Oleh : Birgaldo Sinaga
Sudah hampir seminggu saya berada di Kota Medan. Tadinya tujuan saya hanya menjadi pembicara di tiga komunitas relawan. Berbicara tentang kompetisi Pilkada Sumut dan bagaimana sebenarnya gerakan relawan itu.
Rencana tiga hari di Medan berubah. Ada banyak PR yang harus saya kerjakan. Saya mengira kawan-kawan relawan di Medan sudah matang dalam dunia voluntir. Tebakan saya meleset. Hampir semua kebingungan dalam bergerak. TIDAK ADA DANA !! Bagaimana bisa bergerak ? Begitu keluh semuanya.
Benar saja, sudah 4 minggu lebih kawan-kawan relawan ini melempem. Semangatnya tinggi, tapi tidak tahu bagaimana caranya bergerak. Ujung-ujungnya diam bahkan lebih sedih lagi mulai menyesali keadaan. Merembetlah sesal diri dan sesal keadaan.
Perlu waktu tiga empat hari saya memotivasi kawan-kawan di Medan. Karakter manja, ada duit baru bergerak susah diubah. Tak ada uang bensin jangan harap mereka bisa bergerak. Kertas minyak kertas basah, tak ada uang minyak gimana bergairah. Begitu pantunnya.
Sepintas argumen ini benar. Tidak bisa dipungkiri no money no talk. Tak ada uang jangan bicara. Di dunia bisnis manapun kredonya ya begitu. Dalam dunia pacaran juga begitu. Ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang.
Tapi saya pikir itu biasa ya. Semua juga begitu. Hellooo...semua orang didunia ini juga bisa bekerja kalo ada uang. Nah, yang luar biasa itu bagaimana bergerak tanpa keluar uang.
"Apakah bisa, gak mungkin bisa?", tanya seorang relawan lalu dijawabnya sendiri sambil melongos.
"Bisa. Sangat bisa!", jawab saya tegas.
"Caranya bang", balasnya mulai ingin tahu.
"Ide. Gagasan. Imajinasi", jawab saya cepat.
Gagasan mencari uang dengan swadaya mandiri. Kita relawan punya tenaga dan waktu tapi kita tidak punya uang. Di sisi lain banyak orang punya uang tapi tidak punya waktu dan tenaga.
Inilah yang bisa kita kombinasikan. Dua modal ini bertemu saling melengkapi. Tujuannya sama memenangkan calon gubernur wakil gubernur pilihan kita. DJOSS.
"Pernah mendengar energi potensial ? Tahukah kalian apa energi potensial itu?", tanya saya sambil memandang satu persatu wajah mereka.
Energi potensial tidak akan menjadi potensi jika tidak kita ubah menjadi energi gerak/kinetik.
Semua kita punya energi potensial. Ada yang jago bicara, jago konsep, jago di lapangan, jago disain grafis, jago menulis dlsb. Itu energi potensial.
Tapi semua energi potensial itu tidak akan berarti jika tidak kita dilepaskan.
Seperti air terjun. Itu energi potensial yang besar. Tapi kalo tidak kita gerakkan untuk memutar kincir/turbin maka energi air terjun itu tidak ada guna.
Air terjun itu bisa memutar kincir atau turbin. Turbin itu akan menghasilkan energi listrik. Energi listrik dari pembangkit itu dialirkan melalui kabel listrik tegangan tinggi lalu melewati gardu induk lalu dibagi ke pelanggan.
Energi listrik ini bisa kita pakai untuk banyak hal. Air con, TV, Kulkas, Setrika, Penerangan dlsb. Juga bisa membuat kita charge hape.
"Nah, sekarang apa energi potensial yang kamu miliki?", tantang saya sambil mata saya setengah melotot.
"Aku bisa disain grafis", jawab seorang relawan cewe mulai nampak antusias.
"Aku bisa jual produk ", balas seorang relawan lagi.
Saya menantang anak-anak muda Medan yang saya temui itu untuk berani melepaskan energi potensial yang mereka miliki. Saya ingatkan kepada mereka bahwa setiap gerakan dan aksi Baja Djoss tidak ada yang mensponsori atau punya toke.
Kita berdikari mandiri dengan swadaya. Itu sebabnya, saya mengajak mereka berpikir dan bertindak agar bisa menjadi relawan sejati. Saya wanti-wanti bahwa Baja Djoss tidak akan pernah meminta bantuan ke Timses atau Paslon.
Bagaimana caranya kita menggalang dana?
Kita cetak kaos Djoss, merchandise, buku atau apa saja.
Inilah mata rantai kita bergerak. Seperti petani menanam padi, padi dijual beli pedati, pedati dipakai alat angkut dst.
Menjadi relawan itu kuncinya bukan soal uang, tapi soal militansi pada gerakan untuk meraih kemenangan.
Lakukan apa yang kita bisa. Syaratnya terukur dan bisa tercapai.
Kita harus fokus pada agenda kerja aksi relawan. Kita fokus pada aksi dan juga perekrutan relawan baru.
Kita semua harus satu dalam gerak pikir dan gerak langkah dengan mengarahkan semua pikiran, tenaga dan perjuangan kita pada kemenangan Djoss.
Untuk itu, kita tidak punya banyak waktu lagi selain bergerak dengan cerdas dan lincah dengan mensinergikan semua potensi yang kita miliki.
"Kalian sanggup untuk bergerak ??", tantang saya.
"SIAPP SEMANGATTT!!" ujar mereka serempak.
"Kalian Siapa!!"
"Kita BAJA DJOSS!"
"Kalian Mau Apa!!"
"Kita Mau Menangkan DJOSS!!"
"Bagaimana Caranya!!"
" KERJA..KERJA..KERJA"
Mantabbb
Salam perjuangan Semangat BAJA DJOSS Menang
Birgaldo Sinaga