HBD 85 Tahun Papi Yudo Hadianto
MENGAPA PSSI TAK MAMPU PUNYA KANTOR SENDIRI?
Reporter: indonews
Redaktur: indonews
Yang paling berkesan, bagi Yudo hadianto, ketika dirinya sebagai orang Solo, harus memperkuat PON VII Sumatera Utara (Sumut), tahun 1969. Sekaligus mampu mempersembah medali emas, untuk cabang sepakbola. Gara-garanya, Papi (panggilan akrabnya), sedang dikontrak oleh klub Perdedetex, Medan.
Bagi bolamania, menurut mBah Coco, harus paham sejarah sepakbola Indonesia. Bahwa, Klub Pardedetex, Medan adalah klub pertama yang menyandang lambang klub profesional pertama di Indonesia, sejak tahun 1968. Sebelum lahirnya GALATAMA – Liga Sepakbola Utama.
Saat itu, TD Pardede pemilik klub Pardedetex, hampir merekrut 75% pemain nasional, yang sedang naik daun sebagai bintang timnas. Seperti Yudo hadianto, Iswadi Idris, Abdul Kadir, Jacob Sihasele, Max Timisela, M. Basri, Sinyo Aliandu, Mulyadi ( Fam Tek Fong) dan Soetjipto Soentoro (bapaknya Bima Sutipto). Hanya menyisakan Anwar Ujang, Sarman Pangabean, Sunarto dan Aziz Siregar, yang asal Medan.
Dari obrolan siang ini, Yudo Hadianto, yang genap berusia 85 tahun, Sabtu, 19 September 2026 ini, mencoba cerita yang asyik-asyik saja, sekaligus memberi krtikan kepada PSSI, lewat artikel mBah Coco..
Mbah Coco, berliterasi, bahwa jika Lev Yashin, kiper legendaris Rusia (dulu Uni Soviet) diberi julukan “The Balck Spider” atau “Laba-laba Hitam.” Maka, kiper utama tim nasional Indonesia, Yudo Hadianto pun, punya julukan bertajuk “Harimau Tangkap Kelinci.”
Yudo, adalah sedikit kiper Indonesia yang memiliki gerakan terbang yang aneh, unik dan sulit ditebak. Hanya, dengan postur 75 Cm, mampu banyak menggagalkan banyak pemain bintang dijamannya. Termasuk, tendangan Pele, Johan Cruyff, Frans Beckenbauer, Socrates, ketika tim nasional berujicoba dengan klub-klub seperti,Santos, Ajax, Bayern Munich, Dynamo Moscow, Ducla Praha, akhir 60-an hingga awal 70-an.
Ada cacatan epistrum yang dicatat mBah Coco, di jaman Yudo Hadianto, menjadi kiper utama tim nasional. Saat mampu memperkuat tim nasional Indonesia, di Asian Games 1962 di depan publiknya sendiri, Stadion Utama Senayan (sekarang Stadion Gelora Bung Karno). Sampai hari ini, hanya timnas Indonesia 1962, yang mampu meraih medali, walaupun hanya perunggu.
SKUAD ASIAN GAMES 1962
KIPER: Yudo Hadianto (Persija Jakarta), Sahala Siregar (PSMS Medan), Harry Tjong (PSM Makassar). BELAKANG: Isak Udin (Persib Bandung), Faisal Yusuf (PSM Makassar), Matseh, Sahruna (PSM Makassar), Djadjang Haris (Persib Bandung). TENGAH: Fatah Hidayat (Persib Bandung), Tan Liong Houw (Persija Jakarta), Emen Sumawarman (Persib Bandung), Januar Pribadi (Persebaya Surabaya). DEPAN: Hengki Timisela (Persib Bandung, kapten), Supardi (Persija Jakarta), MT Yusuf (PSM Makassar), Sunarnoyo (Persib Bandung), Marinus Manuhutu (PSA Ambon), Solong Hajah (PSM Makassar), Sulbi Saifuddin dan Mubarok (Persika Pekalongan), Siswadi (Persib Bandung), Ahmadsyah “Ipong” Silalahi (PSMS Medan),
Gara-gara ada skandal Senayan, Maulwi Saelan, yang sulit ditandingi sebagai kiper utama tim nasional Indonesia, sejak Pra Piala Dunia 1954, hingga timnas Olimpiade Indonesia 1956, ujug-ujug mengundurkan diri, karena harus sekolah lagi, untuk menjadi komandan pasukan Cakrabirawa, pengawal Presiden RI pertama, Ir.Soekarno.
“Maulwi kasih posisi kiper ke saya. Dengan pemain gabungan senior dan yunior, akhirnya tim nasional Asian games 1962 meraih medali perunggu,” kata Yudo, mengingat-ingat peristiwa tersebut. Ini satu-satunya medali perunggu Asian games, sampai hari ini, belum ada yang melebihi.
“Umpama tidak ada skandal Senayan, tim nasional dipersiapkan untuk meraih medali emas. Karena, banyak pemain-pemain skill tinggi dan cerdas, seperti Omo Suratmo (striker), Wowo Sunarto (playmaker), Ade Dana (bek kanan), Anjik Ali Nurdin (libero), yang rata-rata dari Persib Bandung, tersandung kasus skandal Senayan,” cerita Papi Yudo.
Yudo, menurut Gatot Prasetyo, mantan kiper Persib Bandung,”Sejak di perut ibunya, Papi Yudo sudah ditakdirkan jadi kiper,” tegasnya.
Apa punya kesan yang paling berkesan selama bergelut di sepakbola sebagai kiper tim nasional dan Indonesia Muda, tanya mBah Coco?
“Tahu Darmadi, striker Persis Solo, bapaknya Didik dan Adityo Darmadi?” tanya Yudo kepada mBah Coco.
Cerita tentang Yudo yang tak terlupakan, bahwa Darmadi, seniornya di tim nasional, dan juga di Indonesia Muda. Yang paling antik, dua anaknya Darmadi, yaitu Didik dan Adityo Darmadi, bareng main bola di Indonesia Galatama. Terakhir empat tahun lalu, anaknya Adityo Darmadi, si Adixi Lenzivio yang jadi kiper PSMS Medan, juga dilatih kiper oleh Yudo Hadianto.
“Lucu ya, satu keluarga dari bapak, anak sampai cucunya, semuanya bareng-bareng di lingkungan bola dengan saya,” katanya terkekeh-kekeh….Yudo dan Darmadi, sama-sama berasal dari Solo. Sedangkan, Yudo asli anak Kampung Laweyan, penghasil batik Solo.
Bagaimana pendapat Papi, tentang wadah kompetisi anak-anak grassroot, yang mBah Coco bikin bareng temen-temen wartawan veteran?
“Diakui atau tidak oleh PSSI, menurut saya, membangun bola itu ya dari usia muda. Mereka adalah penerus kami-kami ini. Mereka harus diajarkan bertanding, dengan kerja keras latihan berlama-lama, jujur, sportif, dan sehat. Orang tua dan pelatih harus sering ngobrol bareng. Anak-anak jangan merasa sombong dan besar kepala kalau dinilai bagus,” tutur Papi Yudo.
Yudo menambahkan lagi, “Kompetisi grassroot usia muda yang Anda bangun, punya legitimasi yang benar dan harus diahargai PSSI. Karena, pemandu bakatnya (talent scouting), adalah orang-orang yang dulunya, semuanya mantan pemain nasional. “Di Liga Jakarta U-15 dan U-17, ada Berti Tutuarima, Maman Suryaman, Patar Tambunan dan Tias Tono Taufik. Mereka sangat mumpuni menjadi pemandu bakat,” tambah Yudo.
Apa ada yang aneh selama Papi berada di lingkungan sepakbola organsasi PSSI, tanya mBah Coco.
“Sejak jaman Abdul Wahab Djojohadikoesoemo (1960), Maulwi Saelan (1964), Kosasih Purwanegara (1967), Bardosono (1975), Ali Sadikin (1977), Sjarnubi Said (1982), Kardono (1983), Azwar Anas (1991), Agum Gumelar (1999), Nurdin Halid (2003), Djohar Arifin (2011), La Nyalla Mattalitti (2015), Edi Rahmayadi (2016), Joko Driyono (Januari 2019), Iwan Budianto (November 2019), Mochamad Iriawan (November 2019), sampai Erick Thohir (februari 2023 sampai sekarang), semua ketua umum PSSI, hanya janji-janji doang.”
Pasalnya, sampai hari ini, PSSI tak punya kantor secara permanen. Sejak dulu, sampai saya umur 85, hanya nyewa kantor. Bagaimana mau ngurus bola dengan serius, kalau selama saya di sepakbola, nggak pernah ada kantor permanen. Gimana mau serius membangun prestasi? begitu kritik Yudo Hadianto.
Kalau gitu, siang ini, mBah Coco, mengundang Papi Yudo untuk merayakan ke-85 tahun, di Lapangan PSF MBAU Pancoran, dengan asyik-asyik. Perayaan kecil-kecilan ini, hanya untuk memberi spirit dan motivasi. Bahwa, Papi Yudo selalu sehat, menikmati tontonan bola Indonesia, dengan ceria, apa adanya.
Okeylah, sehat-sehat, Papi Yudo…….Jangan bosan nongkrong di lapangan bola ya!
Sampai usia 85 tahun, tidak pernah bosan datang ke lapangan atau stadion, hanya untuk nonton, apa resepnya?
“Hidup saya sudah selesai. Nggak ada lagi yang mau saya cari. Makanya, nonton bola adalah obat, vitamin dan hiburan saya, di usia 85 tahun,” jawabnya.
mBah Coco sangat beruntung, Sabtu siang tadi, bahwa Papi Yudo Hadianto, membawa semua anak, mantu, cucu dan istri, ke Lapangan PSF MBAU, Pancoran, Jakarta Selatan.
Selamat ulang tahun, Papi Yudo!