Daerah

Salak Nglumut, Produk Ekspor Hortikultura Andalan Magelang

Oleh : tirto prima putra - Jum'at, 24/05/2019 17:24 WIB

Budi daya pengembangan Salak Nglumut di Magelang, Jawa Tengah

MAGELANG, Indonews.id - Provinsi Jawa Tengah dikenal sebagai produsen produk-produk hortikultura berkualitas ekspor. Salah satunya adalah salak nglumut yang asalnya dari Kabupaten Magelang.

Sentra terbesar pertanaman salak unggukan ini adalah di Kecamatan Srumbung, yang terletak di lereng Gunung Merapi.

Daerah ini memang dikenal subur dan sangat cocok untuk budidaya salak, karena mengandung banyak bahan organik dengan tingkat keasaman tanah yang netral. 

Saat ini produksi salak asal Magelang sudah memasuki pasar ekspor Singapura, China, Kamboja dan Jerman melalui perantara asosiasi atau perusahaan eksportir.

Selain pasar ekspor, salak Magelang juga mengisi  beberapa pasar di luar Jawa Tengah, seperti DKI Jakarta, Jawa Timur, Banten, Sumatera, Riau dan Kalimantan.

Namun pertanaman salak nglumut ini terkendala hama lalat buah (Bactrocera spp). Karena itu perlu dilakukan tindakan pencegahan dan pengendalian sesegera mungkin.

Untuk itu, UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah melalui Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura (LPHPTPH) Temanggung dan Banyumas siap mengawal dan mendampingi petani di lapangan.

Area pengelolaan lalat buah skala luas di Kecamatan Srumbung, Magelang meliputi 448 hektare.

Lokasi pemasangan perangkap berada di desa yaitu Desa Sidomoro (Gapoktan Ngadi Luhur), Desa Nglumut (Gapoktan Nglumut Makmur) dan Desa Sudimoro (Kelompok Tani Sekar Arum).

Cara pengendalian lalat buah yang diterapkan adalah pemasangan perangkap atraktan ME serta konservasi musuh alami dengan menanam refugia.

Monitoring populasi lalat buah dilakukan seminggu sekali dengan cara menghitung jumla lalat buah yang terperangkap.

Sri Wijayanti Yusuf, Direktur Perlindungan Hortikultura pada kesempatan terpisah menyampaikan keberhasilan pengendalian lalat buah dapat tercapai apabila dilakukan secara serentak dalam area yang luas.

"Keberhasilan pengendalian lalat buah dapat tercapai apabila dilakukan secara serentak dalam area yang luas dan dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan instansi terkait," ujar Yanti.

Dilain pihak Irma Siregar, Kasi Sarana Pengendalian OPT Buah dan Florikultura menambahkan, teknik pengendalian ramah lingkungan lainnya dapat dilakukan untuk melengkapi penggunaan perangkap atraktan ME.

"Kumpulkan buah salak yang busuk terserang lalat buah kemudian dimusnahkan dengan teknik 4 M (Mengubur, Membakar, Membungkus dan Merebus). Selanjutnya kumpulkan buah terserang lalat buah dalam gentong atau drum plastik yang permukaannya ditutup dengan kain kassa," ujar Irma.

Dengan cara ini, lanjut Irma, diharapkan lalat yang menetas tidak dapat lolos dari gentong namun parasitoidnya dapat terbang bebas.

Langkah selanjutnya memanfaatkan musuh alami sebagai upaya konservasi musuh alami dengan menanaman tanaman refugia disekitar kebun salak sebagai tempat hidup parasitoid. Hal terpenting turut melakukan sanitasi kebun secara intensif.

Dirinya meyakini apabila petani melakukan dengan konsisten dan komitmen tinggi maka masalah lalat buah dapat teratasi. Mutu salak Magelang dapat  meningkat serta dapat bersaing di pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Berdasarkan data BPS, ekspor salak pada 2017 sebanyak 965 ton sementara pada 2018, ekspor sebanyak 1.233 ton. Ini artinya mengalami peningkatan 27,72 persen dari 2017.

Artikel Terkait