Menteri Pendidikan India Mundur usai Gelombang Demo Mahasiswa, Pemerintah Janji Usut Kebocoran Soal Ujian
Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mengundurkan diri dari jabatannya setelah menghadapi gelombang demonstrasi besar yang digelar mahasiswa dan pemuda selama beberapa pekan akibat skandal kebocoran soal ujian nasional. Pengunduran diri itu diumumkan di tengah memanasnya aksi unjuk rasa di ibu kota New Delhi, Sabtu (25/7).
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mengundurkan diri dari jabatannya setelah menghadapi gelombang demonstrasi besar yang digelar mahasiswa dan pemuda selama beberapa pekan akibat skandal kebocoran soal ujian nasional. Pengunduran diri itu diumumkan di tengah memanasnya aksi unjuk rasa di ibu kota New Delhi, Sabtu (25/7).
Pradhan menyampaikan keputusan tersebut melalui akun media sosial X saat aparat kepolisian membubarkan demonstran di kawasan Jantar Mantar dengan menembakkan gas air mata.
"Melihat situasi yang terjadi di Jantar Mantar dan di seluruh negeri, serta agar kekuatan anti-nasional tidak memanfaatkan situasi ini, saya telah mengirimkan surat pengunduran diri saya kepada Perdana Menteri (Narendra Modi)," tulis Pradhan.
Ia mengatakan tidak ingin puluhan ribu mahasiswa yang menuntut pengunduran dirinya dimanfaatkan oleh kelompok yang disebutnya sebagai "anti-nasional".
Pengunduran diri Pradhan terjadi setelah Perdana Menteri Narendra Modi berjanji mengambil langkah tegas terhadap para pelaku kebocoran soal ujian yang memicu kemarahan publik. Pemerintah juga berkomitmen membentuk pengadilan jalur cepat (fast-track court) untuk mempercepat proses hukum terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Dalam pesan video yang ditujukan kepada para pelajar, Modi menegaskan pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang merusak kredibilitas sistem pendidikan nasional.
Skandal kebocoran soal yang berulang, disertai gangguan teknis dan pembatalan sejumlah ujian secara mendadak, berkembang menjadi salah satu tantangan politik terbesar bagi pemerintahan Modi pada periode ketiganya.
Gelombang protes dipusatkan di kawasan Jantar Mantar, kompleks observatorium bersejarah di New Delhi yang berada tidak jauh dari Gedung Parlemen. Sejak awal pekan, demonstran juga menduduki sebagian ruas Parliament Street, salah satu jalur utama yang menghubungkan kompleks parlemen dengan kawasan bisnis Connaught Place.
Bentrokan antara massa dan aparat sempat terjadi ketika demonstran berupaya bergerak menuju Gedung Parlemen. Polisi membubarkan aksi menggunakan gas air mata dan tongkat untuk menghalau massa.
Gerakan protes dipelopori oleh Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoak, sebuah gerakan yang bermula dari kampanye satir di media sosial pada Mei lalu sebelum berkembang menjadi wadah nasional yang menuntut reformasi menyeluruh di sektor pendidikan India.
Pada Sabtu malam, aktivis terkemuka India Sonam Wangchuk juga mengakhiri aksi mogok makan yang telah dijalaninya selama 26 hari sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah agar segera memenuhi tuntutan para demonstran.
Meski Menteri Pendidikan telah mengundurkan diri, kelompok mahasiswa menyatakan aksi unjuk rasa akan terus berlanjut hingga pemerintah memenuhi seluruh tuntutan reformasi sistem pendidikan dan menjamin integritas penyelenggaraan ujian nasional.
Sementara itu, tindakan aparat yang menggunakan gas air mata serta pemutusan layanan internet seluler di sekitar lokasi demonstrasi menuai kritik dari sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional. Human Rights Watch dan Amnesty International menilai respons aparat terhadap aksi protes berlangsung secara berlebihan dan mendesak pemerintah India menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat secara damai.
