Nasional

Arissetyanto Siapkan Mahasiswa Bermental Siap Kerja

Oleh : very - Minggu, 25/08/2019 21:40 WIB

Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, IPU, CMA, MSS bersalaman dengan Presiden Joko Widodo. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Program SDM Unggul dalam visi Indonesia Maju yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo memerlukan syarat terjadinya link and match (LAM) antara perguruan tinggi dan dunia kerja. Harus dipastikan mereka yang lulus dari perguruan tinggi memiliki keahlian dan ketrampilan (praktik) di samping ilmu secara teoritis untuk memasuki dunia kerja.

Dengan LAM ini diharapkan, bidang ilmu yang ditekuni sesuai dengan bidang kerja yang dimasuki. Fokus LAM ini tidak bisa diabaikan oleh perguruan tinggi Indonesia termasuk Universitas Indonesia (UI) yang saat ini dalam masa pemilihan rektor baru.

Demikian kesimpulan pernyataan dari Komang Wirawan Ketua Umum Ikatan Alumni Jerman (IAJ) dan Pengusaha Lina SE, yang Alumnus Lemhannas RI  PPSA Tahun 2017 terkait dengan program SDM Unggul – Indonesia Maju di Jakarta, Minggu (25/08/2019).

Ketua Umum Ikatan Alumni Jerman (IAJ), Komang Wirawan menegaskan bahwa substansi dari dari pendidikan perguruan tinggi salah satunya adalah mampu menjawab kebutuhan dunia kerja Indonesia atas SDM Unggul.

Loading...

“Tanpa mengurangi rasa hormat, sebagian besar perguruan tinggi Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja Indonesia. Pengangguran dengan kualifikasi pendidikan lebih tinggi terjadi karena para lulusan fresh graduate tidak dapat bekerja dan akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi,” ujar Komang Irawan.

Permasalahan yang terjadi katanya, adalah, pendidikan yang lebih tinggi belum tentu menjamin lulusannya memasuki dunia kerja dan kemudian menghasilkan pengangguran elit.

“Keberhasilan perguruan tinggi adalah ketika lulusannya memenuhi link and match antara dunia pendidikan dan industri. Di Jerman, terdapat Perguruan Tinggi Technische Hochshule Rosenheim (THR) yang memiliki Fakultas Holztechnik und Bau atau Teknik Perkayuan dan Bangunan. Peran Fakultas ini yang pada dasarnya mirip-mirip vokasi di Indonesia,” ujar Komang Wirawan.

Menurut Ketum IAJ itu,  visi perguruan tinggi Jerman itu membentuk mahasiswa yang menguasai  teknologi pengolahan kayu dan bangunan. Mahasiswa praktik kerja di industri selama 6 (enam) bulan dengan mentor di tempat praktik sehingga mengenal dengan baik teknologi yang digunakan, sistem kerja dan problematika di industri.

Selain itu, lulusan dari perguruan tinggi ini menjawab kebutuhan para insinyur (engineer) yang diakui siap kerja oleh industri dan dunia internasional, meneliti serta  meningkatkan teknologi pengolahan kayu agar prosesnya lebih efisien, hemat energi dan produknya lebih baik, serta mengembangkan produk baru dan aplikasi atau pemanfaatan kayu yang baru.

“THR ini juga melakukan inovasi peralatan dan bahan atau material yg berkaitan dengan pengolahan kayu, dengan visi memberi dampak positif bagi industri kayu khususnya bagi produksi kayu olahan. Setahu saya, Universitas Mercu Buana  telah melakukan link and match model ini dan perlu dicontoh,” ujar Ketum IAJ itu.

Sementara itu, Lina SE mengungkapkan, maju mundurnya pendidikan formal tidak ditentukan oleh kurikulum ataupun banyaknya mata kuliah. Sekalipun dirasa klise, harus diakui dan dipahami bahwa kemajuan pendidikan ditentukan oleh rasa cinta, yakni cinta kepada anak didik, cinta kepada bangsa dan negara serta cinta kepada profesi.  Tanpa konteks ini, para pendidik hanyalah “pekerja” yang melaksanakan kewajibannya berdasarkan pada pola yang telah ditetapkan.

Siap kerja, urai Lina SE lebih lanjut, adalah kata yang mewakili bagaimana seharusnya sebuah perguruan tinggi mengantarkan para mahasiswanya ke gerbang kematangan mental kerja dan ilmu sebelum bekerja. Tidak sedikit perguruan tinggi yang berorientasi pada jumlah lulusan per tahunnya, dosen yang harus memenuhi standardisasi dengan mengumpulkan berbagai sertifikasi dan sementara lulusannya berorientasi pada nilai indeks prestasi (NIP) yang tinggi misalnya di atas tiga (3,0).

“Mindset seperti ini kemudian membuat gap antara dunia kerja dan dunia pendidikan. Yang dijumpai adalah sarjana dengan IP yang tinggi tetapi tidak siap kerja. Atau juga, ilmu yang ditekuni sangat berbeda jauh dengan bidang yang dimasuki.  Visi ke depan pendidikan Indonesia ke depan harus dilandasi sikap cinta dari civitas academica. Saya belum tahu, apakah kita sudah pernah mensurvei, perguruan tinggi mana saja yang menghasilkan sarjana yang menganggur ? Dan, atau motivasi seorang fresh graduate yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2, adakah kaitannya dengan link and match?” ujar Lina SE.

Adalah penting, masih menurut Alumnus Lemhannas PPSA itu, Indonesia perlu mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia dengan melihat pola pendidikan di perguruan tinggi. Dan, dalam konteks ini, Universitas Indonesia (UI) yang menjadi salah satu barometer perguruan tinggi di Indonesia, perlu melihat Indonesia jauh ke depan dan  mengaitkannya dengan  pemilihan rektor baru untuk masa bhakti 2019-2024.

“Di Malaysia sudah diterapkan 3 (tiga) plus 1 (satu) yakni kuliah tiga tahun dan magang di  dunia kerja satu tahun. SDM Unggul yang dicanangkan oleh Pak Jokowi harus dilihat sebagai titik tolak mengurangi angka pengangguran, memperbanyak penciptaan lapangan kerja baru khususnya wirausaha, dan mengubah pola ajar-mengajar di perguruan tinggi,” ujar Lina SE.

Sebagai pengusaha, Lina mengaku, dirinya melihat Arissetyanto Nugroho, Rektor Universitas Mercu Buana (UMB) dua periode tahun 2010 dan 2018 memiliki visi LAM  dengan pengalaman yang telah terbukti di UMB. Dia memiliki pengalaman sebelum yang lain memulai karena rasa cintanya kepada mahasiswa, negara dan bangsa, serta profesinya sebagai pengajar.

Arissetyanto berharap dapat mengurangi tingkat pengangguran dengan cara menyiapkan para mahasiswa bermental siap kerja. (Very)

Artikel Terkait