Oleh: Gerard N. Bibang*)
Kiriman Pembaca, INDONEWS.ID - Untuk merangkum 64 tahun hidupnya, tiada yang lebih pas selain dengan empat baris bait terakhir Sajak Sederhana Untuk-MU, karya Emha Ainun Nadjib berikut ini:
/Tuhan, ambillah aku/ sewaktu-waktu/ kematianku hendaknya sederhana saja/ orang-orang menguburku hendaknya juga dengan sederhana saja/
Cara kepergiannya hari Senin tanggal 24 Februari lalu, menjelang subuh di RSU Kupang ketika semesta Flobamora sunyi menyongsong mentari, menunjukkan kesederhanaan itu. Ialah sebuah kematian dalam sunyi.
Sang penempuh jalan sunyi itu telah bertabur Sabda Allah hingga ke tebing-tebing semesta. Karena ia menyadari hanya dalam sunyi, makna keramaian dapat dikais agar tidak mendua mencintai Sang Sabda yang telah ia ikrarkan kekal dalam Serikat Sabda Allah.
Itulah Mansi, demikian kami teman-teman kelasnya memanggilnya sejak di Ledalero. Ia pergi justru di puncak optimisme kami semua atas kesehatannya. Seakan ia berkata: “teman, aku baik-baik saja, aku sekarang pergi menghadap Bapa di surga.”
Teman kelasnya di Kupang, Welly Parera, Willem Openg, Pater Gregor Neonbasu SVD, Sirilus Sungga, Christo Blasin, sejak ketibaannya di RSUD Kupang, dua minggu lalu, rutin menjenguknya dan selalu memberikan updates ke WA group angkatan tentang sakitnya, yang umumnya berintikan satu pesan: “teman kita ini sakit berat namun tetap ceria dan tersenyum.”
Ketika tiba di Bandara Internasional Eltari, teman kami Welly Parera menjemputnya, merangkulnya dengan penuh haru dan membantu mendorongnya di atas kursi roda tapi ini yang mengagumkan. Pater Herman meminta Welly untuk jangan terlalu bersedih. Kepada telinga teman kelasnya itu, ia berbisik: "Teman e, su tidak tahu lagi sakit apa ini."
Candle Light Phenomenon
Cara kematian di puncak optimisme seperti ini menunjukkan sisi lain kesederhanaannya.
Kematiannya ibarat candle light phenomenon. Yaitu lilin yang apinya membesar dan memancarkan cahaya sangat benderang, sebelum akhirnya padam. Namun tetap memberikan ruang sebesar-besarnya kepada penyelenggaraan Allah Tritunggal Mahakudus untuk membikin lilin benderang apinya, kemudian tidak padam. Atau lilin tidak pernah membenderang tapi lantas padam.
Sakitnya berkepanjangan tapi tanpa kunjung maut menjemputnya. Sejak tiga tahun terakhir, sudah tidak terhitung kapan ia bolak balik Semarang Ende untuk rawat inap. Sampai tak terhitungnya, kami teman-teman kelasnya merasa tidak perlu bertanya posisinya di mana. Yang penting, ia sehat. Ia pun kerap menyempatkan diri menanggapi postingan teman-teman kelasnya, baik yang serius maupun yang banyolan. Ia menikmati persahabatan kami dalam arti yang sebenar-benarnya.
Karena candle light phenomenon, maka yang tampak padanya malah biasa-biasa dan baik-baik saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seakan tidak menanggung sakit, selalu mengulum senyum dan gelak tawa, yang lantas membuat konfrater dan umatnya tidak direpotkan dengan kadar derita sakit yang dialaminya dan takaran jenis kesengsaraan yang menimpanya.
Menurut saya, hal ini pula-lah yang membuat umatnya di Onekore dan kami teman-temannya tidak perlu mengetahui atau turut menghayati deritanya. Keyakinan saya mengatakan, selama ini memang ia telah bahagia di dalam anugerah kemuliaan yang diterimanya dalam derita.
Maka jangan terheran-heran ketika ia dengan santai dan ceria melewati gang dan lorong sempit, mendaki lereng Kengo dan Wongge untuk menghantarkan komuni kudus bagi mereka yang sakit, yang adalah rekan-rekan sakitnya. Tidak mencengangkan ketika dengan happy ia merayakan misa secara berkala untuk orang sakit, jompo dan difabel di lingkungan parokinya Santo Yosef Onekore.
Bahkan anak-anakya OMK bersaksi tentang cintanya mengantarkan mereka mengikuti kegiatan di paroki lain, padahal anak-anaknya ini tahu bahwa Bapa Pater mereka sedang sakit. Namun tak tampak setetes pun keringat lara melumer dari raut wajahnya.
Bunda Maria
Dari mana ia mendapatkan kebahagiaan itu? Mungkin pengalaman saya dan beberapa teman bisa menjadi jawaban. Sejak novisiat awal tahun 80-an di Ledalero, Mansi adalah satu dari beberapa teman yang ‘reguler’ sakit. Artinya, sakit sudah menjadi bagian dari dirinya dan kesehariannya. Kami pun sudah maklum.
Pergi pulang Rumah Sakit Lela, baik untuk kontrol dan rawat inap, yah, bukan lagu baru. Perilakunya tidak berubah sedikit pun. Biasa-biasa, senyum dan tawa, bercanda, berdoa dan bekerja.
Pernah suatu tengah malam, tahun 1985, di Wisma Fransiskus yang baru selesai dibangun dan ditempati oleh tingkat empat yang sudah ujian negara dan mempersiapkan diri untuk pergi TOP (Tahun Orientasi Pastoral).
Di luar kamar tengah malam, di lantai bawah Wisma Fransiskus, saya mendengar seokan bunyi sandal dan sedikit mendengus seperti kesakitan. Saya keluar. Eh, Mansi ada, sedang keluar masuk gang.
Belum tidur ko
Aeh belum, jawabnya. Lalu dia mendekat:“teman, saya sakit, perut mengeras, tadi keluar masuk, saya pikir karena kurang udara segar”
Gimana, antar ke Lela ka?
Kau ini tengah malam begini
Lalu kami dua mengetuk kamar Frater Sirulus Sungga di lantai satu. Kami omong sebentar dan Sirilus katakan bahwa jangan langsung ke Lela. Sebaiknya beritahu dulu Pater Guido (Guido Tisera SVD, prefek tingkat IV). Mansi ke kamarnya sendiri sementara Sirilus dan saya ke Pater Guido, di lantai tiga. Rupanya Pater Guido sudah lelap. Setelah 30 menit, dia bangun.
Ada perasaan kurang enak selama menunggu Pater Guido bangun. Pasalnya, Sirulus ajak diskusi dengan suara keras.
“Gerardus, ntar kau yang omong e”
“Kau ka”
“ Aeh, kau yang omong, tadi kau yang bawa Mansi to, ganggu orang punya tidur saja”
Pater Guido membuka pintu:
“Pater, frater Herman sakit berat, perutnya keras”
“Terus...”
“Sebaiknya bawa ke Lela”
“Iyah pater, kasihan dia, tidak bisa tidur, “ sambung Sirilus
“Tunggu besok pagi saja” jawab Pater Guido, datar dengan nada setengah kesal
“Bunda Maria bisa beri dia hidup sampai besok pagi”
Kami pamit. Lalu terus ke kamarnya Mansi. Kami buka dan ia sedang tergolek sakit. Tanpa basa basi, saya langsung beritahu: “Teman, Pater Guido bilang, besok saja, Bunda Mari beri kau hidup sampai besok pagi”. Sirilus cubit saya dari belakang tanpa tahu maksudnya apa.
Kami duduk sebentar dan Sirilus menawarkan bantuan: “Sakitnya di mana, Mansi, kaki bisa dipijit ka biar kurang sedikit sakitnya.” Jawaban Mansi sangat mengagetkan: “Kamu dua ini, ada tidak ada di sini, saya kan masih hidup, pulang tidur sudah.”
Kami pulang. Di luar kamar sambil menuju kamar masing-masing, Sirilus menahan saya:
“Kau ini bodoh betul, tidak mau diplomasi sedikit, kasi tahu lurus-lurus saja Pater Guido punya omong”
“Memang kenapa”
“ Tadi itu, tidak perlu beritahu Bunda Maria ka, bilang saja besok pagi to’
“Aeh, sudah terjadi, mau gimana lagi”
“Jangan bawa-bawa Bunda Maria tengah malam begini, hahahahaha,“ Sirilus ngakak sambil menuju kamarnya.
Besok pagi. Frater Yosef Situ (kini misionaris di Filipina), kurir kami, sudah lengkap dengan jacket dan kunci sepeda motor, bersama Rilus dan saya ke kamarnya Mansi.
“Ayo siap sudah, Mansi, ke Lela” kata frater Yosef Situ
“Mana pakaian yang mau dibawa,” sambung Sirilus
“ Aeh kamu ini, saya sudah sehat ka, sakit itu hanya tadi malam”
“Sudahlah, rawat inap di Lela saja” kata saya
Dengan tertawa, Mansi bilang: “kamu-kamu ini tidak lihat saya ka, saya sudah sehat, masih hidup. Betul Pater Guido bilang e... Bunda Maria kasi saya hidup pagi ini”
“Jadi gimana,“ tanya Yosef Situ dengan suara kesal
“Yah, jangan bawa saya ke Lela karena alasan sakit, kau ini Yosef, sekolah tinggi-tinggi tidak ngerti-ngerti juga”
“Terus gimana, saya sudah siap e”
“Okey, saya mau ke Lela tapi bukan alasan sakit tapi untuk cek kesehatan, dua hal berbeda e, hahahahahaha” Mansi ngakak cukup keras.
“Aeh substansinya sama, pokoknya ke Lela” sambung Sirilus
“Sungga, Sungga,” jawab Mansi: “ Cek kesehatan dan sakit itu beda.”
“ Ya sudah, pokoknya cek kesehatan tanya sama dokter Conchita” kataku.
Dengan kesepakatan alasan itu, pergilah Mansi ke Lela naik sepeda motor bersama Yosef Situ. Sirilus dan saya termenung sambil melihat laju sepeda motor ke arah pohon ketapang menuju Lela.
Sirilus bergumam: “Mansi ini masih sempat-sempatnya keras kepala bilang tidak sakit, sudah itu bikin lucu lagi”
“Salahnya di mana?”
“Yah benar dia, masih sebut Bunda Maria lagi, tapi sebetulnya siapa yang sakit e: dia atau kita”
Hahahahahahahaha, hahahahahaha. Kami serentak tertawa dan bubar.
Ternyata memang ia ditahan rawat inap di Lela dan sore harinya, kami membawa pakaiannya ke sana.
Senyum Dan Tawa
Inilah Mansi yang kami kenal. Kami menganggapnya sakit tapi ia menganggap dirinya sehat menurut definisinya sendiri, tentu saja. Dan ini yang mengagumkan. Ia mengolah semuanya dengan senyum dan tawa, dengan mentertawakan sakit dan deritanya.
Seiring dengan perjalanan waktu dan usia, akhirnya saya sadar bahwa apa yang ia lakukan dulu itu, seratus persen benar. Bukankah mentertawakan sakit, derita, kebanyolan, kekonyolan, kebodohan adalah tingkat kemantangan kepribadian dan iman yang tinggi? Berpuluh-puluh tahun kemudian baru saya menyadarinya tapi Mansi sudah mempraksiskannya di era itu, medio 80-an. Sejak saat itu, ia telah enjoy di dalam anugerah kemuliaan yang diterimanya dalam sakit dan derita.
Maka ketika sekarang ia pergi tanpa arah kembali dan kamu datang kepadaku bertanya siapakah Pater Herman, maka ini jawabanku:
Ia adalah putra Sabda yang mewartakan cinta dengan jalan senyum dan tawa. Melalui jalan ini, hendak ia katakan kepada kita: jika engkau berpikir, berpikirlah efisien. Janganlah menghabiskan tenaga dan waktu untuk kesementaran, melainkan untuk keabadian. Janganlah pula menumpahkan profesionalisme untuk menggapai uang, harta, rumah besar, nama besar dan sebagainya, yang toh tidak akan menyertaimu selama-lamanya. Ini adalah kesederhanaan dalam arti yang sedalam-dalamnya dan sebenar-benarnya.
Dalam senyum dan tawa, bahagia dan nikmat tidak selalu berarti kalau karier sukses, pendapatan berlimpah, rumah besar, nama besar dan saham bertebaran di mana-mana. Bukan, bukan!
Nikmat dan bahagia ialah menjadi orang yang merangkum sebanyak mungkin orang. Bahwa yang dimaksud keluarga bukanlah sebatas sanak famili dan koneksi, melainkan meluas ke sebanyak ngkin saudara-saudara sesama manusia. Bahwa keberlimpahan kita adalah keberlimpahan banyak orang. Kebahagiaan kita adalah bank masa depan orang banyak.
Dengan senyum dan tawa, ia menekuni jalan sunyi, di atasnya kebersahajaan dan kesederhanaannya memancarkan cahaya bagi siapa saja yang di dalam hatinya penuh kegelapan. Ia adalah candle light.
Terimakasih imamku, temanku. Engkau pergi persis di saat-saat kami, teman-teman, saudara dan saudarimu masih fakir luar biasa terhadap kualitas hidup, ketika kami memompa-mompa diri mengejar dunia yang kami sangka surga.
Salam kasih sayang kepada teman-teman kita yang sudah lebih dulu menunggumu di sana: Gorys Jehanus SVD, Patris Meko SVD, Frater Albert Thius, Sdr Philipus Wuring. Perjalanan kami di bumi belum selesai. Sertailah kami selalu. Ke arah gereja Onekore, Ende, kami berdua temanmu, Dr Alex Seran dan saya, menyertaimu dengan doa dan air mata dari lantai 12, Gedung Karol Woytila, UAJ Jakarta.
Sampai jumpa di surga!
***
(tmn aries, jkt, selasa, 25.2.’20)
*)Gerard N. Bibang adalah dosen sekaligus penyair yang menahbiskan dirinya sebagai "petani" humaniora tinggal di Jakarta
NB: Pater Herman Sina, SVD merupakan Pastor Paroki St. Yoseph Onekore Ende. Ia meninggal dunia di usianya yang ke-65 tahun di Rumah Sakit W. Z Yohanes Kupang, Senin (24/02/2020) dini hari.
Pater Herman meninggal karena sakit. Imam Katolik Kongregasi Serikat Sabda Allah ini menjalani perawatan di Rumah sakit St. Elisabet Semarang tahun 2019 silam.
Pater Herman lahir di Kampung Pomatoyo, Desa Romarea, Kecamatan Nangapanda Kabupaten Ende pada 14 Mei 1955. Beliau bertugas sebagai Pastor Paroki Onekore selama 9 tahun. Sebelumnya, ia berkarya sebagai Rektor SMAK Syuradikara Ende. Ia juga pernah menjalankan karya misi di Pulau Adonara.