Budaya

Dari Nagari Membangun Negeri, Indonesia Kuat Karena Gotong Royong

Oleh : very - Senin, 24/06/2019 14:30 WIB

Alumnus Lemhannas PPSA XXI, Prof. Dr. Ir. H. Nasfryzal Carlo, M.Sc, PA, CES. (Foto: ist)

Sumbar, INDONEWS.ID -- Gotong Royong yang merupakan inti dari nilai luhur dalam Pancasila perlu dan mendesak ditumbuhkan kembali melalui paguyuban diaspora desa asal. Berbagai paguyuban masyarakarat rantau yang berasal dari berbagai daerah dapat menjadi wadah dan sarana terbaik untuk membangun kembali semangat gotong royong. Sekalipun sederhana, semangat gotong royong dengan cara seperti ini dirasa tepat sebagai sarana membangun secara bersama-sama daerah asal. Terbangunnya daerah asal diharapkan mempercepat pembangunan negara.

Demikian ditegaskan oleh Alumnus Lemhannas PPSA XXI, Prof. Dr. Ir. H. Nasfryzal Carlo, M.Sc, PA, CES, yang mengakhiri tugasnya sebagai Ketua DPP Kwartab (Kerukunan Warga Tanjung Balik), Tanjung Balik, Nagari X Koto Di Atas, Solok, Sumatera Barat, Minggu (23/06/2019). Jabatan yang telah diembannya selama dua belas tahun atau empat periode itu memberikan makna mendalam tentang local wisdom terkait dengan nilai gotong royong. Posisi sebagai Ketua DPP Kwartab kemudian diserahkan kepada H. Syamsul Bahri, S.Pd., MM pada Minggu (09/06/2019).

Kwartab, demikian Carlo menjelaskan, merupakan sebuah organisasi sosial perantauan yang semula berdiri di Depok, Jawa Barat. Dewan Pengurus Pusat (DPP) berkedudukan di mana Ketua Umumnya berada. Nagari merupakan pembagian wilayah berdasarkan adat yang bisa disamakan dengan Desa atau Kelurahan.

“Tanjung Balik adalah sebuah nagari setingkat pemerintahan desa dibawah Kecamatan X Koto Di atas, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia. Pada tahun 1950 - 1960, Nagari Tanjung Balik dikenal sebagai pusat pemerintahan atas 10 Nagari, pusat ekonomi, pusat agama dan pusat kebudayaan. KWARTAB  sebagai organisasi Kerukunan Warga Tanjung Balik  embrio dimulai sejak tahun 1980. Hanya secara resmi Kwartab didirikan pada 16 September 1991,” ujar Nasfryzal Carlo.

Loading...

Menurut Carlo,  Indonesia menjadi kuat karena gotong royong dan bukan nilai yang lain. Ada budaya merantau dari berbagai suku di Indonesia, yang masyarakat perantauan itu memiliki keterpanggilan untuk membangun desanya. Dengan caranya sendiri dari setiap organisasi, masing-masing perantau merasa terdorong untuk mempercepat pembangunan desanya. Namun, itu hanya dapat dilakukan dengan cara bersama-sama.

“Hingga saat ini ada 12 Cabang Kwartab dan satu cabang di Malaysia. Tanpa adanya perantau yang pulang kampung untuk membantu pembangunan nagari, perkembangan nagari menjadi sangat lambat karena kemampuan keuangan pemerintah yang terbatas. Oleh sebab itu, Kwartab ini secara tanpa disadari membangun sinergi dengan cara gotong royong membangun Nagari. Namun gotong royong antara perantau dan dan masyarakat tinggal hanya dapat dilakukan jika masing-masing menyingkirkan keegoannya, menghilangkan perbedaan dan perpecahan yang mungkin saja timbul,” jelas Carlo.

Selain itu Carlo juga mengungkapkan, ada benang merah dalam membangun nagari oleh masyarakat perantau di manapun berada. Para perantau melalui Kwartab di masing-masing daerah harus bekerja sama dengan pemerintah masing-masing daerah tujuan rantau. Oleh karena itu,  pemerintah daerah tujuan rantau itu langsung ataupun tidak langsung ikut memberikan kontribusi secara tidak langsung kepada Nagari.

“Dalam konteks ini, masyarakat Tanjung Balik di daerah tujuan rantau harus memahami budaya, adat istiadat dan budaya yang di daerah tujuan rantau. Secara tidak langsung, mereka belajar budaya lain dan memahaminya. Secara otomotasi, Kwartab mendorong para anggotanya untuk membangun kerukunan baik kerukunan di daerah tujuan rantau ataupun juga kerukunan dengan nagari asal,” tegas Alumnus Lemhannas PPSA XXI ini.

“Bagi saya, kerukunan masyarakat rantau dari daerah lain tentu memiliki visi yang sama dalam membangun desanya masing-masing. Sehingga menurut saya, budaya gotong royong ini pantas digalakan untuk mempercepat pembangunan ekonomi daerah asal masing-masing.  Kesejahteraan masyarakat desa asal lambat  terwujud jika hanya menunggu perputaran ekonomi yang berasal dari pemerintah,” jelas Carlo, yang Guru Besar Universitang Bung Hatta ini.

Menurut pemandangan Carlo, pola gotong royong melalui keterlibatan masyarakat rantau tidak dapat dilakukan secara tradisional. Masing-masing kerukunan atau paguyuban masyarakat rantau harus memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk secara presisi  mengumpulkan data sumberdaya manusia, pemanfaat website sebagai pengenalan terhadap investor dan juga memperluas jaringan (networking). (Very)

Artikel Terkait