indonews

indonews.id

Musik hubungkan Industri Festival Asia Pasifik: APIMFA Bangun Koneksi Lintas Market

Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews

JakartaINDONEWS.ID - Festival musik di berbagai negara Asia Pasifik kini memiliki platform baru untuk saling terhubung dan mengembangkan kolaborasi lintas negara. Resmi diperkenalkan di Lalala Festival Jakarta 2026, Asia Pacific International Music Festival Association (APIMFA) mempertemukan perwakilan industri musik dari beragam pasar musik di Asia Pasifik, termasuk Mainland China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Singapura, Australia, Indonesia, dan Filipina, dalam satu jejaring kolaborasi. Dengan mempertemukan pasar yang memiliki karakter dan ekosistem musik yang beragam, APIMFA membuka langkah baru untuk memperkuat koneksi lintas pasar, memperluas akses terhadap artis dan audiens, serta menciptakan peluang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan di antara festival dan industri musik.


Menghubungkan Ekosistem Musik di Berbagai Pasar


Kekuatan APIMFA dibangun dari rekam jejak dalam beberapa dekade terakhir, serta pengalaman para pendiri dan pelaku industri yang telah mengembangkan festival dan ekosistem musik di pasar masing-masing.

Dari Mainland China, Shen Yue, Vice President Modern Sky, membawa pengalaman dari Strawberry Music Festival, salah satu brand festival musik terkemuka di Mainland China. Sejak pertama kali digelar pada 2009, festival ini telah berkembang menjadi 168 edisi di 50 kota, dengan lebih dari 7.500 penampilan artis dan lebih dari 8 juta pengunjung hingga Juni 2025. Konten terkait festival juga telah menghasilkan lebih dari 10 miliar views di media sosial.

Jepang diwakili oleh Yuta Nomura, organizer CUEW Showcase and Conference, CUEW menjadi platform yang mempertemukan artis Jepang dan Asia dengan profesional musik internasional melalui pertunjukan, konferensi, dan networking. sekaligus mendorong koneksi dan kolaborasi lintas market.

Dari Korea Selatan, Kwangmin Seo, Project Manager Zandari Festa sekaligus Founder Whaley Time, membawa pengalaman dalam showcase, artist booking, international relations, dan cross-border touring. Zandari Festa, yang berarti “jembatan kecil”, dibangun dengan semangat untuk menghubungkan artis, audiens, promotor, dan produser dari berbagai market. Sementara itu, melalui Whaley Time, Kwangmin berfokus pada artist management, international touring, dan kolaborasi lintas market.

Taiwan diwakili oleh Chris Liu, Production Director FIREBALL Fest, salah satu festival rock dan alternative terkemuka di Taiwan yang diluncurkan pada 2017. FIREBALL dikenal melalui standar produksinya serta inovasi seperti seamless double main stage dan integrated RFID wristband technology. Festival ini secara konsisten menghadirkan lebih dari 40 artis internasional dan domestik, termasuk SUM 41, While She Sleeps, ELLEGARDEN, dan HYUKOH.

Sementara itu, Thailand membawa perspektif yang kuat dalam pengembangan komunitas dan ekosistem musik melalui Sarun, CEO Fungjai. Didirikan pada 2014, Fungjai menghubungkan artis independen dan penggemar melalui streaming, media, dan event. Pengalamannya juga mencakup Maho Rasop serta Bangkok Music City, konferensi musik dan showcase festival pertama di Thailand. Pada 2026, Bangkok Music City menghadirkan lebih dari 80 artis di delapan panggung dan menarik hampir 12.000 pengunjung serta lebih dari 400 delegasi dan pembicara internasional selama dua hari.

Dari Indonesia, Dewi Gontha, yang memimpin PT Java Festival Production (JFP), membawa pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang bisnis, marketing, dan event management. Di bawah kepemimpinannya, Java Jazz Festival berkembang menjadi salah satu festival jazz terkemuka di dunia, sementara JFP menjadi salah satu promotor musik ternama di Indonesia. Indonesia juga menjadi bagian penting dari jejaring APIMFA melalui LaLaLa Festival, yang dipimpin oleh Donny Heru, CEO of The Group. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di industri live events, Donny memiliki rekam jejak dalam penyelenggaraan berbagai konser dan festival internasional serta mendorong kolaborasi lintas kawasan dalam industri musik.

Jaringan ini turut mencakup Row One Asia dari Singapura, perusahaan live entertainment yang bergerak di bidang promosi konser, festival musik, dan teknologi ticketing, dengan Live Out Loud sebagai festival musik Singapura yang berorientasi global dan mempertemukan talenta internasional serta emerging talent. Dari Australia, Untitled Group, salah satu perusahaan live music dan events independen terkemuka di Australia, hadir dengan portofolio festival seperti Beyond The Valley, Pitch Music & Arts, Wildlands, dan Ability Fest. Kehadiran kedua entitas ini memperkuat koneksi APIMFA dengan pasar musik Australia dan Asia Tenggara, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di kawasan Asia Pasifik. APIMFA juga terus memperluas jejaringnya ke berbagai market di Asia.

Selain para founding members, APIMFA juga menghadirkan perspektif dari pelaku festival musik internasional.

Johnnie Moylett dari Fuji Rock Festival, Jepang, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas market dalam perkembangan industri festival musik di Asia Pasifik.

“Kolaborasi lintas market menjadi semakin penting bagi perkembangan industri festival di Asia Pasifik. Setiap market memiliki karakter, audiens, dan cara masing-masing dalam membangun pengalaman festival. Melalui APIMFA, kita memiliki kesempatan untuk saling berbagi pengalaman, membuka koneksi baru, dan menciptakan kolaborasi yang dapat memperkaya ekosistem musik di kawasan ini.”


Dari Jejaring Menjadi Kolaborasi Nyata


APIMFA tidak hanya dibentuk sebagai forum networking, tetapi juga untuk menerjemahkan koneksi antarpasar menjadi peluang yang dapat dijalankan melalui empat program utama.

Pertama, Cross-Market Collaboration mendorong integrasi sumber daya, pertukaran pengetahuan kuratorial, serta dukungan promosi lintas pasar antar-festival anggota. Kedua, Artist Exchange Program, yang menciptakan jalur pertunjukan lintas kawasan bagi artis untuk tampil di festival di berbagai pasar Asia Pasifik sekaligus memperluas basis audiens mereka.

APIMFA juga akan mengembangkan PR and Communications Support, termasuk sistem pengumuman regional, media toolkit, dan kanal komunikasi terintegrasi untuk memperkuat visibilitas festival dan para artis. Program keempat adalah Annual Conference and Showcase Festival yang akan bergilir di berbagai kota di Asia Pasifik dan menghadirkan panel industri, workshop, networking, serta showcase para artis.

Selain program tersebut, APIMFA berencana menerbitkan “Asia Pacific Festival Industry Report” secara tahunan yang akan membahas tren audiens, commercial partnerships, perkembangan tur regional, serta dinamika industri festival. APIMFA juga akan membangun hubungan dengan tourism boards, pemerintah, dan brand internasional untuk membuka peluang kemitraan serta mendorong representasi industri secara kolektif.

“Asia Pasifik berada pada titik penting dalam perkembangan industri live music. Dengan menghubungkan festival-festival dalam satu jejaring, kami tidak hanya ingin mempermudah touring dan pertukaran artis, tetapi juga membangun standar industri baru dalam hal keamanan, keberlanjutan, dan dampak lintas budaya,” ujar Donny Heru, Founder APIMFA.

Melalui jejaring yang mencakup berbagai pasar utama di Asia Pasifik, APIMFA ingin membangun fondasi yang lebih kuat bagi kolaborasi regional, menciptakan jalur baru bagi artis untuk tampil lintas kawasan, festival untuk berkolaborasi, audiens untuk menemukan musik baru, dan industri musik untuk tumbuh bersama.

Ke depannya, APIMFA akan membuka kesempatan bagi festival musik internasional lainnya di kawasan Asia Pasifik untuk bergabung dan menjadi bagian dari jaringan APIMFA. Informasi mengenai pendaftaran dan keanggotaan akan diumumkan dalam waktu dekat. Untuk informasi mengenai membership, partnership, dan informasi lebih lanjut: https://www.apimfa.org/ atau email info@apimfa.org.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas