Budaya

Gerakan Literasi Mencegah Bahaya Radikalisme

Oleh : very - Senin, 21/05/2018 07:53 WIB

Kegiatan Literasi mencegah bahaya radikalisme. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Pada tahun 2018 di Indonesia telah berdiri 83 Kampung Literasi (KL). Sementara untuk Taman Baca Masyarakat (TBM), ada sekitar 7028 yang tersebar di seluruh pulau.

Paulus Nugrahajati, Relawan Litera mengatakan, berdirinya TBM dan KL ini merupakan aksi dari masyarakat yang membutuhkan sarana bermain dan belajar di luar sekolah. Pada prinsipnya, TBM adalah sebuah perpustakaan umum yang bisa diakses siapa saja yang membutuhkan. Kemudian TBM berkembang dengan menambahkan sarana dan prasarana seperti alat peraga, sarana bermain dan unit-unit edukasi lainnya.

“Ketika TBM ini sudah mulai dikenal masyarakat, banyak bantuan buku yang mengalir baik dari perusahaan, lembaga pemerintah atau personal,” ujarnya.

Dia mengatakan, kegiatan masyarakat ini biasanya dikelola oleh pegiat sosial yang kemudian disebut sebagai relawan literasi. Dengan masing-masing kemampuan, para relawan secara aktif mencari buku-buku untuk mengisi TBM, mengajar anak-anak secara periodik dan terus meningkatkan kualitas TBM di tempat masing-masing. Kemudian Kemendikbud mengapresiasi para relawan literasi dengan memberi bantuan baik itu berupa buku ataupun uang yang digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan di TBM maupun KL.

“Ketika TBM berkembang pesat, statusnya bisa naik tingkat menjadi Kampung Literasi. Kampung Literasi ini menjadi semakin luas lagi  peruntukannya. Di Kampung Literasi diadakan berbagai macam seminar, kursus dan pelatihan untuk umum. Masyarakat bisa sangat terbantu dengan adanya kampung Literasi ini,” kata Paulus yang juga berprofesi sebagai seorang jurnalis ini.

Salah seorang relawan literasi, Roelyta Aminuddin SE, M. Pd mengatakan bahwa literasi masyarakat ini berfungsi sebagai wadah informasi, edukasi dan rekreasi. Tujuannya agar  menjadi alternatif dari sekian tempat yang menawarkan “surga” bagi masyarakat khususnya anak-anak. Tantangannya adalah bagaimana para pelaku literasi bisa mendesain dan mengelola agar suatu TBM bisa menjadi “dunia lain” yang membuat anak-anak merasa terjebak dengan cara yang menyenangkan.

Roelyta adalah pengelola TBM An-Nisaa di Balikpapan. Menyimak apa yang dikatakan Roelyta, maka bahaya radikalisme bisa dicegah karena anak-anak sudah bertemu dunianya yang lebih mengasyikkan sehingga paham yang tidak baik tidak mudah masuk.

Setelah kegiatan belajar mengajar di sekolah selesai, anak-anak masih punya banyak waktu dirumah. Sisa waktu inilah yang banyak dimanfaatkan untuk bermain dan belajar lagi. Para pelaku literasi memanfaatkan waktu tersebut untuk mengajak anak membaca sekaligus bermain. Bukan hanya membaca, akan-anak juga diberi pengetahuan menulis ringan mulai dari puisi, cerpen atau komik. Secara berkala, anak-anak berkunjung dan bermain di TBM atau KL sehingga mudah diawasi.

Dengan adanya wadah literasi ini, masyarakat bisa mengawasi mana anak yang tidak pernah terlihat bermain untuk kemudian dianalisa permasalahannya dan dicarikan solusi. Bukan tidak mungkin anak-anak yang tertutup ini di kemudian hari tersusupi paham radialisme. Melalui kehadiran anak-anak di TBM, masyarakat dibantu aparat bisa turut melakukan pengawasan.

Di Kampung Literasi Ceria, Patean-Kendal, aparat kepolisian juga mengapresiasi dengan baik keberadaan literasi masyarakat ini. Anggota Polsek setempat rutin berbaur dengan masyarakat dan bersama-sama berlatih musik tradisional.  Kegiatan latihan untuk lomba keamanan dan ketertiban masyarakat juga berlangsung di Kampung Literasi.

“Ketika anak-anak mulai mendapatkan dunianya, maka mereka akan merasa nyaman dan akan sulit dipengaruhi oleh paham-paham radikal. Literasi masyarakat sangat berperan penting dalam hal ini. Dengan kelihaian para relawan literasi dan didukung orang tua anak-anak tersebut, generasi muda akan semakin kuat dan sinergi menolak paham yang tidak baik,” ujar Paulus. (Very)

 

 

Artikel Terkait