Hebat! Kisah Aksi Heroik Jenderal Kopassus Menyamar Jadi Hantu Putih, Lumpuhkan 3.000 Pemberontak Kongo
Tiga puluh prajurit Indonesia pernah menjalankan operasi tak biasa dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kongo pada 1962. Dengan menyamar sebagai sosok yang dipercaya masyarakat setempat sebagai hantu putih, pasukan tersebut berhasil mengejutkan markas pemberontak yang dihuni sekitar 3.000 personel.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Tiga puluh prajurit Indonesia pernah menjalankan operasi tak biasa dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kongo pada 1962. Dengan menyamar sebagai sosok yang dipercaya masyarakat setempat sebagai hantu putih, pasukan tersebut berhasil mengejutkan markas pemberontak yang dihuni sekitar 3.000 personel.
Operasi itu melibatkan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang tergabung dalam Kontingen Garuda III (Konga III). Misi tersebut berlangsung ketika Indonesia mengirimkan pasukan perdamaian ke Republik Demokratik Kongo melalui United Nations Operation in the Congo (UNOC).
Kisah operasi tersebut diceritakan Letjen TNI (Purn) Kemal Idris, yang ketika itu memimpin Konga III, dalam buku biografinya Kemal Idris, Bertarung dalam Revolusi yang diterbitkan Sinar Harapan.
Konga III berangkat ke Kongo pada Desember 1962 dengan kekuatan sekitar 3.457 personel. Mereka ditugaskan di Albertville selama delapan bulan. Wilayah tersebut menjadi salah satu kawasan berbahaya karena aktivitas kelompok pemberontak yang dipimpin Moise Tshombe.
Dalam salah satu serangan, markas Konga III yang hanya dihuni sekitar 300 personel dikepung sekitar 2.000 pemberontak. Pertempuran berlangsung sengit sejak dini hari. Meski sejumlah prajurit Indonesia mengalami luka, serangan tersebut berhasil dipatahkan dan tidak ada anggota Konga III yang gugur.
Setelah serangan itu, pasukan perdamaian melakukan koordinasi untuk mengejar kelompok pemberontak. Sebanyak 30 personel yang disebut berasal dari unsur pasukan komando kemudian ditugaskan melakukan pengejaran hingga ke wilayah sekitar Danau Tanganyika.
Mereka terlebih dahulu menyamarkan diri dengan melumuri tubuh menggunakan arang agar menyerupai penduduk setempat. Setelah berhasil menemukan markas pemberontak, pasukan tersebut mendapati sekitar 3.000 personel lengkap dengan persenjataan, termasuk kendaraan lapis baja dan senjata antirudal seperti RPG.
Kondisi itu membuat pasukan Indonesia harus menggunakan strategi yang tidak biasa. Berdasarkan informasi intelijen, masyarakat setempat dan kelompok pemberontak memiliki kepercayaan terhadap sosok mistis yang disebut sebagai hantu putih. Sosok tersebut dipercaya muncul pada malam hari dan memiliki bau khas yang menyengat.
Informasi tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi operasi. Para prajurit mengenakan jubah putih longgar yang dibuat sedemikian rupa agar terlihat melayang ketika diterpa angin. Mereka juga membawa rangkaian bawang putih yang menimbulkan aroma menyengat.
Dengan menggunakan kapal yang dibuat gelap, pasukan bergerak menuju posisi pemberontak pada malam hari. Setelah mendekati sasaran, 30 personel tersebut keluar secara serentak dan menyerbu pos terdepan sebelum bergerak menuju pusat markas.
Kemunculan pasukan berjubah putih pada malam hari membuat para pemberontak panik. Mereka mengira sosok yang menyerbu merupakan hantu putih yang selama ini mereka takuti. Situasi tersebut dimanfaatkan pasukan Indonesia untuk melakukan serangan secara cepat.
Kemal Idris menggambarkan operasi tersebut sebagai serangan yang dilakukan pada malam hari dengan memanfaatkan kepercayaan mistis kelompok pemberontak.“Kami melakukan penyerangan di malam hari dengan kapal yang digelapkan di atas Danau Tanganyika, tidak berapa jauh dari daerah Albertville. Pasukan kami yang berkekuatan 30 orang menyamar sebagai hantu,” kata Kemal Idris.
Menurut Kemal, strategi tersebut berhasil karena pihak pemberontak sangat mempercayai takhayul mengenai sosok spiritesses, yang digambarkan sebagai sosok berwarna putih dan melayang pada malam hari.
Pertempuran disebut berlangsung sekitar 30 menit. Markas pemberontak kemudian berhasil dikuasai. Ribuan personel pemberontak beserta keluarganya dilaporkan ditawan, sementara sejumlah pemberontak tewas dalam operasi tersebut.
Dari pihak Konga III, seorang prajurit dilaporkan mengalami luka akibat terkena proyektil granat. Namun, luka tersebut tidak sampai mengancam keselamatannya.
Keberhasilan operasi tersebut kemudian membuat pasukan Konga III mendapat julukan Les Spiritesses, yang merujuk pada pasukan yang menggunakan penyamaran sebagai hantu putih dalam operasi tersebut.
Beberapa jam setelah markas pemberontak dikuasai, pasukan PBB lainnya tiba di lokasi. Keberhasilan pasukan yang berjumlah sekitar 30 orang tersebut disebut mengejutkan karena mereka mampu melumpuhkan markas yang dihuni ribuan pemberontak.
Keesokan harinya, Kemal Idris bersama komandan pasukan khusus dipanggil Komandan Pasukan PBB di Kongo, Jenderal Kadebe Ngeso dari Ethiopia. Operasi tersebut mendapat apresiasi karena dinilai berani sekaligus memanfaatkan informasi mengenai kondisi psikologis dan kepercayaan kelompok yang menjadi sasaran.
Kisah tersebut kemudian menjadi salah satu catatan menarik dalam sejarah keterlibatan pasukan Indonesia dalam misi perdamaian PBB di Kongo.