indonews

indonews.id

PERANG SUDAH BERUBAH

PERANG SUDAH BERUBAH

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

SERI 1 — MEMBACA PERANG ABAD KE-21


Dari Medan Tempur Menuju Sistem Kehidupan


Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol 86


“Perang tidak selalu dimulai dengan tembakan.

Ia dapat dimulai ketika sebuah bangsa perlahan kehilangan kemampuan menentukan nasibnya sendiri.”


DUNIA TIDAK LAGI BERPERANG DENGAN CARA YANG SAMA


Ketika kita mendengar kata perang, bayangan yang muncul biasanya adalah pasukan, tank, kapal perang, pesawat tempur, rudal dan medan pertempuran.


Itu masih ada.


Tetapi dunia telah berubah.


Perang abad ke-21 tidak lagi hanya berlangsung di medan tempur. Ia dapat berlangsung secara bersamaan di darat, laut, udara, ruang angkasa, siber, informasi dan ekonomi.


Bahkan yang paling berbahaya justru dapat berlangsung tanpa terlihat sebagai perang.


Karena itu, cara membaca perang juga harus berubah.


1. DARI MEDAN TEMPUR KE SISTEM


Dalam perang konvensional, sasaran utama biasanya jelas: wilayah, pasukan, pusat komando atau instalasi militer.


Dalam perang modern, sasaran dapat berupa sistem.


Energi.


Komunikasi.


Data.


Pelabuhan.


Rantai pasok.


Sistem keuangan.


Infrastruktur kritis.


Ruang informasi.


Bahkan persepsi masyarakat.


Mengapa?


Karena sebuah negara bukan hanya terdiri dari wilayah dan tentaranya.


Sebuah negara adalah sistem kehidupan yang saling terhubung.


Jika satu sistem terganggu, sistem lainnya dapat ikut terdampak.


Energi memengaruhi industri.


Industri memengaruhi ekonomi.


Ekonomi memengaruhi kehidupan masyarakat.


Data memengaruhi keputusan.


Informasi memengaruhi persepsi.


Persepsi memengaruhi stabilitas.


Maka perang modern tidak cukup ditanyakan:


“Siapa yang menyerang siapa?”


Pertanyaan yang lebih penting adalah:


“Sistem apa yang sedang dipengaruhi, dilemahkan atau dikendalikan?”


2. YANG TERLIHAT BELUM TENTU YANG PALING PENTING


Pemadaman listrik dapat terlihat sebagai persoalan teknis.


Gangguan jaringan dapat dianggap sebagai persoalan teknologi.


Kenaikan harga dapat dianggap sebagai persoalan ekonomi.


Serangan siber dapat dianggap sebagai persoalan keamanan digital.


Disinformasi dapat dianggap sebagai persoalan media sosial.


Tetapi semuanya dapat memiliki konsekuensi strategis apabila terjadi dalam skala, waktu dan pola yang tepat.


Inilah yang membuat perang modern jauh lebih sulit dibaca.


Yang terlihat hanyalah gejalanya.

Yang harus dibaca adalah sistem di belakangnya.


3. DUNIA SEDANG BERGERAK KE ARAH ITU


Perubahan tersebut bukan lagi sekadar teori.


Saat ini Indonesia menjadi tempat berlangsungnya Super Garuda Shield 2026, 31 Agustus–11 September, dengan keterlibatan banyak negara dan latihan yang mencakup berbagai kemampuan militer, termasuk operasi udara, maritim, darat dan pertahanan siber.


Pada Juni 2026, TNI AU juga secara resmi menguji kesiapan perencanaan, komando dan pengendalian serta integrasi operasi udara menghadapi ancaman yang semakin kompleks dan multi-domain.


Sebelumnya, TNI AL bahkan menyatakan bahwa pergeseran dari operasi tradisional menuju Multi-Domain Operation merupakan kebutuhan eksistensi, bukan sekadar pilihan.


Ini memberikan pesan yang sangat jelas:


militer modern tidak lagi dapat bekerja dalam kotak-kotak domain yang terpisah.


Darat harus terhubung dengan laut.


Laut harus terhubung dengan udara.


Udara harus terhubung dengan ruang angkasa.


Semuanya membutuhkan data.


Semuanya membutuhkan komunikasi.


Dan semuanya pada akhirnya membutuhkan kemampuan mengambil keputusan dengan cepat.


4. TETAPI ADA PERTANYAAN YANG LEBIH DALAM


Multi-Domain Operation menjelaskan di mana operasi berlangsung dan bagaimana berbagai domain diintegrasikan.


Namun sebagai seorang yang pernah berada di lingkungan operasi dan pertahanan, saya melihat ada pertanyaan yang lebih mendasar:


Apa yang sebenarnya diperebutkan di balik seluruh domain tersebut?


Jawabannya tidak selalu berupa wilayah.


Yang diperebutkan dapat berupa:


kemampuan bergerak, kemampuan berproduksi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan mempertahankan kehidupan masyarakat, dan pada akhirnya kemampuan sebuah bangsa menentukan masa depannya sendiri.


Di sinilah kita harus naik satu tingkat dalam membaca perang.


5. DOMAIN ADALAH MEDAN. SISTEM ADALAH KEKUATAN.


Darat, laut, udara, siber dan ruang angkasa adalah domain.


Tetapi domain hanyalah ruang tempat kekuatan bekerja.


Di baliknya terdapat fondasi.


Energi menghidupkan sistem.


Data menghubungkan sistem.


Ekonomi menggerakkan sistem.


Informasi membentuk persepsi.


Infrastruktur menopang kehidupan.


Manusia mengambil keputusan.


Karena itu, perang masa kini semakin bergeser dari sekadar:


“Siapa menguasai wilayah?”


menjadi:


“Siapa mampu mengendalikan sistem?”


Dan dari sana muncul pertanyaan yang lebih strategis:


“Siapa yang menguasai fondasi sistem tersebut?”


6. INDONESIA HARUS MEMBACA DIRINYA SENDIRI


Indonesia memiliki posisi yang luar biasa strategis.


Negara kepulauan.


Jalur perdagangan dunia.


Sumber daya alam besar.


Populasi besar.


Pasar besar.


Wilayah laut yang luas.


Semua itu adalah kekuatan.


Tetapi setiap kekuatan sekaligus dapat menjadi kerentanan apabila sistem pendukungnya tidak memiliki ketahanan.


Karena itu pertahanan nasional abad ke-21 tidak cukup hanya menjaga batas wilayah.


Kita juga harus bertanya:


Apakah energi kita aman?


Apakah pangan kita aman?


Apakah data strategis kita aman?


Apakah komunikasi kita aman?


Apakah rantai pasok kita tahan terhadap gangguan?


Apakah infrastruktur kritis kita terlindungi?


Apakah ekonomi kita memiliki ruang gerak?


Apakah masyarakat kita tahan terhadap manipulasi informasi?


Dan yang paling penting:


Apakah Indonesia tetap mampu mengambil keputusan strategis berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri?


7. PERANG TIDAK HARUS DIDAHULUI INVASI


Inilah perubahan cara berpikir yang harus kita pahami.


Sebuah negara tidak harus diduduki terlebih dahulu untuk mengalami pelemahan strategis.


Jika energinya rapuh, ekonominya mudah ditekan, data strategisnya tidak terlindungi, rantai pasoknya tergantung, infrastrukturnya mudah terganggu dan masyarakatnya mudah dipecah oleh manipulasi informasi, maka negara tersebut dapat kehilangan sebagian ruang strategisnya tanpa satu pun tank menyeberangi perbatasan.


Karena itu perang modern dapat berjalan dalam wilayah abu-abu.


Tidak selalu ada deklarasi.


Tidak selalu ada seragam.


Tidak selalu ada garis depan.


Tetapi dampaknya nyata.


8. DARI PERANG MULTI-DOMAIN MENUJU PERANG FONDASI


Tulisan saya mengenai Perang Multi-Domain Abad ke-21 beberapa waktu lalu berangkat dari kesadaran bahwa medan perang telah berubah.


Kini, setelah melihat perkembangan yang semakin nyata, kita perlu melangkah lebih jauh.


Jika perang dapat berlangsung di banyak domain secara bersamaan, maka kita harus mencari apa yang menghubungkan seluruh domain tersebut.


Di sinilah konsep Perang Fondasi menjadi relevan.


Bukan untuk menggantikan konsep multi-domain.


Tetapi untuk membacanya dari lapisan yang lebih dalam.


Multi-domain menjelaskan medan.


Perang Fondasi mencari sumber kekuatan di balik medan.


Dan dari sini kita akan memasuki pembahasan berikutnya:


PERANG TANPA PERNYATAAN PERANG


Sebab mungkin saja perang yang paling menentukan abad ke-21 adalah perang yang tidak pernah diumumkan sebagai perang.


Bersambung.



Jakarta ,4 September 2026


Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol 86

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas