Kenali Manfaat Selfie, Tapi Hindari Risikonya

Oleh : very - Rabu, 27/12/2017 09:46 WIB


Foto selfie di tempat pariwisata. (Foto: Kompas.com)

Jakarta, INDONEWS.ID - Selfie atau mengambil foto diri secara mandiri dan membagikan melalui media sosial sudah merupakan budaya masyarakat zaman “now”. Tujuannya pun bermacam-macam dan dianggap sebagai upaya pengembangan psikososial.

Gaya saat berselfie juga beraneka ragam, dengan mimik wajah yang juga dibuat macam-macam. Ada yang dilakukan sendiri-sendiri, dan ada yang dilakukan secara berkelompok. Biasanya selfie dilakukan dengan riang gembira. Secara psikologi, tersenyum dan tertawa bisa mengurangi tekanan jiwa yang terjadi.  Selain itu selfie juga meningkatkan kepercayaan diri.

Di musim libur seperti saat ini, banyak warga mengunjungi tempat wisata favorit. Dan di tempat tersebut, mereka juga tidak lupa ber-selfie ria.

Kegiatan selfie sudah mendunia dalam 5 tahun terakhir dan semakin meningkat drastis dalam 2 tahun terakhir. Namun, seiring dengan itu, semakin banyak berita kecelakaan yang dialami pelaku saat selfie tersebut.

Menurut peneliti dari Nottingham Trent University, ada 6 motivasi seseorang melakukan selfie, yaitu meningkatkan kepercayaan diri dan menjadi berbahagia setelah melakukan selfie, mencari perhatian, meningkatkan mood, berhubungan dengan lingkungan sekitar, meningkatkan adaptasi mereka dengan kelompok sosial di sekitar mereka serta bisa juga untuk  berkompetisi secara sosial.

Praktisi klinis dan staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan RSCM, Ari Fahrial Syam MD,PhD, FACP mengatakan, di satu sisi selfie membawa dampak positif untuk mental seseorang. Namun, jika selfie dilakukan secara berlebihan sehingga mereka menjadi obsesif untuk selalu mengambil gambar selfie dan melakukan upload, bisa dikelompokan pada gangguan kesehatan yang disebut selfitis.

Selain itu, kata Ari, jika tidak dilakukan secara hati-hati, selfie bisa membuat celaka bagi pelakunya.

Berbagai penelitian dan laporan menyampaikan bahwa terjadi kecelakaan yang membuat pelaku selfie mengalami luka-luka bahkan sampai menyebabkan kematian misalnya jatuh pada satu ketinggian, serangan hewan liar, sengatan listrik, trauma pada kegiatan olahraga karena kurang konsentrasi pada kondisi sekitar saat sedang melakukan selfie.

Sering juga terjadi kecelakaan lalu lintas karena pelaku melakukan selfie saat mengendarai kendaraan.

Oleh karena itu, Ari menganjurkan agar tidak melakukan selfie ketika berada di ketinggian,  saat sedang berolah raga, sedang berada di sekitar hewan liar. Bahkan di beberapa Negara, katanya, masyarakat dilarang melakukan selfie saat mengemudi dan  saat sedang berjalan kaki.

Dr. Janarthanan Balakrishnan membagi penyakit selfitis, yaitu seseorang yang sudah mengalami kecanduan untuk melakukan selfie, atas 3 kelompok. Pembagian ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan di India, salah satu negara dengan angka kematian tertinggi yang berhubungan dengan selfie.

Pada penelitian tersebut, 34 % responden mengalami selfitis borderline, 40.5% mengalami selfitis akut dan 25.5 % mengalami selfitis kronis. Perlakuan pengambilan selfie secara obsesif lebih banyak pada laki-laki mencapai 57,5 % dibandingkan pada wanita yang hanya 42.5%. Penelitian ini juga mendapatkan bahwa kelompok umur 16-20 tahun lebih berisiko terjadinya selfitis. Sembilan persen responden mengambil selfie lebih dari 8 kali dalam sehari dan sekitar 25 % membagi sedikitnya 3 gambar ke sosial media setiap hari.

Selfitis sebagai suatu penyakit juga dibagi menjadi 3 tingkat penyakit:

  1. Boderline: mengambil gambar selfie sebanyak 3 kali dalam sehari tetapi tidak di posting ke sosial media.
  2. Akut, mengambil foto selfie sebanyak 3 kali dalam sehari dan mempostingnya seluruh fotonya ke sosial media.
  3. Kronik, jika keinginan membuat foto selfie tidak terkendali dan memposting ke sosial media lebih dari 6 kali per hari.

Ari mengatakan, seiring berjalannya waktu dan semakin banyak dan seringnya orang melakukan selfie, akan lebih banyak lagi peneliti untuk melakukan penelitian seputar  selfie. “Selfie di tempat rekreasi atau saat ada acara  masih dianggap wajar, tetapi tentu tetap harus berhati-hati dalam pengambilan gambar selfie. Selfie ternyata bisa menyebabkan ketagihan atau adiksi dan bisa menyebabkan penyakit selfitis,” ujarnya.

Perkembangan teknologi gadget yang semakin canggih, dengan kualitas gambar dan modifikasi gambar yang baik, mendorong selfie kian populer dan mendunia. “Tetapi tetap kita harus menyikapi dengan bijaksana dan proporsional dalam melakukan selfie. Tetap harus fokus dan aktifitas selfie ini tidak  mengganggu aktifitas rutin kita sehari-hari,” pungkas Dokter Ari. (Very)

 

Artikel Lainnya