Bisnis

Anak Usaha SoftBank Gagal Dapat Pendanaan, Rizal Ramli: Model Bisnis SoftBank Ugal-ugalan

Oleh : very - Kamis, 21/05/2020 10:45 WIB

Pendiri sekaligus CEO SoftBank Masayoshi Son. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – SoftBank Group melaporkan kerugian bersih tahun fiskal 2019 sebesar US$ 8,9 miliar atau sekitar Rp 132 triliun. Anak usahanya, Vision Fund 2 pun gagal mendapatkan bantuan pendanaan dari investor.

Pendiri sekaligus CEO SoftBank Masayoshi Son menyampaikan akan menggunakan dana perusahaan induk untuk investasi. "Kami memutuskan untuk menginvestasikan uang kami sendiri. Karena kinerja (Vision Fund) tidak terlalu baik," kata Son dikutip dari Business Insider, Senin (18/5).

Pada tahun lalu, Vision Fund melaporkan kerugian operasional 1,36 triliun yen atau sekitar US$ 12,6 miliar (Rp 189,8 triliun). 

Tahun ini, Softbank membuat proyek pendanaan kelanjutannya yakni Vision Fund 2. Akan tetapi, Vision Fund 2 gagal mendapatkan investasi. "Karena kinerjanya tidak terlalu baik, tentu saja uang untuk Vision Fund 2 tidak dapat diperoleh dari orang lain," ujar Son.

Investor tidak mau membiayai proyek pendanaan Vision Fund 2 karena khawatir dengan portofolio pendanaan sebelumnya, seperti Uber dan WeWork.

Startup berbagi ruang kerja (coworking space) WeWork mengalami kesulitan keuangan setelah batal melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) tahun lalu. Sedangkan Uber membukukan kerugian bersih US$ 2,9 miliar pada awal tahun ini.

Salah satu penyebabnya, karena permintaan layanan transportasinya anjlok akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, perusahaan rintisan yang juga didanai SoftBank yakni OneWeb bangkrut karena pandemi virus corona. Padahal, Masayoshi Son sempat mengatakan bahwa OneWeb merupakan salah satu startup portofolio yang diadalkannya.

Kondisi tersebut menjadikan Vision Fund merugi. Walau demikian, Son mengatakan bahwa kondisi ini bukan berarti tak ada investasi baru melalui Vision Fund. Investasi akan tetap ada, namun tidak seagresif sebelumnya dan perusahaan bakal lebih hati-hati.

Son, ketika mengumumkan pendapatan mengatakan, coronavirus adalah krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dan bahwa beberapa unicorn teknologinya telah jatuh "ke lembah coronavirus."

"Saya yakin beberapa dari mereka akan terbang di atas lembah," katanya seperti dikutip kr-asia.com.

Namun, Son menambahkan, untuk "15 perusahaan berisiko, kami tidak akan memberikan dukungan keuangan untuk menyelamatkan mereka".

Dana SoftBank Vision mengucurkan investasi USD 75 miliar di 88 startup yang saat ini bernilai USD 69,6 miliar pada 31 Maret. Dari 88 investasi ini, 47 investasi telah ditandai pada tahun fiskal ini. Bahkan sebelum krisis turun, dana USD 100 miliar telah berada di bawah tekanan karena telah membukukan kerugian selama dua kuartal terakhir.

Untuk menghadapi situasi genting ini, SoftBank berencana untuk mengumpulkan hampir 1,25 triliun yen (hampir US $ 12 miliar) terhadap sahamnya di Grup Alibaba China. Son adalah salah satu investor awal yang mendukung Alibaba, menghasilkan USD 20 juta dua dekade lalu.

Menurut laporan Reuters, kelompok itu telah berjanji melakukan penjualan atau monetisasi aset senilai USD 41 miliar, yang sebagian akan digunakan untuk membiayai pembelian 2,5 triliun yen (23,2 miliar dolar AS) "untuk menopang harga sahamnya". Pada akhir April, kata laporan itu, pihaknya telah menghabiskan 250 miliar yen (2,3 miliar dolar AS) untuk pembelian saham.

Son lebih lanjut mengatakan, ke depan SoftBank akan mengambil pendekatan yang hati-hati untuk investasi masa depan maupun investasi saat ini. Dia menambahkan bahwa dia tidak ingin menjadi "terlalu pesimis."

Menunjukkan kepercayaannya pada kelompok Oyo, rantai perhotelan India, salah satu perusahaan portofolio bintangnya, ia berkata, “Hotel-hotel kecil yang sedang berjuang dapat bergabung dengan Oyo Group dan memanfaatkan teknologi mereka untuk mendapatkan pelanggan. Itu akan menjadi kebutuhan baru untuk bisnis-bisnis itu”.

Sementara Uber masih menghadapi situasi yang sulit di AS, katanya, Didi di China melihat pemulihan bisnis berbagi perjalanan.

"Saya berharap ini akan terjadi di perusahaan lain juga," tambahnya.

Menanggapi berita tersebut, ekonom senior Rizal Ramli mengatakan, bisnis yang dilakukan oleh SoftBank bukan saja ambruk karena Virus Corona, namun juga karena model bisnisnya ugal-ugalan.

“Bukan hanya karena Corona, tapi model bisnisnya andalkan valuasi ugal-ugalan. Istilah mantan Gubernur Bank Sentral Amerika, Alan Greenspan ‘irrational exuberance’,” ujar Menko Perekonomian era Kabinet Gus Dur itu.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga ditawarkan dana sebesar Rp1.400 T oleh SoftBank saat diterima di Istana Merdeka, Jakarta pada Januari lalu.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden SoftBank Masayoshi Son menyatakan ketertarikannya di depan Jokowi untuk menanamkan modalnya di mega proyek pemindahan Ibu Kota baru di Kalimantan.

"Terima kasih banyak sudah mengundang kami. [...] Saya kira Ibu Kota Jakarta memiliki sejarah penting, dan beberapa hal lain," kata Masayoshi di depan Jokowi waktu itu, seperti dikutip CNBC Indonesia.com.

"Jadi, proyek baru (pemindahan Ibu Kota) yang Anda siapkan saya kira bisa menjadi kesempatan yang bisa kita bicarakan lebih jauh, bagaimana ide-nya," kata Masayoshi.

Presiden Jokowi waktu itu pun secara tidak langsung menjelaskan alasan pemerintah memindahkan lokasi Ibu Kota baru yang terletak di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

"Luas lahan Jakarta sekarang 66.000 hekatre dan jika kita bandingkan dengan lokasi Ibu Kota baru, luas lahannya mencapai 256.000 hektare," kata Jokowi.

Penjelasan Jokowi pun terpotong, lantaran awak media sudah diarahkan keluar dari ruang pertemuan.

SoftBank Corp seperti diketahui, berencana berinvestasi sebesar US$ 100 miliar atau setara Rp 1.400 triliun di lokasi Ibu Kota baru. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta belum lama sebelumnya.

Luhut Pandjaitan menambahkan hampir tak percaya dengan investasi yang ingin dibenamkan SoftBank.

“Hari Jumat, Masayoshi mau ke sini. Karena dia desak saya terus, dia mau investasi hampir US$ 100 miliar. Ya menurut saya too good to be true," ujar Luhut.

Rizal Ramli melalui akun Twitternya, @RamliRizal mengatakan bahwa bisnis Softbank ‘house of cards, based on over-inflated valuations’.

Mantan Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur itu mengatakan bahwa Softbank berhasil mengibul Menko Perekonomian dan Presiden Jokowi.

“Berhasil ngibulin Menko &  @jokowi iming2 invest 1400T. Padahal waktu datang ke Indonesia dia lagi nyari2 investor Indonesia untuk invest di Fund barunya, janji US$ return yg tidak masuk akal. Ditolak. Eh .. malah diangkat jadi penasehat Presiden. Menyanakan diri dengan Jesus. Memang cocok untuk ngurusin Ibu Kota Baru dengan calon Gubernur itu lho,” tuit Rizal Ramli. (Very)

 

 

Loading...

Artikel Terkait