Nasional

Indonesia Punya Minyak Sawit, Sangat Potensial untuk Kebutuhan Energi

Oleh : Syailendra - Jum'at, 12/04/2019 18:30 WIB


Minyak Kelapa Sawit

Indonews.id - Minyak sawit mempunyai potensi yang begitu besar untuk terus dikembangkan pemanfaatannya, salah satunya digunakan untuk campuran solar (Biodiesel) atau B20, bahkan sudah menjadi mandatory oleh pemerintah sejak September 2018.

Selain dapat mengurangi angka impor minyak (fosil) mentah, pemanfaatan minyak sawit (nabati) juga dapat defisit neraca perdagangan Negara. Jika melihat ke belakang, Indonesia memang pernah menjadi negara pengekspor minyak bumi sehingga masuk menjadi anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Namun, sejak 2008 Indonesia memutuskan non-aktif dari keanggotaan OPEC karena sudah tak mampu lagi mengekspor minyak mentah (fosil).

Kendati sudah tidak lagi menjadi pengekspor minyak mentah (fosil), tetapi Indonesia masih memiliki minyak sawit bahkan saat ini menjadi produsen terbesar di dunia. Minyak sawit (nabati) yang mempunyai beragam potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Salah satunya untuk pemenuhan kebutuhan energi.

Tatang H.Soerawidjaja, Ketua Umum Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI) mengatakan, Bahan Bakar Nabati atau Biofuel terbagi menjadi dua kelompok yaitu tipe oksigenat (Biodiesel atau FAME, Fatty Acids Methyl Ester), Bioetanol dan tipe drop-in (biohidrokarbon) yaitu dapat dikembangkan menjadi Bio-Hydrofined (BHD) atau Green diesel, Biogasoline atau Green gasoline (bensin nabati), dan Bioavtur atau Jet Biofuel.

Bahan Bakar Nabati (BBN) Oksigenat, Biodiesel dibuat dengan proses metanolisis minyak-lemak oleh metanol dan gliserol. Minyak nabati (sawit) merupakan bahan mentah untuk BBN terbaik karena kadar asam-asam lemak jenuh dan kadar asam oleat berimbang, kadar asam-asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) minimal.

BBN Oksigenat seperti biodiesel generasi 1 (FAME) dan Bioetanol hanya bisa dicampurkan ke dalam BBM padanannya sampai kadar 10, 30%. Bagi Indonesia, ini sangat membantu mengurangi peningkatan impor solar dan bensin, namun hanya 10, 30%. sisanya tetap impor dan menyebabkan tekanan berat terhadap neraca pembayaran negara.

“Berbeda dengan BBN tipe drop-in yang merupakan Bahan Bakar hidrokarbon cair dari sumber nabati yang dapat dicampurkan tanpa batasan kadar (bisa mencapai 100%),” terang Tatang.

Artikel Lainnya