia berpikir berubah, tujuan dan karakter perang pun berubah.

Inilah sebabnya mengapa setiap zaman memiliki bentuk peperangannya sendiri.

Pada zaman kuno, kemenangan ditentukan oleh keberanian prajurit dan kemampuan menguasai medan. Pada masa Revolusi Industri, kemenangan semakin ditentukan oleh kemampuan memproduksi senjata, membangun logistik, dan menggerakkan industri. Memasuki abad ke-20, perang berkembang menjadi konflik total yang melibatkan seluruh sumber daya nasional. Sementara itu, abad ke-21 menghadirkan perubahan yang jauh lebih mendasar. Kemajuan teknologi informasi, kecerdasan buatan, ruang siber, satelit, komputasi, dan jaringan global telah mengubah bukan hanya cara berperang, tetapi juga sasaran yang diperebutkan.

Perubahan inilah yang menimbulkan pertanyaan mendasar.

Apakah perang modern masih bertujuan menghancurkan pasukan lawan sebagaimana pada masa lalu?

Ataukah tujuan sebenarnya telah bergeser menuju penguasaan faktor-faktor yang menopang kemampuan suatu negara untuk hidup, berkembang, dan mengambil keputusan?

Pertanyaan tersebut menjadi sangat penting karena berbagai konflik kontemporer memperlihatkan bahwa suatu negara dapat mengalami kelumpuhan tanpa didahului invasi militer. Gangguan terhadap sistem energi dapat melumpuhkan pelayanan publik. Serangan siber dapat mengganggu pemerintahan. Manipulasi informasi dapat memecah masyarakat. Penguasaan data dapat memengaruhi keputusan strategis. Bahkan perubahan persepsi publik mampu menggoyahkan legitimasi negara tanpa satu tembakan pun dilepaskan.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa evolusi perang tidak lagi hanya terjadi pada alat dan metode, tetapi juga pada sasaran yang ingin dikuasai.

Oleh karena itu, memahami perang abad ke-21 tidak cukup hanya mempelajari perkembangan persenjataan atau taktik militer. Yang jauh lebih penting adalah memahami evolusi tujuan perang itu sendiri. Dengan memahami perubahan tujuan tersebut, kita akan mampu membaca mengapa berbagai bentuk warfare modern lahir, mengapa teknologi berkembang sedemikian cepat, dan mengapa pertahanan negara harus berevolusi mengikuti perubahan lingkungan strategis global.

Atas dasar pemikiran itulah, bagian ini akan menguraikan evolusi perang secara bertahap, mulai dari pemikiran klasik, perkembangan revolusi militer, lahirnya berbagai bentuk warfare modern, hingga munculnya kebutuhan akan sebuah perspektif baru dalam membaca konflik kontemporer. Perspektif tersebut dalam buku ini dirumuskan sebagai Perang Fondasi, yaitu kerangka konseptual yang menjelaskan bahwa konflik modern pada akhirnya bermuara pada perebutan dan pengendalian fondasi kehidupan suatu bangsa: energi, data, dan persepsi.

Dengan demikian, memahami evolusi perang bukan sekadar mempelajari masa lalu, melainkan menyiapkan cara berpikir baru agar Indonesia mampu membangun sistem pertahanan yang relevan menghadapi tantangan abad ke-21.

HAKIKAT PERANG: DARI KEHENDAK MANUSIA MENUJU KEPENTINGAN NEGARA

Sejak ribuan tahun lalu, para pemikir militer telah berusaha menjawab satu pertanyaan mendasar: mengapa manusia berperang?

Jawaban atas pertanyaan tersebut terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Namun terdapat satu benang merah yang tidak pernah berubah, yaitu bahwa perang selalu berkaitan dengan kepentingan yang dianggap sangat penting sehingga suatu pihak bersedia menggunakan kekuatan untuk mempertahankan atau mencapainya.

Dalam tradisi Timur, salah satu pemikir strategi yang paling berpengaruh adalah Sun Tzu. Dalam karya klasik The Art of War, ia memandang perang sebagai persoalan yang sangat menentukan bagi keberlangsungan suatu negara. Karena itu, perang harus dipahami secara mendalam sebelum diputuskan. Bagi Sun Tzu, kemenangan terbaik bukanlah menghancurkan musuh melalui pertempuran yang panjang, melainkan mencapai tujuan strategis dengan kerugian sekecil mungkin. Pemikiran ini menunjukkan bahwa strategi, informasi, tipu daya, dan kemampuan membaca lawan sering kali lebih menentukan daripada sekadar kekuatan fisik.

Berabad-abad kemudian, pemikir militer Prusia Carl von Clausewitz memberikan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi. Ia menyatakan bahwa perang merupakan kelanjutan politik dengan cara lain. Artinya, perang bukan tujuan akhir, melainkan instrumen negara untuk mencapai tujuan politik ketika cara-cara damai tidak lagi mampu menyelesaikan konflik.

Dua pemikiran tersebut tetap relevan hingga saat ini.

Sun Tzu mengajarkan pentingnya memenangkan konflik melalui kecerdasan strategi, sedangkan Clausewitz menjelaskan bahwa perang tidak pernah terlepas dari tujuan politik negara. Keduanya memperlihatkan bahwa perang tidak dapat dipahami hanya sebagai benturan senjata, tetapi juga sebagai benturan kepentingan, kehendak, dan kemampuan memengaruhi lawan.

Perkembangan sejarah membuktikan bahwa setiap perubahan besar dalam peradaban manusia selalu diikuti oleh perubahan karakter perang. Ketika manusia mulai mengenal pertanian, konflik bergeser menjadi perebutan lahan subur dan sumber air. Ketika jalur perdagangan berkembang, pelabuhan dan selat menjadi sasaran strategis. Ketika Revolusi Industri melahirkan mesin dan produksi massal, industri pertahanan menjadi penentu kemenangan. Memasuki era informasi, data dan jaringan komunikasi mulai memiliki nilai strategis yang setara dengan wilayah fisik.

Dengan demikian, sejarah perang menunjukkan satu pola yang konsisten.

Yang berubah bukan hanya alat untuk berperang, tetapi juga objek yang diperebutkan.

Pada masa lalu, kekuasaan banyak ditentukan oleh luas wilayah dan jumlah pasukan. Kini, kemampuan suatu negara semakin ditentukan oleh penguasaan teknologi, energi, data, ruang angkasa, sistem informasi, serta kemampuan membangun dan menjaga kepercayaan publik.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perang terus mengalami evolusi mengikuti perubahan pusat gravitasi kekuatan suatu bangsa. Ketika pusat kekuatan berubah, maka sasaran konflik pun ikut berubah.

Inilah yang menjadi dasar mengapa berbagai bentuk warfare modern terus bermunculan. Masing-masing berkembang sebagai respons terhadap perubahan teknologi dan perubahan pusat kekuatan nasional. Oleh sebab itu, memahami perang modern tidak cukup hanya menghafal berbagai istilah warfare, tetapi harus mampu membaca hubungan logis di antara semuanya.

Pemahaman inilah yang akan membawa pembahasan pada bagian berikutnya, yaitu bagaimana revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi mengubah wajah peperangan dari konflik konvensional menuju peperangan multidomain yang berlangsung secara serempak di darat, laut, udara, ruang angkasa, ruang siber, ruang informasi, dan ruang kognitif manusia.

EVOLUSI PERANG: KETIKA PERADABAN BERUBAH, PEPERANGAN PUN BERUBAH

Tidak ada perang yang lahir dalam ruang hampa. Setiap perubahan besar dalam sejarah peperangan selalu mengikuti perubahan besar dalam peradaban manusia. Ketika manusia menemukan teknologi baru, membangun sistem ekonomi yang lebih maju, atau mengubah cara mengelola negara, karakter peperangan pun ikut mengalami transformasi.

Pada masa prasejarah, peperangan berlangsung dalam skala kecil. Senjata yang digunakan masih sangat sederhana, seperti batu, kayu, kapak, tombak, dan busur. Tujuan utama konflik ketika itu adalah mempertahankan kehidupan, memperoleh sumber pangan, melindungi kelompok, atau memperebutkan wilayah yang memungkinkan suatu komunitas bertahan hidup. Kemenangan lebih banyak ditentukan oleh keberanian, kekuatan fisik, dan kemampuan memimpin.

Memasuki masa kerajaan dan kekaisaran, perang berkembang menjadi instrumen untuk memperluas wilayah, menguasai jalur perdagangan, memperoleh upeti, serta memperkuat legitimasi politik. Munculnya organisasi militer yang lebih teratur, sistem logistik, benteng pertahanan, dan armada laut menunjukkan bahwa peperangan mulai menjadi bagian dari strategi membangun negara.

Perubahan besar berikutnya terjadi ketika mesiu ditemukan dan digunakan secara luas dalam peperangan. Penemuan ini mengubah keseimbangan kekuatan yang telah bertahan selama berabad-abad. Benteng yang sebelumnya hampir tidak dapat ditembus mulai kehilangan keunggulannya. Senjata api menggantikan banyak peran senjata tradisional, sedangkan artileri mengubah cara suatu pasukan menyerang maupun bertahan. Sejak saat itu, perkembangan teknologi mulai menjadi faktor penentu dalam evolusi perang.

Revolusi Industri mempercepat perubahan tersebut secara luar biasa. Produksi massal memungkinkan negara membangun persenjataan dalam jumlah besar. Kereta api mempercepat mobilisasi pasukan, kapal uap memperluas jangkauan operasi militer, sementara telegraf memungkinkan komando disampaikan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kemampuan industri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kekuatan militer.

Memasuki abad ke-20, Perang Dunia Pertama menunjukkan bahwa perang telah berubah menjadi perang industri. Jutaan prajurit dimobilisasi, jutaan ton logistik dipindahkan, dan teknologi menjadi faktor yang menentukan. Senapan mesin, tank, kapal selam, pesawat terbang, serta artileri jarak jauh mengubah wajah medan tempur secara drastis. Kemenangan tidak lagi hanya bergantung pada keberanian prajurit, tetapi juga pada kemampuan negara mengelola industri, logistik, dan sumber daya nasional.

Perang Dunia Kedua membawa evolusi yang lebih besar lagi. Penggunaan radar, kapal induk, operasi gabungan lintas matra, roket, hingga bom atom memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan telah menjadi kekuatan strategis. Sejak saat itu, penguasaan teknologi tidak lagi sekadar mendukung peperangan, tetapi menjadi salah satu penentu kemenangan.

Sesudah Perang Dunia Kedua berakhir, dunia memasuki era Perang Dingin. Persaingan antara dua kekuatan besar tidak berkembang menjadi perang terbuka berskala global, tetapi berlangsung melalui perlombaan senjata nuklir, penguasaan ruang angkasa, operasi intelijen, perang proksi, serta kompetisi teknologi dan ekonomi. Konflik mulai bergeser dari penghancuran langsung menuju upaya memengaruhi keseimbangan kekuatan global tanpa konfrontasi militer secara langsung.

Rangkaian perubahan tersebut menunjukkan satu pola yang sangat penting.

Evolusi perang tidak pernah berhenti pada perubahan jenis senjata. Setiap lompatan besar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan organisasi negara selalu melahirkan bentuk peperangan yang baru. Dengan kata lain, evolusi perang sesungguhnya merupakan cerminan dari evolusi peradaban manusia itu sendiri.

Pemahaman ini menjadi sangat penting karena memasuki abad ke-21 dunia kembali mengalami revolusi besar melalui digitalisasi, kecerdasan buatan, komputasi, satelit, jaringan komunikasi global, dan integrasi ekonomi dunia. Perubahan inilah yang kemudian melahirkan berbagai bentuk warfare modern yang tidak lagi hanya bertumpu pada kekuatan militer konvensional, tetapi juga pada penguasaan ruang siber, informasi, ekonomi, ruang angkasa, dan dimensi kognitif manusia.

Dengan demikian, sebelum memahami berbagai bentuk warfare modern, terlebih dahulu harus dipahami bahwa semuanya merupakan bagian dari proses evolusi panjang peperangan yang mengikuti perubahan pusat kekuatan dalam peradaban manusia.

LAHIRNYA BERBAGAI BENTUK WARFARE: EVOLUSI MEDAN PERTEMPURAN ABAD KE-21

Memasuki abad ke-21, dunia menyaksikan perubahan yang jauh lebih cepat dibandingkan seluruh periode sebelumnya. Revolusi digital, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), komputasi berkecepatan tinggi, satelit, internet, media sosial, serta integrasi ekonomi global telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Perubahan tersebut tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga mengubah karakter peperangan.

Jika pada masa lalu medan tempur hanya dikenal di darat, laut, dan udara, maka kini peperangan berlangsung secara multidomain. Negara tidak lagi hanya mempertahankan wilayah geografisnya, tetapi juga harus menjaga ruang siber, ruang informasi, ruang ekonomi, ruang angkasa, bahkan ruang kognitif yang membentuk cara berpikir masyarakat.

Perubahan inilah yang melahirkan berbagai bentuk warfare modern.

Land Warfare tetap menjadi fondasi peperangan karena wilayah daratan merupakan tempat berlangsungnya pemerintahan, kehidupan masyarakat, serta penguasaan teritorial.

Naval Warfare berkembang seiring meningkatnya arti penting jalur pelayaran, perdagangan internasional, dan penguasaan laut sebagai penghubung ekonomi dunia.

Air Warfare menghadirkan dimensi baru melalui kemampuan menyerang sasaran dalam waktu singkat, memperoleh superioritas udara, dan mendukung operasi gabungan lintas matra.

Memasuki era digital, lahirlah Cyber Warfare, yaitu penggunaan kemampuan siber untuk mengganggu, melumpuhkan, atau mengambil alih sistem informasi, jaringan komunikasi, infrastruktur digital, serta berbagai layanan strategis suatu negara. Dalam banyak kasus, serangan siber mampu menimbulkan dampak yang setara dengan serangan militer tanpa kehadiran pasukan di lapangan.

Perkembangan teknologi informasi juga melahirkan Information Warfare, yaitu perebutan kendali atas informasi melalui penyebaran narasi, propaganda, disinformasi, maupun manipulasi opini publik. Tujuannya bukan menghancurkan fisik lawan, melainkan memengaruhi cara masyarakat berpikir, mengambil keputusan, dan memandang legitimasi suatu institusi.

Selanjutnya berkembang Electronic Warfare, yaitu penggunaan spektrum elektromagnetik untuk mengganggu radar, komunikasi, sistem navigasi, maupun kemampuan penginderaan lawan. Dalam peperangan modern, dominasi spektrum elektromagnetik menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan operasi militer.

Di bidang ekonomi muncul Economic Warfare, yaitu penggunaan instrumen ekonomi, perdagangan, investasi, rantai pasok, sanksi, maupun penguasaan komoditas strategis sebagai alat untuk memengaruhi kebijakan dan kemampuan suatu negara.

Kemudian lahir Hybrid Warfare, yaitu perpaduan berbagai instrumen militer dan nonmiliter secara terpadu. Dalam bentuk ini, operasi militer dapat berjalan bersamaan dengan serangan siber, tekanan ekonomi, operasi informasi, diplomasi, serta perang proksi sehingga batas antara damai dan perang menjadi semakin kabur.

Perkembangan berikutnya melahirkan Cognitive Warfare, yaitu upaya memengaruhi cara manusia berpikir, mempersepsikan informasi, membangun keyakinan, hingga mengambil keputusan. Dalam perang jenis ini, sasaran utamanya bukan wilayah atau infrastruktur, melainkan pikiran manusia.

Sementara itu, kemajuan teknologi satelit menjadikan ruang angkasa sebagai domain strategis baru melalui Space Warfare. Satelit komunikasi, navigasi, cuaca, penginderaan jauh, dan intelijen kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari operasi militer modern. Gangguan terhadap satelit dapat memengaruhi sistem navigasi, komunikasi, logistik, hingga kemampuan komando dan kendali suatu negara.

Seluruh perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perang modern telah berkembang menjadi konflik multidomain yang berlangsung secara serempak. Tidak ada lagi batas yang tegas antara perang militer, perang ekonomi, perang informasi, maupun perang siber. Semua saling berhubungan dan saling memperkuat.

Namun di balik semakin banyaknya istilah warfare tersebut, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar.

Apakah seluruh bentuk warfare itu merupakan tujuan akhir peperangan?

Ataukah semuanya hanyalah instrumen untuk menguasai sesuatu yang lebih mendasar?

Pertanyaan inilah yang akan membawa pembahasan pada bagian berikutnya. Di balik keragaman bentuk warfare, sesungguhnya terdapat satu pola yang semakin jelas, yaitu upaya untuk menguasai fondasi yang menopang kehidupan suatu negara. Dari sinilah konsep Perang Fondasi mulai memperoleh relevansinya sebagai kerangka konseptual dalam memahami evolusi peperangan abad ke-21.

DARI BERBAGAI WARFARE MENUJU PERANG FONDASI

Setelah menelaah evolusi peperangan dari masa ke masa, tampak bahwa perubahan terbesar dalam sejarah perang bukan semata-mata terletak pada perkembangan senjata atau bertambahnya domain peperangan. Perubahan yang jauh lebih mendasar adalah bergesernya pusat gravitasi kekuatan suatu negara.

Pada masa lalu, kekuatan negara diukur terutama dari luas wilayah, jumlah penduduk, besar angkatan perang, dan kemampuan menguasai daerah lawan. Karena itu, peperangan diarahkan untuk menghancurkan pasukan musuh dan merebut wilayahnya.

Namun memasuki abad ke-21, indikator kekuatan nasional mengalami perubahan yang sangat signifikan. Kemajuan teknologi, globalisasi ekonomi, digitalisasi, dan keterhubungan dunia telah menciptakan ketergantungan baru yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya.

Sebuah negara dapat memiliki wilayah yang luas dan angkatan bersenjata yang besar, tetapi tetap mengalami kelumpuhan apabila pasokan energinya terganggu, sistem datanya diretas, jaringan komunikasinya lumpuh, atau kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara runtuh.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sasaran konflik telah bergeser dari penghancuran kekuatan fisik menuju penguasaan fondasi yang menopang kehidupan nasional.

Dalam perspektif inilah, berbagai bentuk warfare modern sesungguhnya dapat dipahami sebagai instrumen yang bekerja pada domain yang berbeda, tetapi memiliki arah yang sama.

Cyber Warfare menyerang sistem digital dan jaringan informasi.

Information Warfare memengaruhi cara masyarakat menerima dan memaknai informasi.

Electronic Warfare mengganggu kemampuan komunikasi dan pengendalian operasi.

Economic Warfare menekan kemampuan ekonomi dan rantai pasok.

Space Warfare menguasai infrastruktur ruang angkasa yang menopang komunikasi, navigasi, dan penginderaan.

Hybrid Warfare mengintegrasikan seluruh instrumen tersebut ke dalam satu operasi yang saling mendukung.

Jika diperhatikan secara terpisah, seluruh bentuk warfare tersebut tampak berbeda.

Namun apabila dianalisis secara utuh, semuanya memperlihatkan pola yang sama, yaitu upaya untuk memengaruhi fondasi yang memungkinkan suatu negara tetap berfungsi.

Atas dasar pemikiran tersebut, dalam buku ini diperkenalkan Perang Fondasi sebagai kerangka konseptual untuk membaca evolusi peperangan modern.

Perang Fondasi tidak dimaksudkan sebagai jenis peperangan baru, dan juga bukan pengganti konsep-konsep warfare yang telah berkembang dalam kajian strategi militer. Sebaliknya, Perang Fondasi merupakan perspektif analitis yang menjelaskan bahwa berbagai bentuk warfare modern pada akhirnya diarahkan untuk menguasai atau melemahkan fondasi kehidupan suatu bangsa.

Dalam formulasi konseptual yang dikembangkan penulis, terdapat tiga fondasi utama yang menjadi pusat perhatian.

Pertama, energi.

Energi merupakan sumber kehidupan negara modern. Listrik, bahan bakar, jaringan distribusi, dan seluruh infrastruktur energi menentukan keberlangsungan pemerintahan, industri, pelayanan publik, komunikasi, serta aktivitas ekonomi. Ketika fondasi energi terganggu, seluruh sistem nasional ikut terdampak.

Kedua, data.

Data telah menjadi sumber daya strategis abad ke-21. Pengambilan keputusan pemerintahan, operasi militer, transaksi ekonomi, kecerdasan buatan, hingga pelayanan publik bergantung pada data yang akurat, aman, dan dapat dipercaya. Penguasaan data berarti penguasaan terhadap kemampuan membaca, memprediksi, dan memengaruhi arah suatu sistem.

Ketiga, persepsi.

Persepsi merupakan fondasi kepercayaan. Legitimasi pemerintah, stabilitas politik, kohesi sosial, moral bangsa, bahkan keberhasilan operasi militer sangat dipengaruhi oleh cara masyarakat memahami suatu peristiwa. Dalam era media digital, perebutan persepsi sering kali berlangsung lebih cepat dibandingkan pergerakan pasukan di medan tempur.

Ketiga fondasi tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Gangguan terhadap energi dapat berkembang menjadi krisis ekonomi. Gangguan terhadap data dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan. Manipulasi persepsi dapat menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Ketika ketiganya terganggu secara bersamaan, kemampuan negara untuk menjalankan fungsi-fungsi strategisnya akan melemah tanpa harus mengalami kekalahan militer secara konvensional.

Dengan demikian, Perang Fondasi bukan sekadar menjelaskan bagaimana perang dilakukan, tetapi lebih jauh menjelaskan apa yang sesungguhnya diperebutkan dalam konflik abad ke-21. Dari perspektif inilah, evolusi perang memperoleh makna yang lebih utuh: peperangan modern pada akhirnya merupakan perebutan fondasi yang menentukan kemampuan suatu bangsa untuk bertahan, berkembang, dan menjaga kedaulatannya.

 PENUTUP

Perjalanan panjang evolusi peperangan menunjukkan satu kenyataan yang tidak dapat diabaikan.

Perang tidak pernah berhenti berubah.

Perubahan tersebut bukan sekadar akibat kemajuan teknologi, tetapi merupakan konsekuensi dari perubahan peradaban manusia. Ketika pusat kekuatan dunia bergeser, karakter ancaman pun ikut berubah. Ketika teknologi berkembang, ruang konflik ikut meluas. Dan ketika kehidupan manusia semakin bergantung pada energi, data, jaringan digital, serta persepsi publik, maka sasaran peperangan pun ikut mengalami transformasi.

Berbagai bentuk Land Warfare, Naval Warfare, Air Warfare, Cyber Warfare, Information Warfare, Electronic Warfare, Economic Warfare, Hybrid Warfare, Cognitive Warfare, hingga Space Warfare pada hakikatnya merupakan respons terhadap perubahan tersebut.

Dalam perspektif buku ini, seluruh bentuk warfare tersebut bukanlah tujuan akhir peperangan, melainkan instrumen untuk memengaruhi fondasi yang menopang kehidupan suatu bangsa.

Atas dasar pemikiran itulah, diperkenalkan Perang Fondasi sebagai kerangka konseptual untuk membaca evolusi peperangan abad ke-21. Sebuah perspektif yang memandang bahwa konflik modern pada akhirnya bermuara pada perebutan dan pengendalian energi, data, dan persepsi sebagai fondasi strategis suatu negara.

Pemahaman tersebut sekaligus membawa kita pada satu pertanyaan yang jauh lebih penting.

Apabila karakter perang telah berubah secara mendasar, apakah sistem pertahanan Indonesia juga harus tetap dipertahankan dalam pola berpikir yang lama?

Ataukah Indonesia perlu membangun paradigma pertahanan baru yang mampu menjawab tantangan perang multidomain, kecerdasan buatan, ruang siber, ruang angkasa, serta perebutan fondasi strategis bangsa?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menjadi pembahasan pada tulisan berikutnya.

Bersambung pada BAGIAN 2

EVOLUSI PERTAHANAN INDONESIA

Dari Jenderal Soedirman Menuju Era Artificial Intelligence

Apakah Sistem Pertahanan Semesta yang diwariskan para pendiri bangsa masih relevan menghadapi perang abad ke-21?

Bagaimana posisi Perang Fondasi dan Pertahanan Nir-Materi dalam evolusi pertahanan Indonesia di masa depan?

Seluruhnya akan dibahas pada BAGIAN 2.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas