Bermain dengan 10 Pemain, Farama FC Kembali Tekuk PSF Academy 3-1
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Farama FC kembali menunjukkan ketangguhannya di pekan kesembilan Liga Jakarta U-17. Meski sempat kehilangan satu pemain akibat kartu merah, Farama sukses menaklukkan PSF Academy dengan skor 3-1. Hasil ini sekaligus mengulang kemenangan dengan skor serupa pada pertemuan pertama kedua tim.
Pertandingan berlangsung menarik dengan situasi yang berubah sepanjang laga. PSF Academy mengawali pertandingan dengan hanya menurunkan 10 pemain, sedangkan Farama tampil dengan kekuatan penuh. Namun, keunggulan jumlah pemain tak membuat Farama leluasa membongkar pertahanan lawan.
Situasi berubah pada menit ke-27 ketika Farama harus kehilangan satu pemain setelah wasit mengeluarkan kartu merah akibat tekel keras terhadap pemain PSF. Lima menit menjelang turun minum, PSF akhirnya menambah satu pemain sehingga kondisi berbalik PSF dengan 11 pemain.
Memasuki babak kedua, Farama justru tampil lebih efektif. Indra Pratama membuka keunggulan lewat sontekan dari dalam kotak penalti pada menit ke-34 babak kedua. Keunggulan Farama bertambah setelah Ulin R. Firmansyah melakukan gol bunuh diri yang membuat PSF semakin tertinggal.
PSF Academy sempat memperkecil kedudukan melalui gol Yesaya Siahaan pada menit ke-51. Namun, harapan untuk mengejar ketertinggalan kembali mendapat tantangan setelah Giant S. Sudrajat mencetak gol pada menit ke-58 untuk memastikan Farama unggul 3-1.
PSF terus berusaha mengejar ketertinggalan dengan menciptakan sejumlah peluang. Sayangnya, penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat upaya mereka tak membuahkan hasil. Salah satu peluang emas terbuang ketika bola muntah jatuh di kaki striker PSF, beberapa meter dari gawang. Namun, tendangannya berhasil ditepis kiper Farama, Harira Firdaus.
Pelatih Farama FC, Hilman Akbar, bersyukur timnya mampu membawa pulang tiga poin. Meski demikian, ia mengaku kecewa dengan organisasi permainan anak asuhnya, terutama ketika masih unggul jumlah pemain pada awal pertandingan.
“Sepak bola memang ditentukan siapa yang mencetak gol lebih banyak. Tapi, dengan organisasi seperti itu, apa yang bisa kita nilai?”, ucap Hilman.
Menurutnya, Farama gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain pada 15 menit awal. Situasi semakin sulit setelah salah satu pemainnya menerima kartu merah, sehingga keunggulan jumlah pemain berbalik menjadi milik PSF Academy.
“Ketika momen itu datang, malah kita kena kartu merah. Situasinya berbalik, tetapi kami bisa mencetak gol lewat kesalahan lawan”, tambahnya.
Hilman menilai para pemainnya terlalu percaya diri ketika melihat PSF hanya diperkuat 10 pemain. Selain itu, Farama juga kehilangan empat pemain inti karena harus kembali ke kampung halaman dan menjalani hukuman akumulasi kartu.
Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Hilman untuk mempersiapkan tim menghadapi pertandingan berikutnya. Terlebih, tiga pemain inti dipastikan absen akibat akumulasi kartu.
Di kubu PSF Academy, pelatih Joko Kuspito menilai kondisi fisik pemain menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil pertandingan. Menurutnya, para pemain mulai kewalahan menghadapi tekanan Farama, sementara timnya juga harus mengawali laga dengan jumlah pemain yang tidak lengkap.
Joko menjelaskan, keterlambatan dan ketidakhadiran sejumlah pemain berkaitan dengan kegiatan belajar di sekolah. Ia berharap pada pertandingan berikutnya timnya bisa tampil dengan komposisi pemain yang lebih lengkap.
Kemenangan ini menjadi modal bagi Farama FC untuk menatap laga selanjutnya. Sementara bagi PSF Academy, kegagalan memaksimalkan keunggulan jumlah pemain dan sejumlah peluang yang terbuang menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.