indonews

indonews.id

LELUHUR TIDAK HANYA MENINGGALKAN BENDA

LELUHUR TIDAK HANYA MENINGGALKAN BENDA

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

PENGETAHUAN PERADABAN NUSANTARA

SERI 1


Membaca Pengetahuan di Balik Jejak Peradaban


Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol


Jakarta, 29 Agustus 2026


PENGANTAR


Ketika berbicara tentang peradaban masa lalu, perhatian kita sering tertuju pada apa yang masih dapat dilihat:


candi,

prasasti,

perahu,

naskah,

sawah,

pelabuhan,

atau berbagai peninggalan lainnya.


Padahal yang terlihat hanyalah jejak.


Di belakang sebuah perahu terdapat pengetahuan tentang kayu, angin, arus, keseimbangan, dan pelayaran.


Di belakang sebuah sawah terdapat pengetahuan tentang tanah, air, musim, pembagian kerja, dan pengaturan kehidupan bersama.


Di belakang sebuah prasasti terdapat bahasa, aksara, aturan, kekuasaan, dan cara manusia menyimpan ingatan.


Artinya:


LELUHUR TIDAK HANYA MENINGGALKAN BENDA.


MEREKA JUGA MENINGGALKAN PENGETAHUAN.



JEJAK YANG TERLIHAT,

PENGETAHUAN YANG TIDAK SELALU TERLIHAT


Sebuah bangunan kuno tidak pernah berdiri dengan sendirinya.


Sebelum batu disusun, manusia harus mengenali bahan, ukuran, struktur, lokasi, dan cara pengerjaannya.


Sebelum sawah dialiri air, manusia harus membaca kemiringan tanah, sumber air, musim, serta kebutuhan masyarakat.


Sebelum pelaut menyeberangi laut, ia harus mengenali angin, gelombang, arus, bintang, dan berbagai tanda alam.


Karena itu ketika menemukan peninggalan peradaban, pertanyaan kita tidak boleh berhenti pada:


“BENDA APA INI?”


Pertanyaan berikutnya justru lebih penting:


“PENGETAHUAN APA YANG MEMUNGKINKAN

BENDA DAN SISTEM INI LAHIR?”



PENGETAHUAN TIDAK SELALU BERBENTUK BUKU


Manusia modern terbiasa menghubungkan pengetahuan dengan sekolah, buku, laboratorium, dan lembaga pendidikan.


Masyarakat masa lalu mempunyai cara pewarisan yang jauh lebih beragam.


Pengetahuan dapat dituliskan dalam prasasti dan manuskrip.


Tetapi pengetahuan juga dapat dituturkan.


Diajarkan melalui pekerjaan.


Ditanamkan melalui adat.


Diwujudkan dalam teknologi.


Disimpan dalam simbol.


Dilembagakan dalam aturan.


Dan diwariskan melalui laku kehidupan sehari-hari.


Seorang pembuat perahu dapat memiliki pengetahuan yang kompleks tanpa pernah menulis buku tentang pembuatan perahu.


Seorang petani dapat mengenali perubahan musim melalui pengalaman yang terkumpul antargenerasi.


Sebuah masyarakat dapat mengatur pemanfaatan air, hutan, atau laut melalui aturan yang terus dijalankan bersama.


Karena itu untuk membaca pengetahuan sebuah peradaban, kita tidak cukup hanya mencari teks.


Kita juga harus membaca:


TEKS.

TUTUR.

BENDA.

LANSKAP.

SIMBOL.

LEMBAGA.

DAN LAKU.



NUSANTARA BUKAN SATU CARA BERPIKIR


Di sinilah kehati-hatian diperlukan.


Nusantara terdiri atas ribuan pulau dengan lingkungan, bahasa, kebudayaan, dan perjalanan sejarah yang berbeda.


Masyarakat pesisir menghadapi persoalan yang berbeda dengan masyarakat pegunungan.


Masyarakat yang hidup di sekitar sungai besar membangun pengalaman yang berbeda dengan masyarakat kepulauan kecil.


Karena itu kita tidak boleh terburu-buru mengatakan:


“BEGINILAH CARA BERPIKIR ORANG NUSANTARA.”


Yang lebih tepat adalah mencari:


POLA PENGETAHUAN PERADABAN

DI BERBAGAI WILAYAH NUSANTARA.


Kita mencari persamaan tanpa menghapus perbedaan.



NUSANTARA TIDAK TUMBUH DALAM RUANG TERTUTUP


Menghargai warisan leluhur bukan berarti harus membuktikan bahwa semuanya berasal dari Nusantara sendiri.


Selama berabad-abad masyarakat kepulauan ini berhubungan dengan berbagai peradaban melalui pelayaran, perdagangan, migrasi, agama, politik, dan pertukaran pengetahuan.


Gagasan datang.


Teknologi berpindah.


Bahasa bertemu.


Kepercayaan berkembang.


Komoditas dipertukarkan.


Sebagian diterima.


Sebagian ditolak.


Sebagian disesuaikan.


Sebagian diolah menjadi sesuatu yang baru.


Karena itu pertanyaan pentingnya bukan hanya:


“APA YANG ASLI?”


Tetapi juga:


“BAGAIMANA SESUATU YANG DATANG

DIOLAH MENJADI BAGIAN DARI KEHIDUPAN?”


Di sinilah salah satu kekuatan peradaban dapat ditemukan:


DAYA OLAH.



DARI PENGETAHUAN MENUJU PERADABAN


Pengetahuan belum menjadi peradaban hanya karena diketahui seseorang.


Ia mulai membentuk peradaban ketika masuk ke dalam kehidupan bersama.


Secara sederhana:


PENGETAHUAN

NILAI DAN KEPENTINGAN

KEPUTUSAN DAN KEKUASAAN

ATURAN

LEMBAGA

TEKNOLOGI DAN INFRASTRUKTUR

LAKU BERSAMA

DAMPAK.


Dari proses seperti itulah masyarakat membangun cara mengelola air, tanah, laut, perdagangan, permukiman, pemerintahan, dan hubungan sosial.


Karena itu peradaban tidak hanya terdapat pada bangunan monumental.


Sawah dapat menyimpan pengetahuan.


Hutan yang dikelola dapat menyimpan pengetahuan.


Perahu dapat menyimpan pengetahuan.


Aturan pemanfaatan laut dapat menyimpan pengetahuan.


Cara menyelesaikan konflik pun dapat menyimpan pengetahuan.


Yang terlihat adalah hasilnya.


Yang harus kita cari adalah pengetahuan dan sistem yang bekerja di belakangnya.



MENGHORMATI BUKAN BERARTI MEMBENARKAN SEMUANYA


Di sinilah kajian ini mengambil jarak dari romantisme masa lalu.


Menghormati leluhur tidak berarti membebaskan seluruh warisannya dari pemeriksaan.


Pengetahuan lama dapat tepat.


Dapat pula keliru.


Tradisi dapat mengandung kebijaksanaan.


Tetapi tradisi juga dapat mengandung kepentingan, ketimpangan, konflik, atau praktik yang tidak lagi sesuai dengan kehidupan sekarang.


Karena itu kita tidak sedang mencari pembenaran terhadap masa lalu.


Kita sedang memeriksanya.


Prinsipnya:


TERTULIS

BELUM TENTU BENAR.


DIWARISKAN

BELUM TENTU TERBUKTI.


LAMA

BELUM TENTU BIJAKSANA.


LOKAL

BELUM TENTU ASLI.


ASING

BELUM TENTU BURUK.


Dan sesuatu yang belum dapat dijelaskan

tidak boleh langsung dijadikan bukti

bahwa dugaan kita benar.



KARUHUN DAN LELUHUR


Setiap kebudayaan mempunyai bahasa dan cara sendiri untuk menyebut serta memaknai orang-orang yang mendahuluinya.


Dalam khazanah Sunda dikenal istilah:


KARUHUN.


Dalam pengertian dasarnya, karuhun merujuk kepada leluhur atau orang-orang terdahulu.


Namun Nusantara mempunyai banyak bahasa dan istilah lokal lainnya.


Karena itu dalam kajian lintas kebudayaan ini digunakan kata:


LELUHUR.


Istilah lokal tetap kita hormati dan pelajari sesuai konteks masyarakat yang menggunakannya.


Sebab tujuan kita bukan menyeragamkan Nusantara.


Justru keberagaman itulah yang harus dibaca.



PERTANYAAN BESAR KITA


Dari sinilah perjalanan Pengetahuan Peradaban Nusantara dimulai.


Ketika menemukan sebuah peninggalan, jangan hanya bertanya:


“SIAPA YANG MEMBUATNYA?”


Tanyakan pula:


Apa yang mereka ketahui?


Dari mana pengetahuan itu diperoleh?


Bagaimana pengalaman menjadi pengetahuan?


Bagaimana pengetahuan diwariskan?


Bagaimana lingkungan memengaruhinya?


Bagaimana kekuasaan menggunakannya?


Apa yang datang dari luar?


Bagaimana masyarakat mengolahnya?


Apa yang bertahan?


Apa yang berubah?


Apa yang hilang?


Dan akhirnya:


APA YANG MASIH DAPAT KITA PELAJARI

UNTUK MENJAWAB ZAMAN HARI INI?



PENUTUP


Kita tidak perlu kembali menjadi manusia masa lalu untuk menghormati leluhur.


Kita juga tidak perlu menganggap seluruh warisan mereka benar untuk mempelajarinya.


Penghormatan yang lebih bermakna justru dilakukan dengan:


MENCARI YANG BERSERAK.


MEMERIKSA YANG DIWARISKAN.


MEMILAH YANG BERNILAI.


MENGOREKSI YANG KELIRU.


MENGEMBANGKAN YANG MASIH BERGUNA.


DAN MENCIPTAKAN PENGETAHUAN BARU

UNTUK MENJAWAB ZAMAN.


Sebab leluhur tidak hanya meninggalkan benda.


Di balik benda terdapat pengetahuan.


Di balik pengetahuan terdapat manusia.


Dan ketika pengetahuan manusia berubah menjadi nilai, aturan, lembaga, teknologi, serta laku bersama, di situlah kita mulai melihat bagaimana sebuah peradaban dibangun.


Pertanyaan berikutnya menjadi lebih besar:


BAGAIMANA PENGETAHUAN

BERUBAH MENJADI PERADABAN?



Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol

Jakarta, 29 Agustus 2026



— BERSAMBUNG —


SERI 2:

DARI PENGETAHUAN MENJADI PERADABAN

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas