KITA MENCARI TUHAN, TETAPI MENGAPA NILAINYA TIDAK KITA HIDUPI?
KITA MENCARI TUHAN, TETAPI MENGAPA NILAINYA TIDAK KITA HIDUPI?
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol ’86
Jakarta, 19 September 2026
Berita tentang korupsi kembali muncul di berbagai tempat.
Ada yang ditangkap. Ada yang diperiksa. Ada yang diadili.
Tetapi mari kita berhenti sejenak.
Mengapa korupsi seperti tidak pernah selesai?
Saya melihat persoalannya bukan semata-mata karena kita kekurangan aturan.
Kita punya hukum.
Kita punya KPK.
Kita punya polisi, jaksa, hakim, auditor, pengawas, dan berbagai sistem pengendalian.
Kita juga mempunyai Pancasila.
Bahkan kita menyebut Tuhan dalam dasar negara dan dalam setiap putusan pengadilan:
“Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Lalu pertanyaannya menjadi lebih sederhana, tetapi lebih dalam:
APAKAH NILAI YANG KITA UCAPKAN SUDAH MENJADI PERILAKU?
Orang bisa berbicara tentang Tuhan, tetapi tetap mengambil yang bukan haknya.
Bisa berbicara tentang Pancasila, tetapi melakukan mark-up.
Bisa berbicara tentang pengabdian, tetapi menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Bisa mengatakan “anti-korupsi”, tetapi diam ketika orang di sekitarnya melakukannya.
Di sinilah masalah sebenarnya.
KITA TIDAK KEKURANGAN NILAI.
KITA KEKURANGAN KEBERANIAN UNTUK MENGHIDUPI NILAI.
Dulu, rasa malu adalah pagar.
Malu berbohong.
Malu mencuri.
Malu menerima uang haram.
Malu menyalahgunakan jabatan.
Malu mengkhianati kepercayaan rakyat.
Sekarang pertanyaannya:
APAKAH RASA MALU ITU MASIH HIDUP?
Karena kalau rasa malu sudah mati, hukum akhirnya menjadi satu-satunya pagar.
Padahal negara yang sehat tidak cukup dibangun dengan penjara.
Ia harus dibangun oleh manusia yang mampu mengatakan:
“INI BUKAN HAK SAYA.”
Dan ketika ada orang menawarkan:
“Bisa diatur.”
Jawabannya sederhana:
“TIDAK.”
Mungkin kalimat itu pendek.
Tetapi kalau benar-benar dihidupi oleh pejabat, pengusaha, aparat, hakim, politisi, bahkan oleh kita semua, dampaknya luar biasa.
Karena perang melawan korupsi sesungguhnya tidak dimulai ketika seseorang ditangkap.
PERANG ITU DIMULAI JAUH SEBELUMNYA:
KETIKA SESEORANG DIBERI KESEMPATAN UNTUK BERBUAT SALAH, TETAPI IA MEMILIH UNTUK BERKATA:
“TIDAK. ITU BUKAN HAK SAYA.”
Di situlah integritas hidup.
Di situlah nilai menjadi perilaku.
Dan di situlah Tuhan, Pancasila, hukum dan moral tidak lagi sekadar menjadi kata-kata.
Jakarta ,19 September 2026