indonews

indonews.id

UNTUK APA MERDEKA ?

UNTUK APA MERDEKA ?

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Oleh: JIMMY H SIAHAAN


Kami yang terbaring antara Krawang- Bekasi tidak bisa teriak " Merdeka". Kenanglah kami, teruskan jiwa kami menjaga Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir. Penggalan kalimat "Krawang Bekasi" karya Chairil Anwar.


Saat ini kita mengalami masa musim kering. Kita kehilangan pemimpin panutan dari Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Sjahrir.


Kita memasuki masa pacekelik ketika masuk dalam masa Reformasi yang ternyata lambat laun dimakan zaman. Bertambah lama kita semakin kehilangan bayangan pemimpin panutan.


Kepemimpinan intelektual dan moral kerangka kerja yang berakar pada konsep hegemoni budaya Antonio Gramsci adalah tentang membentuk masyarakat dengan memenangkan hati dan pikiran, bukan hanya dengan menggunakan kekuasaan.


Kepemimpinan Intelektual, melibatkan pemikiran kritis, pengetahuan mendalam, dan kemampuan untuk mengartikulasikan visi baru yang layak untuk masyarakat. 


Para pemimpin di bidang ini menganalisis situasi, menantang asumsi yang berlaku, dan mengkomunikasikan ide-ide yang memengaruhi kesadaran publik.


Kepemimpinan Moral, berpusat pada memajukan kebaikan bersama melalui integritas, empati, dan keberanian. Hal ini memastikan bahwa keputusan tidak hanya strategis atau berdasarkan kepentingan sesaat, tetapi juga etis dan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan fundamental.


Ketika keduanya beririsan, para pemimpin mampu menginspirasi persetujuan yang tulus dan kemajuan masyarakat jangka panjang, memastikan bahwa kekuasaan tetap terikat pada kebijaksanaan dan bukan kesombongan.


Politikus & Negarawan


Perbedaan utama antara pemimpin politik dan negarawan terletak pada orientasi kekuasaan dan dampaknya. 


Pemimpin politik berfokus pada memenangkan pemilu dan mempertahankan kekuasaan. 


Sebaliknya, negarawan berorientasi pada pelayanan masyarakat yang abadi, mengutamakan kepentingan bangsa di atas golongan, serta memiliki visi jangka panjang.


Pemimpin Politik (Politikus) Orientasi, berfokus pada kemenangan elektoral, popularitas, dan kelangsungan kelompok/partainya.


Berpikir dalam skala pendek, sering kali terikat pada siklus pemilihan umum (misalnya, periode 5 tahunan).


Tindakan kebijakan yang dibuat cenderung populis untuk menyenangkan konstituen demi mempertahankan jabatan.


Pemimpin Negarawan Orientasi, mengabdi pada kemakmuran rakyat dan kemajuan jangka panjang negara.


Berpikir melampaui masa jabatannya saat ini, mewariskan kebijakan yang berkelanjutan untuk generasi masa depan.


Fokus pada keputusan yang benar dan strategis bagi negara, meskipun keputusan tersebut tidak populer di masa kini.


Pemimpin politik yang ideal pada akhirnya dapat bertransformasi menjadi negarawan saat ia mampu menanggalkan kepentingan pribadi maupun partainya dan mendedikasikan seluruh kepemimpinannya untuk rakyat. 


Seorang negarawan adalah pemimpin politik yang secara taat asas menyusun kebijakan negara berpandangan ke depan dan mengelola masalah besar .


Partai politik adalah suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan umum dan melalui pemilihan umum itu mampu menempatkan calonnya untuk menduduki jabatan.


Produk pemimpin masa lalu nampak banyak menghasilkan "negarawan", nampak berbeda dengan produk masa kini yang lebih banyak menghasilkan "politikus".


Zaman Edan


W.S. Rendra sering menggambarkan kondisi sosial politik yang kacau di Indonesia sebagai "zaman edan". 


Konsep ini terinspirasi dari ramalan pujangga Jawa, Ronggowarsito. Rendra menggunakan karya sastranya untuk mengkritik hilangnya akal sehat, ketidakadilan, dan kerusakan moral penguasa.


Rendra mengadaptasi konsep dari karya Ronggowarsito, khususnya Serat Kalatida.


Hilangnya Akal Sehat, "Zaman edan" adalah masa ketika akal sehat diremehkan, nilai-nilai kebenaran dijungkirbalikkan, dan masyarakat dilanda kebingungan.


Rendra menggunakannya untuk menyindir sistem pemerintahan yang korup, otoriter, dan menindas rakyat kecil.


Megatruh Kambuh, Salah satu karya di mana Rendra menggugat kondisi zaman dengan gaya dan pandangannya sendiri.


Sajak Sebatang Lisong, Puisi ini menyoroti dunia pendidikan yang kaku dan mengkritik para wakil rakyat yang sibuk dengan urusan sendiri alih-alih memikirkan rakyat.


Sajak Anak Muda, Menggambarkan generasi muda yang gagap dan kebingungan menghadapi realitas zaman yang rusak.


Pamflet Masa Darurat yang menekankan pentingnya seni dan sastra untuk melawan kebisuan serta mengkritik realita masyarakat.


Untuk Apa Merdeka ?


Penggalan dari Fadli Son, Untuk apa kita merdeka mengobarkan jiwa dan raga sepanjang sejarah. Dipenjara, disiksa, diplomasi dan gerilya yg panjang.


Pidatomu Bung Karno masih terngiang. Tapi kini menabrak tembok tembok.


Pikiran Bung Hatta, masih kubaca jauh memembus zaman, tapi cita-citamu, semakin karam.


Dalam "Pikiran dan Perjuangan", Bung Sjahrir, membuat kesimpulan, perjuangan rakyat kita pada hakekatnya revolusioner dan benar membutuhkan perubahan prinsipal dari kehidupan sekarang dengan segala sifat-sifatnya.


Perahumu tak tentu akan kemana. Berlajar ditengah gulita. Terombang ambing tanpa nahkoda.


Untuk apa kita merdeka ?

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas