indonews

indonews.id

TPNPB OPM Bongkar Alasan dan Keluarkan Ultimatum Usai Klaim Bertanggung Jawab atas Penembakan 3 ASN di Jayawijaya

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap III Ndugama Darakma mengklaim bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan tiga aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026).

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jayapura, INDONEWS.ID – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap III Ndugama Darakma mengklaim bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan tiga aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026).

Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom mengatakan pihaknya menerima laporan dari Panglima TPNPB Kodap III Ndugama Darakma, Brigjen Egianus Kogeya, yang menyatakan kelompoknya bertanggung jawab atas penembakan tersebut.

Menurut Sebby, ketiga korban dituding sebagai agen intelijen militer Indonesia yang bekerja sebagai ASN. Ia mengatakan tudingan tersebut menjadi alasan kelompoknya melakukan penembakan.

"Kami menerima laporan resmi dari Panglima TPNPB Kodap III Ndugama Darakma, Brigjend Egianus Kogeya bahwa pihaknya bertanggung jawab atas penembakan itu," kata Sebby melalui keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Sebby juga menyebut kelompoknya menghadang kendaraan yang membawa rombongan pegawai Dinas Pertanian di ruas Jalan Trans Wamena-Tiom. Para penumpang, menurut dia, sempat diperiksa dan diminta tetap berada di dalam kendaraan.

Ia mengklaim tiga korban kemudian berupaya melarikan diri karena panik sehingga ditembak. Pernyataan tersebut merupakan klaim sepihak TPNPB dan masih menjadi bagian dari penyelidikan aparat.

Ketiga korban adalah Alvonsius Albinus Mehan (35), Alprida Rapi (49), dan Willi Mbuik (24). Ketiganya merupakan pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Versi berbeda disampaikan Ketua DPC KNPI Distrik Muliama Aleks Lengka. Ia mengatakan rombongan pegawai Dinas Pertanian yang menggunakan mobil Strada dihadang orang tidak dikenal di depan sekolah Kampung Muliama sekitar pukul 15.00 WIT.

Menurut Aleks, para penumpang kemudian diminta turun dari kendaraan. Delapan warga asli Papua dilepaskan, sedangkan tiga pegawai yang disebut sebagai pendatang ditembak. Setelah itu, pelaku disebut mengibarkan bendera Bintang Kejora sebelum melarikan diri.

Sementara itu, Satgas Damai Cartenz 2026 menyatakan hasil penyelidikan awal mengarah pada dugaan keterlibatan kelompok bersenjata TPNPB dari Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol Faizal Ramadhani, mengatakan ketiga korban merupakan bagian dari rombongan 11 orang yang sebelumnya melakukan perjalanan dari Wamena menuju Distrik Muliama untuk meninjau kegiatan cetak sawah.

Dalam perjalanan kembali ke Wamena, rombongan tersebut diduga dihadang kelompok bersenjata. Berdasarkan pendalaman aparat, pelaku kemudian memisahkan delapan warga asli Papua, termasuk seorang anak, dari tiga pegawai yang merupakan warga pendatang.

Ketiga pegawai tersebut kemudian diduga menjadi sasaran penembakan. Alvonsius mengalami luka tembak di bagian kepala belakang dan tangan kiri serta meninggal di lokasi. Alprida mengalami luka tembak pada bagian perut dan juga meninggal di tempat.

Sementara Willi mengalami luka tembak pada bagian pinggang kanan. Ia sempat mendapatkan penanganan medis sebelum dinyatakan meninggal dunia di RSUD Wamena. Setelah menerima laporan kejadian, personel gabungan Satgas Damai Cartenz 2026 dan Polres Jayawijaya bergerak ke lokasi untuk melakukan pengamanan dan penyelidikan.

Aparat juga menyisir sejumlah lokasi, termasuk area Puskesmas Muliama dan tempat yang diduga menjadi lokasi penembakan. Delapan orang yang berada dalam rombongan saat kejadian turut diamankan untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Faizal mengatakan keterangan para saksi diperlukan untuk memperjelas kronologi dan mengidentifikasi pihak yang diduga terlibat.

"Kami memastikan proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap kronologi, mengidentifikasi para pelaku, serta memastikan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," kata Faizal dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9) malam.

Faizal menegaskan kekerasan terhadap masyarakat sipil tidak dapat dibenarkan. Aparat, kata dia, akan melakukan penyelidikan untuk mengungkap dan menangkap pihak yang bertanggung jawab. Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol Adarma Sinaga, meminta masyarakat Jayawijaya tetap tenang dan tidak terprovokasi informasi yang belum terverifikasi.

"Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan proses penanganan perkara ini kepada petugas keamanan," ujar Adarma.

Hingga kini, aparat masih melakukan penyelidikan, penyisiran lokasi, serta pemeriksaan saksi untuk mengungkap secara utuh kronologi dan pihak yang bertanggung jawab atas penembakan tersebut.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas