indonews

indonews.id

Angga: Idealisme dan Intelektualitas yang Tak Pernah Berhenti

Angga: Idealisme dan Intelektualitas yang Tak Pernah Berhenti

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Oleh: Swary Utami Dewi 


Berita lelayu itu muncul dan mengagetkan banyak orang termasuk saya: Airlangga Pribadi Kusman wafat. Airlangga Pribadi Kusman, yang akrab dipanggil Angga, memang dikenal luas oleh banyak orang sebagai pemikir kritis dan idealis.


Mas Angga mendapatkan gelar S-1 dari Universitas Airlangga. Ia meraih gelar S-2 dari Universitas Indonesia, kemudian mencapai gelar doktor di Murdoch University, Australia. Disertasinya membahas tentang politik, tata kelola, intelektual, dan kekuasaan lokal di Jawa Timur. Dari penelitian doktoral itulah lahir salah satu karya penting Angga, The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia`s Post-Authoritarian Era. Secara garis besar, buku ini berisi analisis kritis mengenai peran kaum intelektual yang terjebak dalam pusaran arus kekuasaan politik lokal di era pasca-Orde Baru. Buku yang diterbitkan oleh Palgrave Macmillan tersebut berfokus pada dinamika politik di Jawa Timur, di mana para intelektual -- yakni akademisi, aktivis lembaga swadaya masyarakat, maupun teknokrat -- berinteraksi dengan elite bisnis dan elite politik lokal.


Mas Angga, yang lahir di Jombang, Jawa Timur, masih terbilang muda. Ia lahir pada tahun 1976. Namun karyanya sudah cukup banyak dan dipandang penting. Salah satunya tentu The Vortex of Power tadi. Sebagai seorang intelektual yang begitu menggemari Soekarno, Angga juga menulis karya penting tentang pemikiran Soekarno, yakni Merahnya Ajaran Bung Karno. Buku ini membahas pemikiran Soekarno sebagai pemikir dunia yang visioner. Dalam buku ini juga dibedah Marhaenisme dalam tiga elemen utama, yakni analisis kelas Marhaen, sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi. Yang terbaru, Angga menerbitkan buku tentang Marhaenisme yang ditujukan untuk generasi muda (Gen Z), yang ditulisnya bersama Bang Rocky Gerung.


Secara pribadi, perjumpaan saya dengan Angga selalu perjumpaan dalam wacana. Ia kerap menjadi narasumber di berbagai forum. Kami, misalnya, bertemu di beberapa Zoom komunitas Aksi Literasi, yang digerakkan oleh Bang Andrinof Chaniago, dan diskusi luring tentang ekologi dan tambang di mana Mas Angga menjadi narasumber bersama Mas Budhy Munawar-Rachman dan Mas Ulil Abshar Abdalla di perpustakaan Bang Nasir Tamara. 


Yang juga menarik, setiap ucapan Angga hampir pasti menjadi hentakan, yang menjadikan audiensnya tergerak untuk berpikir lebih dalam. Sebagai contoh, ia pernah mengingatkan para intelektual untuk selalu menjadi intelektual organik, yang tidak bisa dikendalikan oleh kuasa dan uang.


Angga juga pribadi yang menyenangkan. Sebagai kawan, ia sering bercanda. Pertemuan terakhir kami adalah di akhir Agustus 2026 saat Prof. Jomo Kwame Sundaram datang ke Indonesia, dan salah satunya bertandang ke kantor Jurnal Prisma. Di sini, Angga, yang merupakan salah satu Redaktur Prisma, menjadi narasumber bersama beberapa kawan lainnya. Sembari menunggu waktu diskusi, saya sempat berbincang singkat dengannya. Angga menanyakan apakah saya sudah membeli bukunya yang sedang booming, berjudul Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z. Saya menjawab sambil bercanda, "Gak ah, saya kan bukan Gen Z". Ia tertawa lebar. 


Sebagai informasi, buku Marhaenisme ini sedang naik daun di kalangan generasi muda dan dibahas di banyak kampus dan forum. Dengan caranya tersendiri, Angga bersama Bang Rocky berhasil mengajak kaum muda untuk mempelajari dan memahami Marhaenisme dan menemukenali relevansinya bagi kehidupan generasi muda sekarang yang penuh dengan tantangan. Ini membuktikan bahwa Angga memang punya kepedulian nyata terhadap generasi muda dan masa depan bangsa. Ia melakukannya tidak hanya dengan cara menjadi pengajar di FISIP Universitas Airlangga dan hadir di berbagai forum anak muda. Ia juga sengaja menuliskan buku khusus untuk Gen Z.


Hal lain yang sudah banyak diketahui orang adalah sifat Angga yang tak pelit untuk berbagi wawasan di mana pun itu. Ia juga begitu membaktikan dirinya pada intelektualitas. Maka hadirlah ia dari satu forum diskusi ke forum diskusi lainnya tanpa henti. Bahkan saat Angga terjatuh di sebuah kedai pada 9 September 2026 dan kemudian dilarikan ke rumah sakit, seperti yang diceritakan oleh seorang sahabatnya, Nezar Patria, Angga sedang menyelesaikan satu artikel di laptopnya. Beberapa hari sebelumnya, sudah pula beredar flyer bahwa Angga dan Bang Rocky Gerung dijadwalkan hadir di diskusi tentang buku Marhaenisme bagi Gen Z di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Kamis, 10 September 2026. Nyata sampai akhir hidupnya, 9 September 2026, Angga terus menunjukkan kecintaannya pada ilmu, idealisme, dan masa depan bangsa.


Sebagai kawan, tentu saja saya terkejut dan berduka mendengar kepergiannya yang begitu mendadak. Air mata saya sempat runtuh beberapa lama. Tetapi doa yang terhimpun mampu menguatkan. Saya percaya bahwa Allah sudah menggariskan yang terbaik untuk Mas Angga. Warisan pemikirannya dalam bentuk buku, tulisan, YouTube, dan berbagai perbincangan kecil namun bermakna bersama kawan dan koleganya, akan terus menjadi pengingat bahwa pernah ada pemikir organik yang idealis dan teguh, yang terus menyuarakan apa yang seharusnya dilakukan oleh dan untuk bangsa ini.


Beristirahatlah dengan tenang, Mas Angga. Al Fatihah.


9 September 2026

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas