Simon Martinus Satukan 100 Band Pelajar, Rivalitas Kompetisi Berubah Jadi Kebersamaan
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Tangerang Selatan, INDONEWS.ID - Kompetisi musik kerap mempertemukan band-band muda dalam suasana persaingan. Namun, Simon Martinus justru melihat ada peluang lain setelah para peserta kompetisi tersebut bertemu, yakni membangun wadah untuk mempererat silaturahmi dan berbagi pengalaman.
Dari gagasan tersebut, terbentuk komunitas yang kini beranggotakan sekitar 100 band pelajar dari berbagai daerah di Pulau Jawa, mulai dari Bekasi, Depok, Tangerang hingga Serang dan wilayah Jawa Timur.
Simon mengatakan, komunitas tersebut berawal dari pertemuan para musisi muda dalam sejumlah festival musik dan tari. Dari awalnya hanya sekitar 10 band, jumlah anggota kemudian berkembang hingga mencapai 100 band.
“Awalnya kami bertemu di festival musik. Dari hanya sekitar 10 band, kemudian berkembang. Sekarang sudah ada sekitar 100 band", ucapnya.
Menurut Simon, selama hampir dua tahun para anggota komunitas lebih banyak berkomunikasi melalui grup WhatsApp. Kondisi itu kemudian mendorongnya untuk membuat sebuah kegiatan yang dapat mempertemukan mereka secara langsung.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui acara bertajuk Senandung Rasa yang digelar di Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang Selatan, pada 12 September 2026. Sebanyak 20 band pelajar tampil dalam acara perdana tersebut.
Simon menjelaskan, jumlah peserta sengaja dibatasi karena antusiasme band yang ingin tampil cukup tinggi. Ia ingin acara tersebut tetap berjalan nyaman sekaligus memberikan ruang bagi para peserta untuk saling mengenal.
“Di kompetisi memang ada sisi positif dan negatif. Ada persaingan. Dengan adanya komunitas ini, kami ingin membuat mereka bisa bersilaturahmi, berbagi informasi, bercanda dan mendapatkan inspirasi”, kata Simon.
Ia menilai, pertemuan langsung menjadi penting karena para anggota selama ini hanya berinteraksi melalui komunikasi daring. Melalui kegiatan bersama, para personel band dapat saling mengenal dan menikmati musik tanpa harus memikirkan soal menang atau kalah.
Komunitas tersebut juga tidak membatasi satu genre musik tertentu. Berbagai aliran musik hadir, meski Simon menyebut genre yang terlalu keras belum banyak karena mayoritas anggotanya masih berstatus pelajar.
“Yang kami harapkan adalah kebersamaan. Mereka bisa menyalurkan karya tanpa batas dan mendapatkan banyak ilmu. Yang paling penting, mereka bisa bersenang-senang bersama”, ujarnya.
Pemilihan Flavor Bliss sebagai lokasi acara juga bukan tanpa alasan. Simon menilai tempat tersebut cukup strategis karena mudah dijangkau, termasuk dari akses tol, serta memiliki fasilitas yang dinilai memadai untuk kegiatan komunitas.
Ke depan, Simon berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai acara perdana. Ia bahkan memiliki keinginan untuk mengembangkan komunitas tersebut menjadi sebuah festival musik yang lebih besar.
“Harapannya ini bisa terus berlanjut. Kalau memungkinkan, ke depan kami ingin membuat festival,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pertunjukan musik, Simon ingin komunitas tersebut menjadi ruang untuk menghapus sekat persaingan di antara band-band muda. Menurutnya, perselisihan yang terkadang muncul dalam kompetisi seharusnya tidak menjadi penghalang untuk tetap menjalin pertemanan.
Ia pun mengaku senang melihat para peserta yang sebelumnya bersaing dapat kembali bercengkerama, berfoto bersama hingga saling berpelukan.
“Namanya persaingan, kadang kita dengar ada keributan atau perselisihan. Tapi di sini, Alhamdulillah, mereka bisa kembali foto bareng dan saling berpelukan,” kata Simon.
Bagi Simon, itulah tujuan utama komunitas tersebut: membuat musik bukan hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga menjadi jembatan untuk membangun persaudaraan di kalangan musisi muda.