indonews

indonews.id

Melaju Tak Terkendali! Bill Gates Bongkar Sisi Gelap AI: Dunia Sedang Hadapi Bencana Besar

Pendiri Microsoft, Bill Gates, mengingatkan dunia agar tidak terlena oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut Gates, teknologi tersebut berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi dampaknya.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Pendiri Microsoft, Bill Gates, mengingatkan dunia agar tidak terlena oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut Gates, teknologi tersebut berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi dampaknya.

Peringatan itu disampaikan Gates dalam memo terbarunya yang dirilis pada Rabu. Ia menilai AI berpotensi menjadi salah satu perubahan teknologi paling menentukan dalam sejarah manusia karena dampaknya tidak hanya menyentuh sektor teknologi, tetapi juga pekerjaan, keamanan, kesehatan, pendidikan hingga hubungan antarmanusia.

Dalam esainya, Gates bahkan menyebut masa transisi menuju era AI sebagai salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah manusia. Persoalannya, menurut dia, hingga kini belum terdapat rencana terkoordinasi yang memadai untuk memastikan perubahan tersebut berlangsung secara aman dan memberikan manfaat secara luas.

"AI dapat menjadi penyama kesempatan terbesar yang pernah diciptakan atau justru sumber ketidakadilan terburuk. AI will either be the greatest equalizer ever invented, or the worst source of injustice". Arah tersebut, menurut dia, sangat bergantung pada keputusan dan kebijakan yang dibuat manusia sejak sekarang.

Pekerjaan Manusia Terancam Terdampak

Gates menilai perubahan yang dibawa AI berbeda dengan sejumlah revolusi teknologi sebelumnya. Pada revolusi industri dan teknologi terdahulu, perubahan berlangsung dalam rentang beberapa generasi dan pada akhirnya menciptakan jenis pekerjaan baru yang tetap membutuhkan kemampuan kognitif manusia.

Kondisi tersebut berbeda dengan perkembangan AI. Teknologi ini tidak hanya menggantikan pekerjaan yang bersifat fisik, tetapi juga mulai mampu mengambil alih sejumlah pekerjaan yang selama ini bergantung pada kemampuan berpikir dan mengolah informasi.

Menurut Gates, dampak AI berpotensi dirasakan di berbagai bidang, mulai dari hukum, layanan pelanggan, kedokteran, perangkat lunak hingga manufaktur. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, ia memperkirakan jumlah pekerjaan yang tersedia di masa depan dapat menjadi jauh lebih sedikit dibandingkan saat ini. Ia juga menilai sejumlah risiko yang sebelumnya diperkirakan baru akan muncul dalam beberapa tahun ke depan kini mulai terlihat.

"AI akan menjadi pengubah permainan yang sangat besar," ujar Gates dilansir Axios dalam wawancara di kantornya di kawasan Seattle, Amerika Serikat.

Selain persoalan lapangan pekerjaan, Gates menyoroti risiko lain yang ditimbulkan AI, termasuk keamanan siber, ancaman biologis, hubungan manusia dengan teknologi, serta kemungkinan manusia kehilangan kendali terhadap sistem AI yang semakin canggih.

Menurut Gates, berbagai persoalan tersebut saat ini sudah berada dalam kategori yang patut mendapatkan perhatian serius. Ia menggambarkan sebagian risiko berada pada tingkat "kuning" hingga "merah", yang menunjukkan bahwa pemerintah dan masyarakat tidak lagi dapat memperlakukan persoalan tersebut sebagai ancaman jangka panjang semata. Dalam pandangannya, perkembangan teknologi AI juga bergerak lebih cepat daripada kemampuan lembaga pemerintah dalam memahami dan mengaturnya.

"Hal-hal buruk lainnya sudah semakin dekat," kata Gates.

Kritik terhadap Pemerintah AS dan Usul Lembaga Khusus AI

Gates turut mengkritik kondisi politik di Amerika Serikat. Menurut dia, baik Partai Republik maupun Partai Demokrat belum menunjukkan pemahaman dan kebijakan yang cukup matang dalam menghadapi perubahan yang dibawa AI.

"Saya akan mengatakan tidak ada satu pun dari kedua partai yang cukup memahami atau memikirkan hal ini dengan serius," ujar Gates.

Ia menilai persoalan AI seharusnya tidak dipandang semata sebagai isu teknologi. Pemerintah perlu memperlakukannya sebagai agenda strategis yang berkaitan dengan keamanan nasional, ketenagakerjaan, pendidikan, perpajakan dan kesehatan.

Untuk menghadapi perubahan tersebut, Gates mendorong pembentukan institusi nasional baru yang memiliki kewenangan mengoordinasikan kebijakan AI lintas sektor. Lembaga tersebut, menurut dia, dapat menangani berbagai persoalan yang muncul akibat perkembangan AI, termasuk dampaknya terhadap dunia kerja, sistem pendidikan, keamanan nasional, kesehatan serta kebijakan perpajakan.

Gates juga mengusulkan pembentukan organisasi internasional yang memiliki mekanisme pengawasan terhadap AI. Modelnya dapat mengambil sejumlah unsur dari sistem inspeksi nuklir maupun lembaga internasional yang mengatur penerbangan. Gagasan tersebut dimaksudkan untuk mencegah persaingan antarnegara dalam pengembangan AI berubah menjadi perlombaan yang mengabaikan aspek keselamatan.

Dalam menghadapi perubahan pasar tenaga kerja, Gates kembali mengusulkan dua gagasan yang selama ini tergolong kontroversial. Pertama, pemerintah dapat mempertimbangkan untuk mempertahankan atau "memesan" sejumlah jenis pekerjaan tertentu agar tetap dikerjakan manusia. Kedua, pemerintah dapat mengenakan pajak terhadap penggunaan AI dan robot.

Gagasan mengenai pajak robot sebenarnya telah disampaikan Gates sejak hampir satu dekade lalu. Menurut dia, jika teknologi menggantikan pekerja dalam jumlah besar, pemerintah perlu memikirkan kembali sumber penerimaan negara sekaligus cara membiayai program sosial dan pelatihan bagi pekerja yang terdampak.

Meski menyerukan koordinasi global, Gates mengakui upaya tersebut menghadapi hambatan geopolitik yang besar. Persaingan antara negara-negara besar dalam mengembangkan AI membuat kesepakatan untuk memperlambat perkembangan teknologi tersebut secara global menjadi sangat sulit dicapai.

Dalam memo tersebut, Gates mengatakan dirinya akan mendukung rencana yang kredibel untuk memperlambat perkembangan AI secara global jika rencana tersebut benar-benar ada. Namun, ia tidak yakin langkah semacam itu akan terjadi.

Gates juga mengatakan perusahaan teknologi dan laboratorium AI kemungkinan memiliki kekhawatiran yang lebih besar dibandingkan dengan apa yang mereka sampaikan kepada publik. Menurut dia, para pemimpin perusahaan teknologi besar dan pengembang AI menyadari bahwa perkembangan teknologi tersebut membawa risiko yang tidak dapat diabaikan.

"Saya tidak benar-benar mengenal siapa pun yang tidak merasa khawatir," kata Gates.

Karena itu, Gates menilai persoalan utama bukan lagi apakah AI akan mengubah kehidupan manusia, melainkan bagaimana pemerintah, perusahaan teknologi dan masyarakat memastikan perubahan tersebut tidak menghasilkan ketimpangan serta risiko yang lebih besar daripada manfaatnya.

Bagi Gates, keputusan yang dibuat manusia saat ini akan menentukan apakah AI kelak menjadi teknologi yang memperluas kesempatan bagi masyarakat atau justru memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas