All Print Dibuka, PPGI: Kolaborasi Bangun Industri Percetakan
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Industri cetak masih sangat diperlukan meski dunia maya mendominasi, hal itu ditandai dengan pameran All Print Indonesia yang digelar di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Utara, (7/10). Menurut Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika (PPGI), pameran ini mencerminkan betapa pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun dan memperkuat industri percetakan di Indonesia.
Pameran internasional percetakan dan teknologi grafika memasuki penyelenggaraan yang ke-27, pameran ini kembali memperkuat posisinya sebagai hub strategis yang mempertemukan para pelaku industri, produsen, distributor, supplier, hingga penyedia teknologi terkemuka dari berbagai belahan dunia.
Berlangsung selama empat hari pada 7–10 Oktober 2026, ALLPrint Indonesia 2026 menghadirkan ragam inovasi mutakhir, mulai dari mesin percetakan modern, peralatan presisi, bahan baku berkualitas, hingga solusi digital terintegrasi yang dirancang untuk menjawab tantangan dan kebutuhan industri grafika masa kini.
Ketum PPGI, Achmad Mughira Nurhani mengatakan, industri percetakan tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan proses produksi. Industri ini juga menjadi bagian penting dari penguatan industri nasional sekaligus menjadi medium bagi sektor ekonomi kreatif untuk menghasilkan nilai tambah melalui desain, percetakan, penerbitan, fotografi, kemasan, serta berbagai produk berbasis kekayaan intelektual lainnya.
"Perkembangan teknologi dan inovasi di bidang printing membuka peluang yang semakin luas bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, kemasan, branding, dan daya saing mereka", ujarnya.
Sementara Ceo Crista Exibition Daud Salim mengatakan, pameran ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan pameran industri printing yang telah kami selenggarakan di beberapa kota sepanjang tahun 2026.
"Berbagai teknologi yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari teknologi cetak offset, cetak digital, hingga berbagai solusi teknologi digital terbaru yang menggunakan beragam jenis media", ungkapnya.
Sedangkan perwakilan Deputi Bidang Kreativitas Media Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Kementrian Republik Indonesia , Cecep Sukendi, mengapresiasi konsistensi Krista Exhibitions dalam menyelenggarakan ALLPrint Indonesia.
Menurutnya, pameran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, khususnya subsektor penerbitan, percetakan, fotografi, periklanan, dan desain.
“Kami berharap ALLPrint Indonesia tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga ruang bertemunya teknologi, kreativitas, pelaku usaha, dan peluang kolaborasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan ekonomi kreatif perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui kreativitas, ilmu pengetahuan, teknologi, serta pengembangan kekayaan intelektual.
Dengan mempertemukan teknologi, produsen, distributor, asosiasi, dan pengguna dalam satu ekosistem, ALLPrint Indonesia 2026 diharapkan menjadi ruang bagi pelaku industri untuk mengikuti perkembangan teknologi, menemukan solusi produksi, sekaligus memperluas koneksi bisnis.
ALLPrint Indonesia diikuti sekitar 400 peserta pameran, termasuk 20 UMKM. Para peserta berasal dari lebih dari 10 negara, di antaranya Indonesia, China, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jerman, Jepang, India, Singapura, dan Korea Selatan. Kehadiran peserta internasional tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pasar yang menarik bagi perkembangan industri percetakan dan teknologi grafika.
Penyelenggaraan ALLPrint Indonesia 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri percetakan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar. Perkembangan digitalisasi, personalisasi produk, tuntutan efisiensi, serta kebutuhan akan proses produksi yang semakin fleksibel mendorong pelaku industri untuk terus memperbarui teknologi dan meningkatkan kapasitas produksinya.