indonews

indonews.id

Ketika Film Selesai, Lagunya Tetap Hidup

Ketika Film Selesai, Lagunya Tetap Hidup

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Sepuluh tahun lalu, Harlan Boer merekam “Kopi Kaleng” sebagai bagian dari perjalanan musik independennya. Kini lagu itu kembali dalam bentuk baru, menjadi soundtrack film Desember Jani. Dari skena indie Jakarta ke layar bioskop, sebuah lagu menemukan kehidupan keduanya.


Ada lagu yang lahir untuk film. Ada pula lagu yang menemukan filmnya bertahun-tahun kemudian.

“Kopi Kaleng” termasuk yang kedua.


Lagu karya Harlan Boer itu pertama kali muncul sebagai bagian dari mini album Kopi Kaleng pada 2016. Album yang dirilis Rain Dogs Records tersebut berisi enam lagu, dengan “Kopi Kaleng” sebagai salah satu trek. Ketika itu, Harlan masih berada dalam jalur panjang yang telah membawanya dari band-band indie Jakarta ke proyek solonya. Musiknya sederhana, ringan, dan dekat dengan keseharian.


Kini, lagu itu muncul kembali setelah Palari Films memilih “Kopi Kaleng” sebagai salah satu soundtrack Desember Jani, film keluarga yang akan tayang di bioskop mulai 10 Desember 2026. Lagu tersebut diaransemen ulang dan dinyanyikan Chempa Puteri dan Hyori Mika, dua pemeran film itu sendiri. Hyori juga menyutradarai dan menyunting video musiknya, yang menggambarkan hubungan kakak-adik antara karakter Jani dan Julia.


Sebuah lagu berumur sepuluh tahun dengan demikian mendapatkan rumah baru. Dan rumah barunya adalah bioskop.


*Harlan Boer, orang di balik “Kopi Kaleng”*

Nama Harlan Boer – atau juga dikenal Bin Harlan - sudah lama berkelindan dengan musik independen Jakarta. Lahir pada 9 Mei 1977, ia tidak pernah benar-benar tinggal di satu kotak kesenian.


Ia pernah menjadi pemain bass Room V, keyboardis The Upstairs, dan vokalis C`mon Lennon. Bersama C`mon Lennon, namanya antara lain dikenal melalui “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A.” yang dirilis pada 2004. Dua tahun kemudian, Harlan meninggalkan band tersebut.


Namun meninggalkan panggung sebuah band tidak berarti meninggalkan musik. Harlan justru bergerak ke belakang panggung. Ia menjadi manajer Efek Rumah Kaca dan terlibat dalam produksi karya band tersebut. Kredit album dan lagu Efek Rumah Kaca menunjukkan Harlan sebagai produser pada album Efek Rumah Kaca (2007) dan Kamar Gelap (2008).


Ada cerita menarik di sana. Ketika Efek Rumah Kaca masih mencari nama, Harlan yang ketika itu menjadi personal manager mengusulkan nama tersebut, diambil dari judul sebuah lagu yang telah dibuat band itu. Nama itu kemudian melekat dan menjadi salah satu nama penting dalam perjalanan musik independen Indonesia.

Harlan bukan sekadar orang yang mengurus jadwal atau memastikan sebuah band berjalan. Ia juga ikut bekerja di wilayah kreatif. Musik, tulisan, produksi, seni rupa, periklanan, hingga media menjadi bagian dari lintasannya.


*Musisi yang tidak takut menjadi serba-serbi*

Sebagai penyanyi dan penulis lagu, Harlan memilih jalan yang agak berbeda dari definisi musisi konvensional.

Ia tidak mengejar kesempurnaan teknis sebagai tujuan utama. Musiknya bergerak di antara pop, folk, post-punk, hip-hop, dangdut, dan eksperimentasi. Ia bisa membuat lagu yang terdengar sangat sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.


The Jakarta Post pernah mencatat kecenderungan Harlan untuk segera merekam gagasan ketika muncul. Ia mengaku kerap merekam menggunakan telepon seluler agar gagasan kecil tidak keburu hilang. Baginya, ekspresi dan ide lebih penting untuk segera ditangkap daripada menunggu semuanya menjadi sempurna.

Semangat itu tampak dalam proyek-proyek solonya.


Ada Operasi Kecil (2017), Bila Lapar Melukis (2018), hingga Fidelitas Cinta (2020). Bila Lapar Melukis, misalnya, bukan hanya album musik. Harlan memasangkan sepuluh lagu dengan sepuluh lukisan. Musik dan visual berjalan bersama.


Ia memang tidak hanya menulis lagu. Harlan juga menulis puisi, cerpen, esai, lirik, liner notes, dan tulisan pengantar pameran. Ia pernah bekerja sebagai copywriter dan juga bergerak di dunia media. Belakangan ia menerbitkan buku Penyair Pastel, yang memperlihatkan sisi lain dari ketertarikannya pada bahasa dan kehidupan urban.


Dengan kata lain, Harlan bekerja di wilayah yang batasnya memang sengaja dibuat kabur: musik bisa menjadi tulisan, tulisan bisa menjadi gambar, dan gambar bisa kembali menjadi musik.


*“Kopi Kaleng” pulang ke rumah yang berbeda*

Menariknya, judul “Kopi Kaleng” bukan sesuatu yang ditemukan Harlan untuk kebutuhan film. Lagu itu sebenarnya sudah memiliki kehidupan sendiri.


Pada 2016, mini album Kopi Kaleng dirilis dengan enam lagu. Salah satu ulasan pada masa itu mencatat karakter musik Harlan yang ringan, catchy, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Aransemen albumnya juga relatif minimalis, dengan gitar akustik dan elemen bunyi sederhana.


Kini, ketika lagu itu dinyanyikan Chempa Puteri dan Hyori Mika, terjadi perubahan yang menarik. Maka suara Harlan tidak lagi menjadi pusat.


Lagu yang dahulu lahir dari perspektif seorang singer-songwriter kini masuk ke tubuh dua karakter film. Ia memperoleh konteks baru. Hubungan personal yang sebelumnya berada di kepala penciptanya berpindah ke layar dan menjadi bagian dari hubungan Jani dan Julia.


Inilah salah satu keajaiban soundtrack. Sebuah lagu dapat berubah makna ketika gambar datang menyertainya. Musik memberikan suasana kepada film. Sebaliknya, film memberikan wajah kepada musik.

Film boleh selesai. Lagu bisa terus berjalan.


Sejarah sinema penuh dengan lagu yang akhirnya memiliki kehidupan lebih panjang daripada filmnya.

Sebut saja “My Heart Will Go On” membuat Titanic terus hadir dalam ingatan bahkan bagi orang yang hanya mendengar beberapa nada pembukanya. Pembaca tentu masih ingat lagu “I Will Always Love You” membuat The Bodyguard memperoleh kehidupan kedua melalui suara Whitney Houston, meskipun lagu itu sendiri telah lebih dulu ditulis dan dinyanyikan Dolly Parton.


“Unchained Melody” melekat pada Ghost. “(I`ve Had) The Time of My Life” melekat pada Dirty Dancing. “Gonna Fly Now” membawa kembali bayangan Rocky berlari menaiki tangga.


Di Indonesia, “Ada Apa Dengan Cinta” membuat musik dan film seperti dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Begitu pula lagu “Lihatlah Lebih Dekat” dan “Jagoan” dari film Petualangan Sherina, atau lagu “Cinta Sejati” dari Bunga Citra Lestari untuk film Habibie & Ainun.


Yang menarik, tidak semuanya diciptakan khusus untuk menjadi legenda. Sebagian hanya dibuat untuk kebutuhan cerita. Lalu penonton mengambilnya.


Diputar kembali di rumah. Dinyanyikan di karaoke. Dimasukkan ke playlist. Diperdengarkan kepada pasangan. Atau muncul secara tak sengaja dari sebuah toko, kafe, radio, atau telepon genggam.


Kemudian terjadi sesuatu yang tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali pembuat film.


*Lagu itu menjadi kenangan. Dari indie Jakarta ke layar bioskop*

“Kopi Kaleng” kini berada di titik yang menarik. Ia datang dari dunia yang sangat personal—seorang musisi yang sejak lama terbiasa bekerja dengan cara berpindah dari panggung ke studio, dari musik ke tulisan, dari produksi ke seni visual.


Lalu sebuah film menemukannya. Film Desember Jani sendiri bercerita tentang keluarga yang tidak sempurna: seorang ibu, dua anak perempuan, dan seorang oma. Konflik bermula ketika Julia pergi dari rumah, sementara Jani dan ibunya harus menghadapi ketegangan yang tertinggal. Film ini disutradarai Ariani Darmawan, diproduseri Meiske Taurisia, dengan Luna Maya sebagai produser eksekutif.


Ada sesuatu yang cocok antara film semacam itu dengan karya Harlan. Keduanya tidak sedang mencari keluarga yang sempurna. Keduanya berbicara tentang manusia dan kesehariannya.


Dan mungkin karena itu “Kopi Kaleng” tidak terasa seperti lagu yang ditempelkan ke film. Ia seperti lagu yang sudah menunggu cukup lama untuk menemukan adegannya.


Sepuluh tahun setelah pertama kali direkam, lagu itu kembali. Kali ini dengan suara yang berbeda. Dengan gambar yang berbeda. Dengan pendengar yang mungkin juga berbeda.


Itulah perjalanan yang tidak selalu bisa direncanakan oleh seorang penulis lagu.

Sebuah lagu mula-mula hanya milik penciptanya. Kemudian menjadi milik pendengarnya. Lalu, ketika masuk ke film, ia bisa menjadi milik tokoh-tokohnya.


Dan setelah film selesai, belum tentu ia ikut selesai. Barangkali justru saat itulah perjalanan sebenarnya dimulai.

Sebab film mempunyai kredit penutup. Lagu tidak selalu punya akhir.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas