indonews

indonews.id

Dari Samarkand: Bung Karno, Imam Bukhari, dan Ingatan Umat

Dari Samarkand: Bung Karno, Imam Bukhari, dan Ingatan Umat

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Surat dari Samarkand, 30 Oktober 2026 


Oleh Antony Zeidra Abidin 


Pagi ini saya berdiri di Samarkand. Kota tua di jalur sutra, yang usianya lebih tua dari Roma. Di sini sejarah tidak tersimpan di buku. Ia berdiri dalam bentuk kubah biru, menara, dan makam. 


Saya mengunjungi madrasah-madrasah tua di Registan. Saya berziarah ke makam para ulama. Di setiap tempat, saya merasa kecil. Peradaban Islam pernah begitu besar di negeri ini. 


Samarkand juga menyimpan luka. Tahun 1220, pasukan Jengis Khan meratakan kota ini. Ribuan orang dibunuh. Perpustakaan dan masjid hancur. Peradaban yang dibangun berabad-abad runtuh dalam hitungan hari. 


Namun Samarkand bangkit lagi. Seratus lima puluh tahun kemudian, Timur Lenk menjadikannya ibu kota. Ia penakluk yang kejam, tetapi juga pembangun. Makamnya, Gur-e-Amir, masih berdiri megah sampai hari ini. 


Cucunya, Ulugh Beg, memilih jalan ilmu. Ia membangun observatorium dan madrasah. Ia mengukur bintang dengan ketelitian yang mengagumkan dunia. Dari pedang ke pena, itulah perjalanan Samarkand. 


Imam Bukhari dan Jasa Bung Karno 


Tetapi yang paling menggetarkan hati saya adalah makam Imam Bukhari. Letaknya di Desa Hartang, sekitar 25 kilometer dari kota. Di sinilah beristirahat perawi hadis paling sahih dalam Islam. 


Imam Bukhari lahir di Bukhara tahun 810 Masehi. Ia mengembara mencari hadis ke Mekkah, Madinah, Baghdad, Mesir. Ratusan ribu hadis ia dengar dan saring dengan sangat ketat. Hasilnya, kitab Shahih Bukhari, rujukan umat Islam sedunia. 


Hampir setiap Muslim Indonesia mengenal namanya. Di pesantren, di pengajian, di khutbah Jumat. "Diriwayatkan oleh Bukhari" adalah kalimat yang akrab di telinga kita. 


Namun di bawah kekuasaan Uni Soviet, makam ini nyaris terlupakan. Negara komunis tidak peduli pada ulama. Makam besar itu terbengkalai, tak terurus. 


Di sinilah Bung Karno masuk ke dalam cerita. Pada pertengahan 1950-an, pemimpin Soviet Nikita Khrushchev mengundang Bung Karno ke Moskow. Soviet ingin menarik Indonesia ke pihaknya dalam Perang Dingin. 


Bung Karno memberi syarat yang mengejutkan. Ia mau datang, asal makam Imam Bukhari ditemukan. Khrushchev yang komunis tulen bingung. Siapa Imam Bukhari? Ia mencoba menawar. Bung Karno tidak bergeming. 


Soviet pun bekerja keras mencari. Makam itu akhirnya ditemukan di Hartang, dalam keadaan rusak. Pemerintah Soviet lalu membersihkan dan memugarnya. Bung Karno datang dan berziarah. 


Orang Samarkand tidak melupakan peristiwa itu. Sampai hari ini, nama Sukarno disebut dengan hormat di sini. Bagi mereka, Bung Karno adalah pemimpin yang membuka kembali pintu makam Imam Bukhari bagi dunia. 


Pelajaran bagi Umat Islam Indonesia 


Apa makna kisah ini bagi kita hari ini? Saya mencatat tiga hal. 


Pertama, diplomasi bisa menjadi jalan dakwah. Bung Karno tidak berkhotbah di Moskow. Ia memakai posisi tawar negaranya. Dengan satu syarat sederhana, ia menghidupkan kembali warisan Islam di negeri komunis. 


Kedua, kebangsaan dan keislaman tidak bertentangan. Bung Karno sering dituduh sekuler. Tetapi di Samarkand ia membuktikan cintanya pada ulama. Nasionalisme yang sejati justru menghormati iman rakyatnya. 


Ketiga, peradaban bisa runtuh dan bangkit lagi. Samarkand dihancurkan Jengis Khan, lalu dibangun kembali. Islam di sini ditekan Soviet, lalu bersemi lagi. Syaratnya satu: ada yang menjaga ingatan. 


Kini Uzbekistan merdeka merawat makam itu dengan megah. Peziarah datang dari seluruh dunia, termasuk ribuan dari Indonesia. Mereka mungkin tidak tahu, ada jejak presiden pertama kita di balik kemegahan itu. 


Penutup 


Di depan pusara Imam Bukhari, saya membaca Al-Fatihah. Untuk sang Imam, untuk Bung Karno, untuk para ulama yang menjaga ilmu. 


Umat Islam Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Tetapi besar jumlah belum tentu besar peradaban. Samarkand mengajarkan: peradaban dibangun oleh ilmu, dijaga oleh ingatan, dan dibela oleh pemimpin yang berani. 


Semoga kita tidak hanya menjadi peziarah. Tetapi juga pewaris yang melanjutkan. 


Samarkand, 30 Oktober 2026

Tags:
© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas