indonews

indonews.id

Visum Pastikan Pilot AMA Tewas Ditembak, TPNPB Klaim Serangan sebagai Peringatan untuk PBB, AS dan Belanda

Visum Pastikan Pilot AMA Tewas Ditembak, TPNPB Klaim Serangan sebagai Peringatan untuk PBB, AS dan Belanda

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Hasil visum terhadap jenazah pilot pesawat milik Maskapai Associated Mission Aviation (AMA), Nicholas F. Goselin (29), memastikan warga negara Amerika Serikat itu meninggal dunia akibat satu tembakan yang menembus wajah hingga kepala.

Di sisi lain, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim bertanggung jawab atas penembakan dan pembakaran pesawat tersebut, serta menyebut aksi itu sebagai peringatan politik kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amerika Serikat, dan Belanda.

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura, Kombes Pol dr. Rommy Sebastian, mengatakan hasil visum menunjukkan korban mengalami satu luka tembak masuk berdiameter sekitar 9 milimeter pada pipi kiri yang menembus hingga keluar di sisi kanan kepala.

“Luka terbuka yang ditemukan pada pipi kiri sesuai luka tembak masuk, posisi moncong senjata tegak lurus dengan permukaan kulit. Jadi dari sisi kiri itu, kemudian keluar di sisi kanan sehingga mengakibatkan tulang pipi sebelah kanan patah,” kata Rommy usai melakukan visum di Rumah Sakit Bhayangkara Kotaraja, Jayapura, Jumat (3/7/2026) malam.

Selain luka tembak, tim forensik menemukan sejumlah luka terbuka pada kepala, dahi, pipi kiri, dan sekitar telinga kanan. Korban juga mengalami patah tulang rahang atas kiri dan kanan, patah rahang bawah sisi kanan, serta luka akibat benturan benda tumpul.

Pemeriksaan radiologi turut menemukan patah pada struktur dasar tengkorak yang menyebabkan korban meninggal dunia dalam waktu singkat.

“Ini yang menyebabkan korban langsung meninggal dunia atau meninggal dengan cepat,” ujar Rommy.

Sementara itu, Kepala Satgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan hasil visum menjadi bagian penting dalam proses pembuktian hukum atas peristiwa penembakan tersebut.

Ia menambahkan penyidik masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan alat bukti guna mengungkap seluruh rangkaian kejadian.

Yusuf juga membantah informasi yang menyebut pesawat AMA digunakan untuk mengangkut personel TNI-Polri. Menurutnya, pesawat tersebut menjalankan misi pelayanan keagamaan di wilayah pedalaman Papua.

“Kami sudah berkomunikasi dengan maskapai AMA. Mereka telah melayani penerbangan ke pedalaman Papua selama 67 tahun dan baru kali ini mengalami kejadian seperti ini. Jadi, murni PT AMA melakukan kegiatan keagamaan, yaitu melayani gereja-gereja terutama di wilayah pedalaman Papua,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Satgas Penegakan Hukum Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Pol I. G. G. Era Adinata menyebut hasil penyelidikan sementara mengarah pada dugaan keterlibatan kelompok baru TPNPB Kodap XVI Yahukimo yang dipimpin M. Balingga atau dikenal sebagai kelompok Bakusup.

Menurut Era, penyidik telah memeriksa sejumlah saksi, melakukan wawancara, serta memantau berbagai unggahan di media sosial yang diduga berkaitan dengan aksi penyerangan tersebut.

“Ini KKB baru yaitu kelompok KKB Bakusup yang dipimpin M. Balingga. Dalam pantauan di media sosial menyatakan mereka anak buah dari Elkius Kobak Kodap XVI Yahukimo. Namun terkait hubungan dengan Elkius Kobak, kami akan dalami lagi,” ujarnya.

Polisi juga menyatakan masih memburu para pelaku dan mendalami kronologi penembakan yang terjadi di Lapangan Terbang Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Kamis (2/7/2026).

Di tengah proses penyelidikan, Manajemen Markas Pusat Komando Nasional TPNPB pada Sabtu (4/7/2026) merilis siaran pers yang mengklaim bertanggung jawab atas penembakan pilot Nicholas F. Goselin dan pembakaran pesawat AMA.

Melalui juru bicaranya, Sebby Sambom, TPNPB menyampaikan pernyataan yang disebut berasal dari Komandan Operasi Umum TPNPB Mayor Jenderal Lekagak Telenggen. Dalam pernyataan tersebut, TPNPB menyebut aksi penembakan dilakukan sebagai peringatan kepada PBB, Amerika Serikat, dan Belanda terkait persoalan politik Papua.

TPNPB juga mendesak PBB segera menyelesaikan persoalan politik Papua dan menyatakan aksi serupa akan terus dilakukan apabila tuntutan mereka tidak mendapat respons.

Selain itu, kelompok tersebut kembali mengangkat isu sejarah operasi pertambangan PT Freeport McMoRan dan mengimbau maskapai sipil menghentikan aktivitas yang menurut mereka berkaitan dengan distribusi personel maupun logistik militer Indonesia di Papua.

Pernyataan tersebut merupakan klaim sepihak dari TPNPB. Hingga kini aparat kepolisian masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap seluruh pelaku serta motif di balik penembakan yang menewaskan pilot AMA tersebut.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas