Nasional

Membaca Konspirasi Tangisan Para WNI ISIS: Rindu Tanah Air atau Ingin Pindah Basis?

Oleh : Rikardo - Sabtu, 08/02/2020 10:30 WIB

Ilustrasi WNI anggota ISIS (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Rencana pemulangan WNI Kombatan ISIS oleh pemerintah yang didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan sebaiknya ditelaah lebih dalam dan lebih seksama lagi. Pasalnya, mereka ini adalah para warga negara yang secara sukarela, tahu dan mau ingin melepaskan diri dari kewarganegaraan Indonesia dan memilih sebuah negara dengan sistem khilafah.

Pengamat militer dan intelijen Universitas Indonesia, Connie Rahakundini, mengatakan, orang berpikiran normal dan waras pasti menolak rencana kepulangan 600-an eks anggota The Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) ke Indonesia.

“Karena sebagai mantan anggota jaringan teroris internasional, para eks anggota ISIS pasti akan menjadi sumber masalah sosial yang menciptakan instabilitas keamanan tersendiri setelah dipulangkan ke Indonesia,” kata Connie Rahakundini, Jumat, 7 Februari 2020.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimmly Assidiqie, menolak keras kepulangan eks ISIS dengan dalih apapun. Demikian pun Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengaku, secara pribadi menolak kepulangan 600-an eks anggota ISIS.

“Para eks anggota ISIS, itu, telah berkhianat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di antaranya dengan membakar buku paspor Indonesia, setelah mengklaim dirinya bagian dari pasukan ISIS. Payung hukum penolakan, sudah digariskan di dalam undang-undang terorisme terbaru,” kata Connie Rahakundini.

Menjadi pertimbangan pemerintah adalah soal beberapa kasus pembooman yang terjadi di Tanah Air semuanya dilakukan oleh para anggota ISIS baik yang masih aktif maupun yang eks kombatan.

Sekadar mengingatkan pemerintah agar tidak salah langkah mengambil kebijakan. Sebab, perlu dipelajari betul konspirasi tangisan para WNI Eks ISIS yang mengaku rindu pulang ke Tanah Air.

Pertanyaannya, benarkah mereka ingin pulang atau mereka sedang di-stir untuk membangun narasi-narasi tersebut, yang ternyata tujuannya adalah agar ISIS bisa menduduki Indonesia.

Sebelumnya, pada tahun 2018 lalu, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu kala itu mengungkapkan ada upaya kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memindahkan basisnya di Asia Tenggara dari Marawi di Filipina ke Indonesia.

Hal itu diungkapkan Menhan saat memberikan pernyataan kepada pers di Jakarta, seperti dikutip dari Tribun.jogja.com Senin (14/5/2018).

Ia mengatakan, pemindahan itu sudah disiapkan dengan matang oleh para simpatisan ISIS di Indonesia. Sebab pemindahan tersebut adalah perintah dari pimpinan ISIS di Kabul, Afghanistan.

"Kenapa begini (aksi teror di Surabaya), kalian harus tahu di dalam perintah dari Kabul, mereka akan memindahkan Marawi ke sini," ujarnya.

Seperti di ketahui, pada akhir 2017 lalu, ribuan milisi ISIS kabur ke Afghanistan setelah mendapatkan gempuran dari militer Suriah yang didukung Rusia.

Operasi Our Eyes

Menhan mengatakan bahwa informasi yang dia dapat berasal dari kerja sama operasi enam negara dengan sandi Our Eyes. Enam negara itu yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Filipina, dan Singapura.

Forum ini merupkan kerja sama untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme di kawasan Asia Tenggara melalui pertukaran informasi strategis.

Operasi Our Eyes mengadopsi strategi intelijen Amerika Serikat dengan negara barat lainnya yang melibatkan kerja sama pertahanan dan militer untuk menangani terorisme.

"Tujuannya sekarang adalah polisi dan tentara, itu perintah dari sana (ISIS di Afganistan). Sekarang itu hebatnya Our Eyes harus memberikan informasi kepada saya. Ini gunanya," kata Menhan.*(Rikardo). 

 

Loading...

Artikel Terkait