Bisnis

Ekonomi Terus Anjlok, Rizal Ramli: Ini Berbahaya, Indikator Krismon 1998 Kayak Gini

Oleh : Rikardo - Sabtu, 09/11/2019 10:02 WIB

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli (Foto: RMOL.id)

Jakarta, INDONEWS.ID - Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2019 sebesar 5,05 persen secara year on year. Sedangkan pertumbuhan ekonomi triwulan II terhadap triwulan I 2019 terhitung sebesar 4,2 persen disebabkan faktor ekonomi makro yang terus menurun dalam beberapa waktu terakhir.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini merosot di kisaran angka 4,5 Persen.

"Kami ingin mengatakan bahwa tahun ini ekonomi Indonesia akan makin nyungsep, pertumbuhan ekonominya paling hanya 4,5 persen," kata mantan Menteri Keuangan era Presiden Abdurahman Wahid di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin 12 Agustus 2019.

Adapun faktor ekonomi makro yang terus menurun seperti current account defisit (CAD) merosot ke US$ 8 miliar. Menurut Rizal, hal ini harus menjadi perhatian pemerintah jangan sampai kondisi ini membuat Indonesia harus mengalami krisis seperti 1997 dan 1998.

"Indikator makro menunjukkan makin merosot. Grafik CAD makin merosot sampai terakhir US$ 8 miliar. PDB juga meningkat lumayan besar dan ini membahayakan. Dulu juga terjadi 1998 kayak gini," ujarnya

Rizal mengatakan, bahwa apa yang dia sampaikan bertujuan untuk mengingatkan kepada pemerintah untuk mengantisipasi. Namun, menurutnya pemerintah selalu membantah kondisi perekonomian Indonesia masih baik.

"Cuman seperti biasa pejabat kita kepedean. Sibuk bantah-bantah, bukan malah mencari solusi," tambahnya.

Rizal menambahkan, pemerintah ke depan harus memperbaiki seluruh komponen ekonomi makro agar pertumbuhan semakin besar. Selain itu, dia juga meminta pemerintah tidak menjadikan ekonomi sebagai proyek untuk kepentingannya sendiri.

"Saya ingin mengatakan bahwa ekonomi bukan proyek. Mohon maaf, bukan hanya itu, tapi indikator lain juga seperti daya beli, pekerjaan dan macam-macam. Kalau hanya proyek bisa jebol nanti," ucap Rizal.

Selanjutnya, Rizal Ramli juga membandingkan neraca dagang Indonesia yang mengalami defisit. Rizal menilai situasi ini terbalik karena menurutnya negara ASEAN lain mengalami surplus seperti Myanmar dan Thailand.

"Diprediksi padahal ini semua bisa diperkirakan," tutupnya.

Loading...

Artikel Terkait