Budaya

Idul Adha, "Menyembelih" Kejelekan Manusia

Oleh : very - Kamis, 08/08/2019 22:30 WIB

Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail, MA. (Foto: Tribunnews.com)

Jakarta, INDONEWS.ID – Di setiap tanggal 10 Dzulhijjah umat Muslim seluruh dunia memperingati Hari Raya Idul Adha untuk mengenang kisah teladan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Saat itu, Nabi Ibrahim menerima perintah Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail sebagai bentuk pengorbanan dan keikhlasannya menjalankan perintah. Namun itu ternyata hanya ujian karena saat disembelih Nabi Ismail telah diganti dengan seekor kambing.

Kini, setiap Idul Adha atau Idul Kurban, setiap Muslim yang mampu wajib berkurban dengan menyembelih hewan. Namun tidak hanya itu, hikmah dari Idul Adha tidak hanya mengorbankan harta berupa hewan, tetapi hendaknya dijadikan semangat berkorban membuang sifat-sifat jelek dalam diri manusia yaitu kedengkian, fanatisme, egoisme, dan radikalisme untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

“Teladan Nabi Ibrahim AS adalah contoh nyata bahwa kita harus berkorban untuk menciptakan negeri yang aman dan sentosa. Juga istri Nabi Ibrahim, Siti Hajar yang rela berkoban bolak-balik dari Safa dan Marwa sehingga ditemukan kenyamanan berupa air zamzam yang sampai sekarang masih bermanfaat. Teladan itu harus kita praktikkan bersama di era sekarang untuk menciptakan kedamaian, ketentreman, dan kesatuan Indonesia,” papar Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail, MA, di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Menurut Satori, pengorbanan itu adalah keharusan untuk mencapai kebahagiaan. Dengan berkurban dan berkorban ini diharapkan bangsa Indonesia bisa menjadi negara yang besar, bersatu padu di tengah perbedaan dan keragaman yang ada.

Untuk itulah, lanjut Satori, umat Muslim harus rela berkorban. Pertama harus memberi perhatian serta membantu keluarga, saudara, tetangga yang hidupnya berada di garis kemiskinan. Kemudian yang kedua bagaimana berkorban dengan tujuan mencari ridho Allah demi keutuhan, perdamaian, dan kebangkitan bangsa Indonesia.

Apa yang harus dikorbankan? Satori menjelaskan, kalau menyembelih kambing adalah berkurban sebagai bentuk kepedulian kepada yang tidak punya agar mendapatkan makanan dan gizi yang baik. Tapi berkorban tidak cukup hanya berkorban dengan harta, tapi ada hal-hal dalam jiwa manusia yang harus dikorbankan untuk kebaikan bersama yaitu rasa ego, suka marah, kedengkian, sehingga bisa menjadi orang yang bersih.

“Jadi yang dikorbankan itu hal-hal yang jelek dari diri kita, juga hal-hal yang terlalu kita cintai seperti harta. itu wajib dikurbankan untuk saudara kita yang kekurangan kena bencana, tertindas, fakir miskin, dan lain-lain, dalam rangka menciptakan negara yang adil dan makmur,” ungkap Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah itu.

Untuk negara dan bangsa, lanjut Satori, berkorban itu dengan menghilangkan fanatisme yang membuat permusuhan, tadabur, juga radikalisme serta keinginan untuk menjahati orang lain seperti yang terjadi pada Pemilu 2019 kemarin.

“Hilangkan segala macam perbedaan. Itu sudah berlalu mari kita kembali hidup bersama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Artinya perbedaan dan keragaman bangsa kita, jangan diartikan untuk melemahkan. Justru perbedaan dan keragaman harus bisa mengokohkan sehingga membuat semua menjadi indah dan damai,” tutur Pengasuh Ponpes Modern Al-Hassan Bekasi ini.

Menurutnya, kalau semua seragam dan sama, tentu tidak indah. Justru kalau bangsa ini bermacam-macam tetapi bisa serasi dan bisa diatur dengan baik dengan adanya Undang-Undang (UU), terus yang berkuasa bisa melindungi yang dibawah, dan yang dibawah menghormati yang diatas, tentu akan keharmonisasn kehidupan berbangsa dan bernegara yang indah.

Tak lupa di momen Idul Adha 1440 Hijriah ini, Satori mengajak seluruh bangsa untuk memerangi kemiskinan. Sebab, kemiskinan dinilai yang membuat bangsa Indonesia berantakan. “Ketika sejahtera dan perut dicukupi, pasti akan terjadi keamanan. Intinya mari bersama-sama berjuang untuk mencapai kesejahteraan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.

Kedua, terang Satori, pada 10 hari pertama Dzulhijjah adalah masa paling baik sepanjang tahun. Karena itu seluruh umat manusia harus berlomba-lomba berbuat kebaikan, kebajikan dengan banyak berdzikir, istighfar, dan banyak mendoakan negeri ini, mendoakan rakyat, mendoakan pemimpin agar bersatu padu membangun bangsa.

“Juga perbanyak mengumandangkan takbir, tahmid, dan tentu saja memotong hewan kurban yang menjadi bukti bahwa kita umat yang bertaqwa. Juga menghiilangkan semua bentuk kemaksiatan, takabur, fanatisme dan hal-hal yang merusak bangsa ini,” pungkasnya. (Very)

 

 

Artikel Terkait