JEJAK PERADABAN 002 KETIKA KESERAKAHAN MENGALAHKAN HATI NURANI
JEJAK PERADABAN 002 KETIKA KESERAKAHAN MENGALAHKAN HATI NURANI
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Renungan Visual
Keserakahan tidak pernah hadir sebagai kebutuhan. Ia tumbuh dari keinginan yang terus merasa kurang dan tidak pernah mengenal kata cukup. Ketika hati nurani mulai dibungkam, manusia perlahan kehilangan kepekaan untuk membedakan antara hak dan yang bukan haknya.
Kekuasaan tidak selalu mengubah watak seseorang, tetapi kekuasaan hampir selalu memperlihatkan jati dirinya. Di tangan mereka yang berintegritas, kekuasaan menjadi amanah untuk melayani. Di tangan mereka yang dikuasai keserakahan, kekuasaan berubah menjadi alat untuk membenarkan segala cara. Karena itu, yang menjaga martabat kekuasaan bukanlah besarnya kewenangan, melainkan kokohnya hati nurani dan integritas.
Pada saat itulah hukum menghadapi ujian yang sesungguhnya. Hukum mungkin tetap tertulis, lembaga tetap berdiri, dan kekuasaan tetap berjalan. Namun tanpa integritas, hukum kehilangan jiwanya. Keadilan berubah menjadi sekadar prosedur, bukan lagi nilai yang hidup dalam kehidupan berbangsa.
Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada peradaban yang runtuh hanya karena kekurangan kekayaan.
Banyak peradaban justru melemah ketika keserakahan mengalahkan kebijaksanaan, ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama, dan ketika hati nurani dikorbankan demi
keuntungan sesaat.
Peradaban yang kokoh tidak dibangun oleh banyaknya harta, melainkan oleh manusia yang mampu berkata "cukup", menghormati hukum, menjaga integritas, dan memelihara kepercayaan. Sebab kekayaan dapat membangun gedung-gedung megah, tetapi hanya kejujuran dan integritas yang mampu membangun peradaban yang bermartabat.
Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 14 Juli 2026
